PBB: 2018 Tahun Mematikan Bagi Anak-Anak Suriah
Merdeka.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan, 2018 adalah tahun yang paling mematikan bagi anak-anak di Suriah. Penyebabnya ialah perang yang kini memasuki tahun ke-9.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Senin (11/3), UNICEF menyampaikan telah memverifikasi 1.106 kematian anak akibat pertempuran pada 2018. Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (12/3), laporan tersebut menunjukkan jumlah korban terbanyak jatuh pada 2011 sejak konflik pecah di Suriah.
Namun diperkirakan juga jumlahnya jauh lebih tinggi.
"Saat ini, ada kesalahpahaman yang mengkhawatirkan bahwa konflik di Suriah akan segera berakhir, tidak," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore.
"Anak-anak di beberapa bagian negara tetap dalam bahaya selama konflik yang telah berlangsung delapan tahun lamanya," lanjutnya.
Penyebab terbesar jatuhnya korban anak-anak adalah persenjataan yang tidak meledak, yang menyebabkan 434 kematian dan cedera tahun lalu. Perang Suriah telah menewaskan ratusan ribu orang dan mengusir jutaan orang dari negara itu.
Turki dan Rusia, salah satu sekutu setia pemerintah Suriah, menengahi kesepakatan pada September lalu, untuk menciptakan zona demiliterisasi di wilayah barat laut Idlib, yang akan bebas dari semua senjata berat dan pejuang. Kesepakatan tersebut membantu mencegah serangan pemerintah terhadap kawasan itu, yang merupakan benteng besar terakhir penentang Presiden Bashar al-Assad.
Kendati demikian, Fore menyatakan keprihatinannya dengan intensifikasi kekerasan di Idlib, tempat 59 anak dilaporkan tewas dalam beberapa pekan terakhir.
"UNICEF sekali lagi mengingatkan para pihak yang terlibat konflik, dan juga komunitas global, bahwa anak-anak di negara itu (Suriah) yang paling menderita dan yang paling dirugikan. Setiap konflik berlanjut adalah hari lain yang dicuri dari masa kecil mereka," tegasnya.
Sejak Januari, sekitar 60 anak tewas ketika berusaha mencapai kamp al-Hol di Suriah timur laut, yang kini menjadi rumah bagi lebih dari 65.000 orang yang melarikan diri dari ISIS. Ribuan orang membanjiri kamp al-Hol ketika Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS mengepung sisa-sisa terakhir kekuasaan teritorial ISIS di Desa Baghouz, yang dikepung dekat perbatasan Irak.
"Suriah masih menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia untuk anak-anak, dengan kekerasan, ketidakamanan dan pengungsian yang berkelanjutan," kata Juru Bicara Save the Children, Caroline Anning.
"Bahkan ketika konflik telah mereda, risiko dari sisa-sisa perang yang meledak seperti ranjau darat dan amunisi tandan semakin meningkat," pungkasnya.
Reporter: Happy Ferdian Syah UtomoSumber: Liputan6
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya