Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perusahaan ritel AS jadi penadah artefak curian dari Irak

Perusahaan ritel AS jadi penadah artefak curian dari Irak hobby lobby. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Perusahaan ritel benda seni dan kerajinan tangan asal Amerika Serikat, Hobby Lobby, terlibat masalah besar. Konon mereka menjadi penadah ribuan artefak diduga curian dari Irak seharga USD 1,6 juta, atau setara lebih dari Rp 21 miliar.

Menurut paparan dalam laman Departemen Hukum Amerika Serikat, Kamis (6/7), dari hasil penyelidikan Jaksa Wilayah Distrik Timur New York, Bridget Rohde, serta Dinas Imigrasi dan Bea Cukai menyatakan Hobby Lobby Inc., membeli sekitar 5500 artefak asal Irak secara ilegal. Dari hasil penelusuran, diduga benda-benda sejarah itu dicuri dari dari pelbagai situs arkeologi atau museum di Irak ketika negeri itu diserbu AS dan perang sipil berkecamuk. Buat mengelabui petugas, sejumlah artefak itu dikirim ke Negeri Abang Sam dengan label sebagai contoh.

"Pada Oktober 2010, seorang pakar hukum benda-benda budaya dipekerjakan oleh Hobby Lobby sudah memperingatkan kalau artefak-artefak dari Irak, termasuk tablet dengan huruf paku dan tabung surat, kemungkinan besar dicuri dari situs arkeologi di Irak," demikian seperti ditulis dalam laman Departemen Hukum AS.

Kemudian, artefak bermasalah itu juga ditandai dengan lambang bendera merah. Hal itu berarti asal usul benda itu tidak jelas, termasuk pemilik sebelumnya, pemalsuan informasi muatan saat dikirimkan. Bahkan dalam penelusuran diketahui Hobby Lobby membeli ribuan artefak itu dari sejumlah calo. Dari bukti transaksi keuangan terungkap mereka mengirim uang kepada tujuh orang berbeda diduga perantara artefak curian.

Pencurian dan penyelundupan artefak dari Irak mulai marak saat AS menyerbu negara itu dan menumbangkan Presiden Irak, Saddam Husein. Saat itu Museum Nasional Baghdad dirampok dan hampir semua isinya habis dijarah. Penyebabnya adalah tempat itu adalah salah satu yang luput dari penjagaan pasukan AS.

Ketika kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) muncul, penjarahan artefak juga semakin marak. Konon mereka melegonya kepada perantara serta penyelundup. Konon hal itu menjadi salah satu sumber pendapatan organisasi.

Atas penyelidikan itu, Hobby Lobby mengaku bakal mengembalikan seluruh artefak dan bersedia membayar kekurangan bayar pajak sebesar USD 3 juta. Bos Hobby Lobby, Steve Green, mencoba cuci tangan. Dia berdalih baru kali ini memperoleh artefak, tetapi kecewa dengan cara mendapatkannya.

hobby lobby

Menurut Steve, artefak yang didapat dari kawasan dianggap sebagai pusat peradaban dunia sejalan dengan tujuan perusahaan dan ajaran Alkitab.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP