Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pemerintah Indonesia Izinkan Kapal Pengungsi Rohignya Berlabuh di Aceh

Pemerintah Indonesia Izinkan Kapal Pengungsi Rohignya Berlabuh di Aceh Kapal pengungsi Rohingya yang ditemukan di perairan Lhokseumawe, Aceh akhirnya diizinkan berlabuh ol. ©Courtesy of the Geutanyoe Foundation

Merdeka.com - Kebuntuan perundingan yang melibatkan sebuah kapal yang membawa pengungsi Rohignya dan kapal Angkatan Laut Indonesia (AL) berakhir dengan penyelamatan dramatis yang memakan waktu 18 jam karena hujan lebat dan gelombang tinggi.

Para pengungsi - sebagian besar perempuan dan anak-anak - dibawa ke daratan di Lhokseumawe, Aceh pada Jumat dini hari. Mereka langsung diperiksa oleh pegawai dinas kesehatan sesuai protokol pencegahan Covid-19.

"Kami sangat lega dan sangat bersyukur kepada pemerintah Indonesia karena memberikan izin Rohingya untuk mendarat di Aceh atas dasar kemanusiaan," jelas salah satu pendiri Geutanyoe Foundation (NGO yang mendukung pengungsi di Indonesia dan Malaysia), Lilianne Fan.

"Indonesia sekali lagi telah menunjukkan kemanusiaan besar terhadap para pengungsi dan respons berasas ini tidak hanya harus dipuji tapi didukung," lanjutnya kepada Al Jazeera, dikutip Jumat (31/12).

Dalam sebuah pernyataannya kepada Al Jazeera, UNHCR juga memuji keputusan pemerintah Indonesia.

"Kami bersyukur Indonesia dan rakyatnya sekali lagi membuktikan semangat kemanusiaan mereka dan menunjukkan bahwa menyelamatkan nyawa harus selalu menjadi prioritas utama," kata Perwakilan UNHCR Indonesia, Ann Maymann.

Penyelamatan tersebut mengakhiri perundingan buntu setelah kapal kayu yang membawa lebih dari 100 pengungsi Rohingya itu, pertama kali ditemukan nelayan terapung di laut Aceh pada Minggu.

Pada Selasa, pemerintah Indonesia awalnya menolak kapal pengungsi tersebut, yang mengalami rusak mesin. Foto yang beredar di media sosial menunjukkan anggota AL menyiapkan makanan, air, dan bahan bakar untuk para pengungsi sebelum meminta mereka kembali ke perairan Malaysia.

Hal itu memicu kecaman dari NGO, termasuk Amnesty International dan UNHCR, menyerukan pemerintah Indonesia mengizinkan para pengungsi mendarat.

"Hari ini, pemerintah Indonesia memutuskan, atas nama kemanusiaan, untuk memberikan tempat berlindung bagi pengungsi Rohingya yang saat ini terapung di sebuah kapal dekat Biereun, Aceh," kata Deputi bidang Koordinasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kemenko Polhukam, Irjen Pol Armed Wijaya dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

Pada Kamis, kapal AL Indonesia menarik kapal pengungsi ke pelabuhan Lhokseumawe, di mana para pengungsi berlabuh. Prosesnya diperkirkakan menghabiskan waktu sekitar 12 jam, tapi gelombang tinggi dan angin kencang deengan ombak besar memperlambat proses penyelamatan tersebut.

"Ada 105 pengungsi di dalam kapal dan beberapa dari mereka memerlukan perawatan medis dalam beberapa hari ke depan," jelas Nasrudin M Is, koordinator kemanusiaan Geutanyoe Foundation kepada Al Jazeera.

Nasrudin mengatakan para pengungsi saat ini dikarantina selama 10 hari sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Ada juga rencana untuk memvaksinasi para pengungsi sebagai bagian inisiatif Organisasi Migrasi Internasional (IOM).

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP