Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pilpres dimulai, Trump-nya Prancis diprediksi menang

Pilpres dimulai, Trump-nya Prancis diprediksi menang Marine Le Pen. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Hari ini, rakyat Prancis akan menentukan masa depan negerinya dengan memilih seorang pemimpin baru selama lima tahun mendatang. Terdapat 11 kandidat presiden yang maju dalam pemilihan kali ini, mereka adalah Nicolas Dupont-Aignan, Marine Le Pen, Emmanuel Macron, Benoit Hamon hingga Francois Fillon.

Selang satu hari sebelum pemilihan ini, sebuah survei yang digelar memperlihatkan Marine Le Pen diprediksi akan menjadi pemenang pemilu putaran pertama. Namanya begitu populer bagi rakyat Prancis sejak mengampanyekan kemarahan publik yang juga membantu Donald Trump memenangi Pilpres AS.

Dilansir laman skynews, Sabtu (22/4), hasil survei yang dilakukan Odoxa suara yang diperoleh Le Pen sama rata dengan kandidat sentris Emmanuel Macron. Dari analisa mereka, jumlah itu didapatkan politikus Front Nasional tersebut akibat serangan teror yang terjadi di Paris, Jumat kemarin, di mana seorang polisi tewas dan tiga orang lainnya luka-luka.

Presiden Trump sendiri meyakini serangan Champs-Elysees akan membantu Le Pen untuk memenangkan pemilihan kali ini. Sebaliknya, mantan Presiden Barack Obama mendoakan Macron bisa menang dalam hubungan telepon keduanya pada Rabu lalu.

Newsweek menemukan banyak pemilih mengaku dalam pemilihan nanti lebih condong untuk memilih Le Pen sebagai presiden berikutnya, hal ini serupa dengan kemenangan Trump yang mendapatkan banyak suara dari pemilih mengambang dan pendukung yang enggan mengungkapkan pilihannya.

Seperti yang diakui Andre Robert (56), dia mengaku akan mendukung kandidat yang tegas menghadapi serangan teror. "Saya akan memilih kandidat yang bisa membuat kami aman."

"Marine membuat saya gemetar," ujar Monique Zaouchkevitch (65), sembari menyebut dia enggan berpolitik sampai mendengar pidato Le Pen. "Marine, dia sangat dekat dengan rakyat."

Sama halnya dengan AS, beberapa pemilih mengaku enggan mengikuti pemilu lagi karena merasa kecewa. Apalagi, mereka merasa para kandidat tersebut belum memberikan keyakinan. Seperti yang diakui Gabriel Roberoir (61) mantan pegawai negeri yang menyebut pemilu kali ini sebagai 'permainan sirkus'.

"Saya bahkan tidak tahu kenapa mereka maju."

Hari ini merupakan pemilihan putaran pertama dalam Pemilu Presiden Prancis, di mana dua kandidat yang mendapatkan suara terbanyak akan maju ke putaran berikutnya pada 7 Mei mendatang. Kontes ini juga menjadi penentu masa depan Uni Eropa, di mana Le Pen juga menyerukan referendum untuk menentukan keanggotaan Prancis di organisasi tersebut.

Mantan Perdana Menteri Francois Fillon, di mana selama masa kampanye terganggu dengan dugaan korupsi yang dilakukan istrinya yang menyimpan bantuan dana dari parlemen, nampaknya juga tidak akan menyerah. Namanya sempat berada di urutan teratas sebelum akhirnya terjungkal setelah terjadinya serangan teror baru.

Sama halnya dengan Trump, Le Pen juga terus menyuarakan retorika garis kerasnya terhadap imigrasi, meminta agar perbatasan negeri itu diperketat di mana dia menyebutnya telah gagal membendung arus imigran. Dia juga menyebut Muslim radikal berusaha menghapus jejak sejarah Kristen-Yahudi Prancis, serta pendekatan lain di mana dia meminta terduga ekstremis agar diusir dari negara itu.

Le Pen (48), ibu tiga anak, bertentangan dengan sang ayah sendiri, pendiri partai Front Nasional Jean-Marie Le Pen, yang terlibat beberapa kasus kriminal seperti anti-Semit serta menyebut Holocaust bukan bagian dari sejarah.

Meski demikian, awal bulan ini Le Pen sendiri menolak pertanggungjawaban Prancis atas pembantaian yang terjadi terhadap umat Yahudi selama Perang Dunia Kedua, hingga menyebabkan kecaman dari kandidat lain serta Menteri Luar Negeri Israel.

Sementara, jika Macron menang makan akan membuat Prancis tetap berada di Uni Eropa. Obama, ketika masih menjabat, meminta Inggris untuk bertahan, sayangnya tidak semua orang sependapat dengan presiden kulit hitam pertama AS tersebut.

Trump sendiri mendukung keputusan Inggris untuk keluar dari UE dan juga memprediksikan negara-negara lain akan melakukannya juga. Dalam konferensi persnya beberapa waktu lalu, sang presiden meyakini Eropa akan lebih kuat.

"Eropa yang kuat adalah sangat, sangat penting bagi saya sebagai Presiden Amerika Serikat," katanya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP