Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

'Pada akhirnya kami akan mati, maka matilah di depan kamera'

'Pada akhirnya kami akan mati, maka matilah di depan kamera' Bentrokan Palestina-Israel menentang kedubes AS di Yerusalem. ©2018 REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

Merdeka.com - "Kalian selalu merendahkan kami jadi kalian sulit memahami kami berunjuk rasa tidak atas nama siapa pun."

Seorang warga Palestina di Gaza menyampaikan pernyataan itu kepada koresponden Haaretz, Amira Hass, karena dia marah atas klaim Israel yang menyebut Hamas mengatur semuanya dalam unjuk rasa besar-besaran sejak Maret lalu di perbatasan Jalur Gaza.

"Kemampuan kami, rakyat Palestina, untuk dibunuh lebih besar ketimbang kemampuan kalian, Israel, untuk membunuh," ujar seorang warga Palestina di pengungsian Deheisheh dekat Betlehem ketika pecah intifada kedua. Dia mengatakan pada akhirnya kedua pihak bertikai akan mencapai kesepakatan.

Tapi Selasa lalu di sepanjang pagar perbatasan di seberang Beit Hanun sebelah utara Jalur Gaza, pernyataan itu tidak terbukti. Rakyat Palestina punya keterbatasan untuk dibunuh. Pagi hari ketika Senin berdarah terjadi para pendemo memilih untuk beristirahat. Enam puluh korban tewas dan ratusan korban luka menjadi penanda apa yang selama ini diperjuangkan rakyat Palestina. Sehari kemudian, Hari Nakba (Bencana) yang seharusnya menjadi puncak unjuk rasa malah menjadi hari ketika warga Palestina di Gaza seolah putus asa.

Dengan mengatakan Hamas menguasai semuanya, hal itu sama saja dengan mengambil hak warga Palestina di Gaza untuk memperjuangkan kebebasan dan kehidupan yang layak serta mengambil hak mereka untuk mengekspresikan keputusasaan.

bentrok di perbatasan jalur gaza israel

Bentrok di perbatasan Jalur Gaza-Israel ©REUTERS

"Israel selalu merendahkan kami. Di mata kalian, seorang Arab yang baik mestilah seorang kolaborator atau mayat," kata seorang warga Palestina suatu kali, seperti dikutip laman Haaretz, Minggu (20/5).

"Itulah makanya sulit bagi kalian memahami bahwa kami berunjuk rasa tidak atas nama orang lain. Semua orang berdemo untuk dirinya sendiri. Kami orang-orang tak berdaya, tanpa visi dan rencana, dan berada di titik terendah dalam hal dukungan internasional atau organisasi. Tapi kami keluar rumah berdemo untuk memprotes pemindahan kedutaan ke Yerusalem. Yerusalem adalah kesayangan kami. Kami berdemo supaya tidak mati dalam sunyi. Kami lelah harus mati dalam keadaan sunyi di rumah."

"Kalau mati maka matilah di depan kamera. Dengan lantang. Saya pergi ke masjid. Tidak ada perintah apa-apa dari mereka yang di sana. Saya dengar anak-anak muda bilang besok mereka ingin mati di pagar perbatasan. Mereka bilang begitu seolah mau pergi piknik atau bersenang-senang."

Jumat lalu Dewan HAM PBB menyepakati resolusi yang menyerukan pengiriman mendesak sebuah komite independen untuk "menyelidiki dugaan pelanggaran dan perlakuan buruk tentara Israel selama protes sipil besar yang dimulai sejak 30 Maret di Gaza."

Kementerian Luar Negeri Israel kemarin mengatakan menolak keputusan Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk membentuk komisi penyelidikan atas pembantaian tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang tengah berunjuk rasa di Jalur Gaza.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP