Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penelitian: Agama Membuat Orang Lebih Sehat dan Perokok Cenderung Ateis

Penelitian: Agama Membuat Orang Lebih Sehat dan Perokok Cenderung Ateis ilustrasi agama. ©the Independent

Merdeka.com - Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris menerbitkan data yang menghubungkan agama dan kesehatan yang menghubungkan agama dan kesehatan dalam upaya "untuk memahami keadaan orang-orang dari identitas agama yang berbeda". Hasilnya, agama disebut membuat orang lebih sehat.

Data tersebut menyebutkan orang berusia 16 tahun dan lebih yang tidak beragama cenderung tidak puas dengan kesehatan mereka. Data tersebut juga membagi pakar sekuler dan agama. Beberapa mengklaim bahwa orang yang memiliki keyakinan lebih cenderung "berharap untuk masa depan yang lebih baik", sementara yang lain menolak penjelasan agama memiliki kekuatan gaib.

ONS menemukan bahwa 66 persen Muslim, 68 persen Kristen, 69 persen Sikh, 71 persen Buddha, 72 persen Hindu, dan 77 persen Yahudi puas dengan kesehatan mereka antara 2016 dan 2018.

Namun sebaliknya 64 persen orang yang tidak beragama melaporkan puas dengan kesehatan mereka.

Kepala Program Coexist House, Michael Wakelin, mengatakan hasil penelitian ini ada hubungannya dengan sikap syukur. Coexist House bekerja bersama dengan Universitas Cambridge dan Pusat Media Agama.

"Jika Anda berpendapat bahwa Tuhan mencintai Anda dan dia yang menciptakan Anda, Anda cenderung bersyukur atas apa yang Anda miliki," jelasnya, dikutip dari The Telegraph, Kamis (27/2).

Perokok Cenderung Ateis

ONS juga melaporkan bahwa prevalensi merokok secara signifikan lebih tinggi di antara mereka yang diidentifikasi tidak beragama daripada beberapa kelompok agama lain. Banyak agama melarang merokok dan konsumsi alkohol.

Totalnya, 18 persen orang yang diidentifikasi tak beragama adalah perokok. Sebaliknya 17 persen umat Buddha, 11 persen Muslim, 11 persen Kristen, 5 persen Hindu, 4 persen Yahudi, dan 2 persen Sikh.

Dr Antony Lempert dari Forum Pengobatan Sekuler Masyarakat Sekuler Nasional (NSS) mengatakan ada banyak variabel untuk mengukur kesehatan fisik dan mental.

"Dalam konteks ini, peningkatan kepuasan kesehatan yang dilaporkan sendiri oleh orang-orang Kristen, Hindu dan Yahudi dapat mencerminkan manfaat dari agama-agama tertentu tetapi mungkin sama-sama mencerminkan interaksi yang kompleks dari faktor-faktor lain termasuk demografi orang-orang yang disurvei, risiko kesehatan tambahan seperti merokok dan fakta bahwa hasil ini bergantung pada pelaporan diri sebagai penanda kesehatan," jelasnya.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP