Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rasa kemanusiaan kembali terusik di Suriah, pertempuran memanas di Ghouta Timur

Rasa kemanusiaan kembali terusik di Suriah, pertempuran memanas di Ghouta Timur Serangan udara di Suriah. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Sejak beberapa hari terakhir pasukan Suriah dibantu Rusia menggempur lewat darat dan udara ke kawasan Ghouta Timur di pinggiran Ibu Kota Damaskus. Daerah itu masih dikuasai pemberontak yang didukung Amerika Serikat meski sudah dikepung pasukan Suriah sejak 2013.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan jumlah populasi di Ghouta Timur sekitar 393 ribu jiwa. Pejabat PBB di Suriah Ali al-Zatari mengungkapkan ada 272.500 penduduk yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Laman the Guardian melaporkan, Selasa (26/2), sejumlah saksi mengatakan pertempuran terjadi di beberapa garis depan. Lembaga Pemantau Hak Asasi Suriah (SOHR) mengatakan sedikitnya 14 warga sipil tewas, termasuk tiga anak dalam pertempuran hari Minggu kemarin. Total sudah 530 orang tewas selama sepekan, 130 di antaranya anak-anak.

Sementara pihak militer Rusia menuturkan pemberontak di Ghouta Timur masih terus menyandera warga untuk membombardir Damaskus dan mereka berencana melancarkan serangan rekayasa menggunakan senjata kimia.

"Para pemimpin militan yang menguasai Ghouta Timur di pinggiran Damaskus tengah menyiapkan serangan menggunakan senjata kimia," ujar Mayor jenderal Yury Yevtushenko, Minggu, seperti dilansir laman Russia Today, Senin (26/2).

Hanya beberapa jam setelah peringatan itu, sejumlah laporan muncul menyatakan beberapa orang di Ghouta Timur mengalami gejala serupa serangan gas klorin. Laporan ini diungkap oleh kelompok White Helmets. Serangan senjata kimia itu bertujuan menuding pemerintah Suriah sebagai pelaku.

Pasukan Suriah dan Rusia terus menggempur Ghouta Timur sementara pemberontak membombardir kawasan Damaskus.

Resolusi Dewan Keamanan PBB menyatakan gencatan senjata selama 30 hari harus diberlakukan untuk memberi kesempatan bantuan kemanusiaan. Namun kesepakatan itu gagal tercapai.

serangan udara di suriah

Serangan udara di Suriah ©AFP PHOTO

Juru bicara militer Russia menyatakan selama 24 jam terakhir sedikitnya ada 31 serangan bombardir dilancarkan dari Ghouta Timur ke wilayah pemukiman di Damaskus. Seikitnya 13 warga sipil tewas dan satu tentara Suriah luka dalam serangan itu.

Bagi warga sipil yang terjebak di Ghouta Timur mereka sulit meninggalkan kawasan itu. Sebagian kecil warga yang bekerja sebagai pegawai negeri dilaporkan diberi izin untuk keluar masuk lewat pos pemeriksaan di Wafideen, dekat Douma, meski rute itu cukup riskan untuk dilalui karena pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak.

Pemerintah Suriah belum lama ini menyebarkan selebaran ke Ghouta Timur untuk meminta warga meninggalkan kawasan itu.

Dilansir dari laman IRIN News, menurut lembaga bantuan kemanusiaan didukung PBB, REACH, kelompok oposisi dilaporkan melarang perempuan, anak-anak, dan kaum pria untuk meninggalkan Ghouta Timur. Hanya beberapa orang terpilih saja yang dibolehkan keluar dari Ghouta Timur dan orang yang hanya sekadar memohon izin untuk keluar bisa ditangkap.

Kedua pihak, baik pasukan pemerintah dan pemberontak, kerap memakai warga sipil sebagai sandera untuk bahan negosiasi atau pertukaran tawanan.

Kondisi kemanusiaan di Ghouta Timur kini sangat buruk. Gempuran pasukan pemerintah dan perlakuan kelompok oposisi yang semena-mena ikut memperparah kondisi itu.

Mengutip sumber medis diperoleh IRIN dari pihak oposisi, sedikitnya ada 24 kali serangan ke sejumlah rumah sakit, klinik, dan Pusat Bulan Sabit Merah sejak 18 Februari, termasuk di Douma, Saqba, Jisreen, Harasta, Kafr Batna, dan Beit Sawa.

"Warga sipil korban luka sekarat karena tidak mendapat perawatan segera," kata Marianne Gasser, kepala delegasi Komite Bulan Sabit Merah untuk Suriah dalam pernyataan pekan lalu.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP