Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Numpang teler di Jalur Gaza

Numpang teler di Jalur Gaza Narkoba di Jalur Gaza. ©REUTERS/Mohammed Salem

Merdeka.com - Enak juga hidup seperti Belal (45). Dia tinggal di Jalur Gaza, salah satu daerah dengan tingkat kepadatan penduduk dan kemiskinan yang tinggi di Timur Tengah. Namun, dia bisa bermalas-malasan sepanjang hari tanpa perlu lelah bekerja.

Tanpa perlu bersusah payah, koceknya saban bulan selalu terisi dari duit jatah diberikan Otoritas Palestina, asalkan dia tidak mencari nafkah di Jalur Gaza dikuasai Hamas. Namun, lambat laun dia menjadi bingung harus diapakan uang itu.

Waktu kosong banyak, pekerjaan tidak ada, hiburan di Jalur Gaza sulit dicari. Akhirnya buat menghibur diri, Belal mulai mencoba menggunakan obat-obatan. Pertama dia cicipi adalah Tramadol, yakni penghilang rasa sakit yang pemakaiannya harus dengan resep dokter.

"Awalnya sih buat senang-senang saja, tetapi lama-lama saya enggak bisa ngapa-ngapain tanpa narkoba, sampai akhirnya bikin runyam hidup saya," kata Belal.

Seperti dilansir dari Al Jazeera, Kamis (22/6), Belal adalah salah satu contoh dari sekian banyak warga Jalur Gaza yang menjadi pecandu narkoba. Belal kini terpaksa masuk pusat rehabilitasi buat mengatasi ketergantungannya.

Jalur Gaza kini dibanjiri berbagai jenis narkoba. Mulai dari Tramadol, batang hashish, ekstasi, hingga ganja. Kepala Polisi Anti Narkoba Gaza, Ahmed Kidra, tak sanggup membendung arus masuk narkoba. Dari razia digelar di awal 2017 saja, mereka menyita narkoba hampir senilai USD 2 juta.

Kidra merasa Israel ada di balik semua itu. Menurut dia, negeri zionis itu sengaja tutup mata soal penyelundupan narkoba ke Jalur Gaza dengan cara disembunyikan di antara kiriman barang-barang dagangan. Sayang, Israel bungkam ketika ditanyakan soal itu.

Ada beberapa 'jalan tikus' buat menyelundupkan narkoba ke Jalur Gaza, kata Kidra. Pertama melalui perbatasan dengan Mesir, lewat terowongan, atau dari laut ketika nelayan setempat bertemu dengan nelayan Mesir.

"Terowongan (antara Gaza dan Mesir) itu jalur utama. Hashish, Tramado, dan ekstasi yang paling sering dibawa," kata Kidra.

Kidra mengaku taktik penegakan hukum buat mencegah masuk dan penyebaran narkoba di Jalur Gaza mau tidak mau harus diubah. Sebab kalau mesti terus memburu para pengguna dipastikan bakal melelahkan.

"Kami kini fokus ke bandar, bukan pengguna. Dengan cara ini harga narkoba naik hingga 300 persen, tetapi penggunanya berkurang," ujar Kidra.

Kidra mencontohkan, karena rantai pasokan selalu diganggu, harga pil Tramadol melonjak. Yang tadinya cuma USD 6 (hampir Rp 80 ribu) menjadi USD 14 (sekitar Rp 186 ribu).

Sayang kondisi di Jalur Gaza yang serba sulit juga membikin kerja Kidra dan anak buahnya terhambat. Mereka tidak punya kesempatan berlatih dan peralatan buat mendeteksi narkoba amat minim. Contohnya tidak ada anjing pelacak, kendaraan, dan laboratorium.

Hamas sebagai penguasa Jalur Gaza tidak bisa tinggal diam. Namun awalnya hukuman buat kasus narkoba di sana juga tergolong ringan. Para pengguna tertangkap biasanya cuma didenda. Sedangkan bandar bisa dibui kurang dari tiga tahun.

Tahun lalu Hamas mengesahkan undang-undang menyatakan narkoba adalah ancaman buat negara. Maka dari itu mereka yang terlibat diseret ke pengadilan militer. Kepala Pengadilan Militer Gaza, Nasser Suliman, menyatakan

Baru pada Maret dan Mei lalu, empat pemasok di sana divonis mati dalam pengadilan militer. Dua di antaranya adalah aparat keamanan. Barang bukti sitaan yakni seribu batang hashish dan hampir 500 ribu pil Tramadol dan ekstasi dimusnahkan.

"Dua aparat itu dijatuhi hukuman mati karena rupanya tidak kapok dengan vonis sebelumnya yang tergolong ringan. Malah nekat kembali berjualan narkoba," kata Suliman.

Sedangkan bagi pengguna, hukumannya lebih ringan. "Kalau mereka mau menjalani rehabilitasi, maka tidak bakal dihukum," ujar Suliman.

Hal itu yang terjadi pada Belal. Dia ditangkap dan dalam sakunya ditemukan pil Tramadol. Dia akhirnya kapok.

"Saya malu sekali. Seluruh keluarga tahu. Istri saya pergi dan kembali ke rumah keluarganya. Saya takut dengan masa depan keluarga dan khawatir dengan cap masyarakat, jadi saya memilih rehabilitasi," ucap Belal.

Menurut dokter menangani, dr. Abdullah al-Jamal, Belal dan pasien lainnya diberi penahan rasa sakit dosis rendah buat mencegah mengalami 'sakaw'. Kondisi Belal juga terus dipantau dengan cara pemeriksaan medis selama dua tahun.

Jamal juga memahami kenapa narkoba mudah sekali membanjiri dan dikonsumsi warga Gaza. Menurut dia, warga setempat butuh pelarian dari kondisi perang, dikepung oleh Israel, dan kemiskinan saban hari. Maka dari itu mereka seperti butuh sesuatu yang bisa menenangkan jiwa. Celakanya, narkoba jadi pilihan dan jumlah penggunanya bertambah.

"Kenyataan di Gaza memang serba sulit, dan semua orang di sini bisa saja mengalami gangguan kejiwaan karena perang, terkungkung, dan miskin," ujar Jamal.

Jamal menjalankan klinik rehabilitasi narkoba dengan peralatan seadanya. Kliniknya adalah satu-satunya di Gaza yang menjadi rujukan rehabilitasi narkoba, tetapi cuma memiliki 15 tempat tidur. (mdk/ary)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP