Pertaruhan Pangeran Salman untuk masa depan Saudi
Merdeka.com - Hari-hari ini adalah masa yang cukup berat bagi Arab Saudi. Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) kini tengah melakukan berbagai gerakan perubahan, termasuk liberalisasi di sejumlah sektor kehidupan, seperti mengizinkan perempuan menyetir, membuka kembali bioskop, memburu para pangeran atas tuduhan korupsi.
Cepatnya arus perubahan di Saudi ini, termasuk sorotan media Barat, menimbulkan pertanyaan penting: Bisakah perubahan ini bertahan di Saudi?
"Menurut saya cara ini tidak akan bertahan," kata Hala Aldosari, pengamat dari Institut Radcliffe Harvard, seperti dilansir laman the Atlantic, Rabu (27/6). "Dia (MBS) lebih mendapat pengakuan dari luar ketimbang dari dalam. Dia tidak mendapat dukungan rakyat."
Karen Young, pengamat senior dari Institut Negara Arab Teluk punya pendapat senada dengan Aldosari.
"Yang saya dengar dari orang Saudi, selama 1,5 tahun ini menjadi masa-masa yang rawan. Ada harapan besar bahwa segalanya akan sesuai rencana, tapi masa ini jadi saat-saat genting," kata Young.
Pangeran berusia 32 tahun itu cukup baik dalam menggalang dukungan sekutu asing buat Saudi seperti Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, namun menurut para pengamat, posisi dia di internal Saudi masih belum kokoh. Selain pertentangan dengan kelompok ulama konservatif, ada risiko juga perlawanan dari internal keluarga kerajaan.
Bahaya terbesar bisa jadi adalah masalah ekonomi. Saudi dalam beberapa tahun terakhir tertekan ekonominya karena harga minyak dunia yang jatuh ke titik terendah dan generasi muda yang sulit mendapat lapangan kerja. Jika MBS gagal mengatasi masalah ekonomi ini maka kursi kekuasaannya bisa goyah.
Mengizinkan wanita menyetir, yang berlaku mulai pekan ini, juga karena pertimbangan ekonomi, kata Young.
"Alasan paling masuk akal dari mengizinkan perempuan menyetir adalah untuk menciptakan keluarga dengan dua sumber penghasilan."
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya