Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Qatar diultimatum tutup Al Jazeera dan tekan hubungan dengan Iran

Qatar diultimatum tutup Al Jazeera dan tekan hubungan dengan Iran Kantor pusat Al Jazeera di Doha. ©Reuters/Naseem Zeitoon

Merdeka.com - Empat negara Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab memberi peringatan kepada Qatar supaya segera melakukan 13 tuntutan mereka. Beberapa di antaranya adalah menutup stasiun televisi Al Jazeera dan mengurangi kedekatan dengan Iran.

Dilansir dari laman Reuters, Jumat (23/6), ke-13 tuntutan itu disampaikan buat segera mengakhiri ketegangan diplomasi di antara Qatar dan negara anggota Liga Arab. Di samping permintaan menutup Al Jazeera dan mengurangi kedekatan dengan Iran, Qatar juga didesak menutup pangkalan militer Turki.

Ke empat negara itu juga terus mendesak supaya Qatar memutuskan hubungan dengan organisasi diduga sebagai biang ajaran ekstremis. Yakni Ikhwanul Muslimin, ISIS, Al Qaidah, Hizbullah, dan Jabhat Fatah al-Syam yang dianggap perpanjangan tangan Al Qaidah di Suriah. Di samping itu, Qatar juga diminta menyerahkan orang-orang dianggap sebagai teroris kepada Liga Arab.

Ke empat negara itu memberi tenggat sepuluh hari kepada Qatar buat memenuhi seluruh tuntutan. Jika salah satunya tidak dilakukan, maka kabarnya mereka tidak akan lagi membuka jalur perundingan.

Kuwait sebagai negara penengah juga menyampaikan tuntutan supaya Qatar tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri ke empat negara itu. Kuwait juga meminta Qatar berhenti memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang dari ke empat negara itu yang dianggap sebagai musuh negara.

Motif tuntutan selanjutnya sarat dengan uang. Sebab, Qatar didesak membayar ganti rugi kepada ke empat negara karena kerusakan ditimbulkan akibat kebijakan Doha.

Nantinya jika disepakati, wujud dari perjanjian itu akan diawasi dan dilaporkan dalam setahun, kemudian setiap tiga bulan sekali di tahun berikutnya, dan setiap tahun selama satu dekade.

Qatar belum bereaksi atas ultimatum itu. Namun, pada Senin lalu, Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhammad bin Abdulrahman al-Thani menyatakan mereka tidak mau berunding dengan empat negara itu, sebelum mereka mencabut semua blokade, embargo, dan larangan. Beberapa warga Qatar menganggap tuntutan itu tidak masuk akal.

"Coba Anda bayangkan seandainya bagaimana jika ada sebuah negara meminta CNN ditutup," kata pegawai operator telekomunikasi Ooredoo, Haseeb Mansour (40).

Seorang pensiunan di Qatar, Abdullah al-Muhanadi, meminta seluruh larangan mesti dicabut supaya perundingan berjalan adil.

"Banyak hal dalam tuntutan itu yang ngawur dan tidak jelas. Terus harus bagaimana? Di Qatar enggak ada Garda Revolusi Iran, dan soal Turki itu adalah perjanjian diplomatik jangka panjang dan enggak bisa seenaknya diminta pergi," kata Mansour.

Terkait ultimatum itu, Menteri Pertahanan Turki, Fikri Isik, dengan tegas menolaknya. Menurut dia tuntutan penutupan pangkalan militer Turki bakal mengganggu hubungan diplomatik kedua negara. Malah menurut dia saat ini seharusnya mereka menegaskan keberadaan Turki dengan penambahan armada dan personel militer.

"Penguatan pangkalan militer Turki saya pikir langkah yang baik demi keamanan di kawasan teluk. Menilai kembali perjanjian dengan Qatar tidak ada dalam agenda kami," kata Isik. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP