Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Revolusi Belum Selesai di Aljazair

Revolusi Belum Selesai di Aljazair Jutaan Warga Turun ke Jalan Tuntut Presiden Aljazair Mundur. ©REUTERS/Ramzi Boudina

Merdeka.com - Mundurnya Presiden Aljazair Abdulaziz Bouteflika dua hari lalu disambut gegap gempita rakyat yang beramai-ramai turun ke jalan di ibu kota. Massa yang sudah berdemo selama beberapa pekan itu akhirnya berhasil memaksa Bouteflika lengser dari kursi jabatannya selama 20 tahun. Tapi revolusi belum selesai di Aljazair, bahkan baru dimulai.

Rakyat Aljazair kini memasuki tahap perjuangan selanjutnya: menggulingkan sistem pemerintahan oligarki yang sudah mendarah daging. Menurut aturan saat ini, ada waktu 90 hari masa pemerintahan transisi untuk menggelar pemilu baru.

Dikutip dari laman the Guardian, Rabu (3/4), ketika stasiun televisi pemerintah menayangkan Bouteflika, 82 tahun, menyerahkan surat pengunduran diri kepada dewan konstitusi, dia ditemani oleh Abdulkadir Bensalah. Menurut konstitusi, Bensalah yang merupakan ketua parlemen menjadi pemimpin sementara Aljazair sebelum presiden baru terpilih.

001 pandasurya wijaya

Abdulaziz bouteflika ©REUTERS/Louafi Larbi

Tapi Bensalah adalah orang kepercayaan Bouteflika sejak lama dan dia adalah tokoh senior. Dia kerap menggantikan sosok presiden yang lumpuh karena stroke sejak 2013 itu. Dan Bensalah adalah orang yang mendukung Bouteflika untuk berkuasa selama lima periode. Jika dia ternyata ingin menggantikan posisi Bouteflika, seperti yang diduga banyak orang, maka itu akan membuat keadaan makin panas.

Situasi ini diperburuk dengan sosok Liamine Zeroual, presiden Aljazir di era 1994-1999 yang mengklaim dirinya diminta untuk memimpin pemerintahan transisi. Sementara itu, sejumlah menteri Senin lalu sudah ditunjuk oleh orang lingkaran dalam Bouteflika sebagai upaya untuk mempertahankan kekuasaan.

Kalangan reformis di Aljazair sebetulnya sudah meraih banyak keuntungan dengan menggelar unjuk rasa damai dan membuat militer mendukung mereka melengserkan Bouteflika. Panglima Militer Jenderal Ahmad Gaid Salah punya peran dengan mendesak Bouteflika untuk mundur.

Tapi seperti halnya yang terjadi di Mesir ketika Presiden terpilih Hosni Mubarak digulingkan massa demonstran, mengubah sistem bukanlah hal mudah.

Tekanan untuk perubahan terutama datang dari kalangan muda. Meski Aljazair dikenal sebagai negara eksportir minyak dan gas, tapi satu dari empat warga Aljazair di bawah usia 30 tahun, yaitu sebanyak 70 persen adalah pengangguran. Mereka juga masih punya ingatan tentang perang saudara yang menewaskan 100 ribu jiwa pada 1990-an setelah militer mengambil alih kekuasaan dari partai Islamis usai pemilu 1991.

Yang menjadi prioritas Salah saat ini sebagai pimpinan militer adalah mencegah situasi menjadi arena pertumpahan darah.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP