Usai hilang, pilot pendamping MH370 coba buat panggilan telepon
Merdeka.com - Fariq Abdul Hamid, pilot pendamping pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang lebih dari satu bulan lalu telah membuat sebuah panggilan dari telepon selulernya di saat pesawat itu terbang rendah di atas pantai barat Malaysia.
Para peneliti telah mempelajari panggilan itu dibuat dari telepon seluler Fariq di saat pesawat Boeing 777 itu terbang rendah di dekat Pulau Penang, di sebelah utara pantai barat Malaysia, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Sabtu (12/4).
Koran the New Straits Times hari ini melaporkan para peneliti mempelajari pesawat itu, yang membawa 239 penumpang, terbang cukup rendah ke menara telekomunikasi terdekat untuk mengambil sinyal dari Fariq.
Panggilan itu berakhir dengan tiba-tiba. Namun telah dipelajari kontak tersebut dipastikan dibuat dengan stasiun sub telekomunikasi di Negara Bagian Penang.
The New Strait Times mengatakan pihaknya tidak mampu memastikan siapa yang ingin ditelepon oleh Fariq, di mana sumber memilih untuk tidak mengungkapkan rincian investigasi.'
"Menara telko (perusahaan telekomunikasi) membuat panggilan yang dia coba buat," tulis the New Strait Times, mengutip sumber itu. "Mengapa panggilan itu terputus, mungkin karena pesawat bergerak cepat menjauh dari menara dan berikutnya tidak datang di bawah cakupan."
The New Strait Times menambahkan diketahui juga bahwa komunikasi terakhir Fariq adalah melalui aplikasi WhatsApp Messenger dan dibuat sekitar pukul 23.30 pada 7 Maret, tak lama sebelum dia menaiki pesawat untuk melakukan penerbangan selama enam jam ke Beijing.
The New Straits Times mengatakan pihaknya telah diberitahu bahwa pemeriksaan terhadap data panggilan telepon Fariq menunjukkan orang terakhir yang dia coba telepon adalah salah satu nomor yang sering muncul di daftar panggilan teleponnya.
Panggilan terakhir itu dibuat tidak lebih dari dua jam sebelum penerbangan lepas landas pada pukul 12.41 pada tanggal 8 Maret dari Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Sementara sumber lainnya mengatakan kepada the New Strait Times dari pemeriksaan terhadap telepon Fariq menunjukkan koneksi terhadap nomor ketika dia membuat panggilan terakhir sebelum dia menerbangkan pesawat itu telah 'dilepas'.
"Ini biasanya hasil dari telepon yang dimatikan," ujar sumber itu. "Namun, pada satu titik, ketika pesawat berada di udara, di antara titik Igari dan titik di dekat Penang (tepat sebelum pesawat hilang dari radar), koneksi dinyalakan kembali."
The New Strait Times mengatakan bahwa penyalaan kembali koneksi tidak berarti bahwa sebuah panggilan telah dibuat. Ini juga bisa jadi merupakan hasil dari telepon sedang dimatikan kembali.
Para ahli mengatakan memang mungkin untuk sebuah telepon seluler dihubungkan dengan sebuah menara telekomunikasi di ketinggian 2.133 meter (7.000 kaki), yang merupakan ketinggian paling rendah untuk sebuah jet besar seperti Boeing 777, kecuali pesawat itu diterbangkan pada kecepatan tinggi untuk menjaga ketinggian. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya