Perang Libanon, pelanduk mati di tengah-tengah
Merdeka.com - Perang yang berkecamuk antara Libanon dan Israel 30 tahun lalu tidak dapat dilupakan. Tepat hari ini kedua negara itu mulai melancarkan serangan.
Israel saat itu dipimpin Perdana Menteri Menachem Begin berharap bisa menandatangani perjanjian damai dengan negara penyangganya, Libanon, saat itu diperintah Perdana Menteri Bachir Gemayel.
Tetapi harapan itu buyar ketika Gemachel dibunuh. Kelompok Kristen sekutu Israel ketar-ketir melihat hal itu. Mereka hilang arah. Akhirnya rakyat sipil harus menjadi korban. Guna melampiaskan amarah itu, mereka membantai para pengungsi Palestina di kamp pengungsian Sabra-Shatilla.
Waktu itu pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, dan Presiden Suriah dan ayah dari Basyar al-Assad, Hafez al-Assad, berduet memimpin perang. Beberapa organisasi perlawanan juga muncul, salah satunya Hizbullah.
Meski begitu, tentara gabungan dari Libanon, PLO, dan Suriah tidak berdaya menghadapi manuver tempr militer Israel. Banyak dari mesin perang mereka rontok dihantam rudal-rudal Negeri Zionis itu.
Belum selesai perang kedua negara, Libanon disibukkan dengan perang sipil antarberbagai kelompok perjuangan yang saling berebut pengaruh politik.
Perang dimenangkan mutlak oleh Israel, tetapi tujuan mereka menjalin sekutu dengan Libanon tidak pernah tercapai. Sementara Libanon harus menata kembali tatanan sosial masyarakatnya lantaran di antara kelompok yang bertikai pada perang sipil masih mempersenjatai diri. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya