Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peringatan Bastille Day di Prancis Diwarnai Kericuhan

Peringatan Bastille Day di Prancis Diwarnai Kericuhan Aksi Unjuk Rasa Rompi Kuning Prancis. ©2018 AFP

Merdeka.com - Perayaan Hari Nasional Prancis, Bastille Day pada Minggu (14/7) diwarnai kericuhan. Polisi anti huru hara setempat membubarkan pengunjuk rasa dengan gas air mata.

Para demonstran bertopeng dilaporkan berunjuk rasa di Champs Élysées --salah satu jalan protokol terpenting di ibu kota Paris-- setelah parade demokrasi Prancis Bastille Day usai digelar.

Puluhan pria --beberapa di antaranya bertopeng dan mengenakan pakaian hitam-- mencoba memblokir jalan di dekat tugu Arc de Triomphe dengan menyeret pagar besi dan membakar tempat sampah. Kerusuhan berhasil dikendalikan dengan cepat, menandai bentrokan terkini antara polisi huru hara Prancis dan demonstran Jaket Kuning (Gilets Jaunes) sejak Maret lalu. Demikian dilansir dari The Guardian, Senin (15/7).

Tidak seperti berbagai aksi protes sebelumnya, mayoritas demonstran pada Minggu kemarin tidak mengenakan rompi keselamatan berwarna kuning, sebagaimana dipakai demonstran dalam delapan bulan terakhir. Saat polisi bergegas ke jalan-jalan di sekitar Champs Elysées, warga sipil dan turis terlihat berlari menghindari gas air mata.

Polisi anti huru hara terus maju membubarkan massa dan berupaya merebut kendali di jalan-jalan utama, sebelum kemudian suasana kembali kondusif.

Sebelumnya pada Minggu pagi, beberapa saat menjelang parade militer tahunan Prancis, sekitar 152 orang --termasuk demonstran rompi kuning-- ditangkap ketika mereka mencoba menggelar unjuk rasa terpisah. Di antara mereka yang ditangkap dan ditahan sebentar oleh polisi adalah Jérôme Rodrigues dan Maxime Nicolle.

Keduanya adalah tokoh kunci dari gerakan protes rompi kuning, yang dimulai sebagai pemberontakan terhadap pajak bahan bakar pada November 2018, dan kini berlanjut sebagai protes anti-pemerintah. Meskipun telah terjadi penurunan jumlah orang yang mengambil bagian dalam aksi protes mingguan rompi kuning di kota-kota Prancis, gerakan ini masih diketahui aktif.

Pengacara Rodrigues, Arié Alimi, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pengamanan kliennya sama dengan menangkap lawan politik.

Sementara itu, keamanan diperketat selama peringatan Bastille Day, yang menandai momen penyerangan Benteng Bastile sebagai cikal bakal demokrasi pada 1789 ketika Revolusi Prancis berkobar. Tidak seorang pun dengan rompi kuning diizinkan melewati pembatas polisi untuk menonton pawai.

Beberapa demonstran berhasil menyelinap ke kerumunan, namun tidak menunjukkan langsung identitas rompi kuning. Mereka mengkritik dan mencemooh Presiden Prancis, Emmanuel Macron dengan membentangkan poster-poster kemarahan, sebelum kemudian diamankan polisi.

Reporter: Happy Ferdian Syah UtomoSumber: Liputan6

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP