Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Posisi Strategis Indonesia di Tengah Ketegangan AS-China

Posisi Strategis Indonesia di Tengah Ketegangan AS-China Dirgahayu ke-70 Korps Marinir TNI AL. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Indonesia dan Amerika Serikat mulai membangun pusat pelatihan maritim senilai Rp USD 3,5 juta(sekitar Rp 50,55 miliar) di Batam yang merupakan titik pertemuan Laut China Selatan dan Selat Malaka. Langkah ini menjadi penanda betapa Washington menilai Indonesia sebagai partner andalan dalam memerangi pengaruh China di Asia Tenggara.

Pusat pelatihan ini adakan dikelola oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) yang salah satu tugasnya adalah mengawasi wilayah perairan dan zona ekonomi eksklusif.

Deputi Kebijakan dan Strategi Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksda Bakamla Tatit E. Witjaksono dan Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Y. Kim memimpin upacara peletakan batu pertama Pusat Pelatihan Maritim Bakamla RI di Pangkalan Armada Batam, Jalan Jembatan 2 Balerang, pada Jumat lalu.

Laksda Bakamla Tatit E. Witjaksono mengatakan bahwa pusat pelatihan tersebut akan dimiliki dan dioperasikan oleh Bakamla RI.

"Pusat pelatihan ini akan menjadi sarana penting bagi Bakamla untuk meningkatkan kompetensi personel Bakamla RI dalam menjawab tantangan tugas menjamin keamanan dan keselamatan di laut," ujar Tatit.

Pusat pelatihan maritim itu merupakan upaya kolaborasi antara Bakamla RI, Penjaga Pantai AS (US Coast Guard), Kantor Urusan Narkotika dan Penegakan Hukum Internasional (INL) Kedutaan Besar AS, Satuan Tugas Antar Badan Gabungan Barat (Joint Interagency Task Force West), Komando Indo-Pasifik AS, dan Komando Fasilitas Teknik Angkatan Laut AS.

"Pusat pelatihan yang dibangun ini akan mencakup ruang kelas, ruang kantor, barak, dapur makan, dan landasan peluncuran kapal. Tempat ini akan menampung hingga 50 siswa dan 12 instruktur," ungkapnya.

Sementara itu, Dubes Kim mencatat inisiatif itu sebagai bagian dari upaya berkelanjutan AS untuk bermitra dengan Indonesia dalam memerangi kejahatan transnasional yang mencakup penyediaan peralatan, dukungan, pelatihan dan bantuan teknis kepada Bakamla RI sejak peresmiannya pada 2014.

"Sebagai sahabat dan mitra Indonesia, Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk mendukung peran utama Indonesia dalam memajukan perdamaian dan keamanan regional dengan melawan kejahatan domestik dan transnasional," kata Dubes Kim dalam keterangan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Jumat.

Kim menambahkan, AS selama ini sudah memberi bantuan peralatan, dukungan, pelatihan dan bantuan teknis kepada Bakamla sejak lembaga itu berdiri pada 2014 sebagai bagian dari kerjasama AS dengan Indonesia untuk memerangi kejahatan transnasional.

Dilansir dari laman South China Morning Post, peneliti di lembaga Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) Indonesia, Gilang Kembara, mengatakan pembangunan pusat pelatihan maritim ini menegaskan kembali posisi AS sebagai partner pertahanan Indonesia.

"Mereka (AS) tidak hanya memberikan bantuan keuangan, tapi juga bantuan pusat pelatihan, latihan angkatan bersenjata, dan membantu Bakamla dalam penegakan hukum di laut," kata Gilang.

Pusat pelatihan maritim ini juga akan meningkatkan kemampuan Bakamla di masa depan, ujar Gilang.

"Angkatan Laut Indonesia menambah fungsi kelembagaannya dengan memperkuat Bakamla sebagai badan penegakan hukum laut. Sebagai lembaga pemerintahan yang baru, Bakamla perlu menjalankan pelatihan dan memiliki aset lebih banyak supaya bisa menjalankan funsi dan tugas utamanya."

Menurut data Kementerian Luar Negeri AS, Indonesia menerima bantuan USD 39 juta tahun lalu dari AS sebagai dana pelatihan dan pendidikan militer serta bantuan militer dan keamanan. Indonesia juga mendapat bantuan USD 5 juta untuk membangun kapasitas sumber daya pertahanan, termasuk memperkuat keamanan maritim, antara 2016 hingga 2020.

Ketegangan AS-China

chinaRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Collin Koh, peneliti di Institut Pertahanan dan Studi Strategis di Singapura, mengatakan pembangunan pelatihan maritim ini memperlihatkan Indonesia bersedia menerima bantuan asing dalam bentuk apa pun seperti dana, bantuan pelatihan, dan pembangunan infrastruktur.

"Saya tidak melihat tujuan lain pemerintah Indonesia selain meraih keuntungan dari bantuan-bantuan semacam ini dari pihak luar, termasuk dalam kasus ini dari AS," ujar Koh.

Seperti negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia berada di tengah persaingan AS-China dalam beberapa tahun terakhir. Namun Indonesia dinilai cukup berhasil dalam menjaga hubungan bilateral dengan kedua negara kuat dunia itu tanpa mengabaikan prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif.

"Meski secara ekonomi Indonesia lebih bergantung kepada China, namun Indonesia lebih dekat ke AS dalam hal pertahanan dan keamanan," kata Koh.

"Beberapa waktu lalu Indonesia-AS menggelar latihan militer bersama antara Angkatan Laut dan Marinir AS di Jawa."

Dalam latihan itu tentara Indonesia dan marinir AS terlibat dalam operasi peperangan dan taktik di perkotaan.

China juga berupaya meningkatkan hubungan pertahanan dengan Indonesia, termasuk membantu operasi pengangkatan kapal selam KRI Nanggala yang tenggelam di perairan Bali, namun menurut Koh, upaya ini masih tertinggal dibanding AS.

Di sektor pertahanan China memang tertinggal dari AS, namun mereka unggul di bidang investasi dan perdagangan. China adalah investor kedua terbesar di Indonesia setelah Singapura, dengan nilai investasi tahun lalu sebesar USD 4,8 miliar.

China juga menjadi mitra dagang terbesar Indonesia pada 2020 dengan nilai perdagangan USD 71,4 miliar sedangkan dengan AS hanya USD 27,2 miliar.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP