Pesta demokrasi setengah hati
Merdeka.com - Menjadi warga Korea Utara mungkin memang takdir dari Tuhan namun seandainya boleh memilih mereka bisa jadi tak mau dilahirkan sebagai warga Ibu Kota Pyongyang yang terpaksa mendukung pemimpinnya demi bertahan hidup.
Korea Utara mengajarkan rakyatnya untuk bersemangat mencintai pemilihan umum notabene sistem pemungutan suara demi menentukan calon pemimpin dikembangkan oleh negara-negara barat. Namun mereka berhasil meramunya demi kepentingan penguasa. Pilihan calon tiada lain, tiada bukan, Kim Jong Un, pemimpin Negeri Komunis itu sekarang.
Pilihan hanya dibuat dua. Ya atau Tidak dengan kepemimpinan Jong Un.
Saking pentingnya pemungutan suara ini tidak satu orang pun diperkenankan tinggal di rumah saat hari pencoblosan. Mereka bahkan ditandu atau dipapah agar bisa berpartisipasi dalam pemilu kali ini, demikian dilansir surat kabar the Daily Mail (10/3).
Sejumlah para medis bersiap dalam tugas mengawal para warga tengah sakit agar sampai ke tempat pemungutan suara. Sebelum pemilu bahkan sosialisasi sudah sangat kencang. Pelbagai slogan atau karya seni soal pentingnya pesta demokrasi itu disiarkan saban hari oleh televisi, radio, maupun media lokal. Sejumlah puisi berjudul Berduyun-duyun dalam Kegembiraan dan Keceriaan serta Mari Kita Pergi ke TPS sudah diperdengarkan ke warga.
Hasil pemilu hari pertama sungguh mencengangkan di Distrik Gunung Paekdu dan masih ada 687 distrik lain namun hasilnya sudah pasti bisa ditebak. "Ini membuktikan warga mendukung dan percaya pada pemimpin tertinggi serta setia padanya," kantor berita Korea Utara KCNA melansir.
Bulan depan Pyongyang bakal merampungkan pemilu termasuk parlemen baru terbentuk meski nama-nama mereka belum diumumkan. Namun prediksi menduga Jong Un bakal memilih anggota dewan muda dan setia dengannya. Mereka bakal mengadakan rapat pertamanya di tanggal belum diketahui. (mdk/din)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya