Negara Teluk bisa berkaca dari pengalaman Korea
Merdeka.com - Korea Selatan dan Korea Utara baru saja menorehkan sejarah baru. Pertemuan antara Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada 27 April lalu telah mendatangkan embusan angin perdamaian di antara kedua negara.
Kedua pemimpin negara itu sepakat untuk mengakhiri perang yang pecah sejak awal 1950an. Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 2 juta orang. Bahkan, program senjata nuklir dan gertakan uji coba rudal juga seringkali dilakukan oleh Korut.
Kini, setelah Kim Jong-un untuk pertama kalinya melintasi wilayah Korsel di Zona Larangan Militer, hubungan kedua negara menjadi semakin membaik. Kim dan Moon bertemu dan berbincang layaknya sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Jabat tangan, pelukan hangat, dan senyuman mewarnai pertemuan tersebut.
Penulis kolom Khalil Al Anani di laman Middle East Monitor, berpendapat, banyak yang bisa dipelajari dari proses perdamaian ini, terutama bagi orang-orang Arab yang berasal dari negara-negara Teluk. Negara-negara tersebut harus meyakini bahwa segala konflik harus diakhiri tak peduli sudah berapa lama itu berlangsung dan siapa saja yang sudah jadi korbannya.
Negara-negara Arab, khususnya yang sedang terlibat konflik, seharusnya menyadari bahwa keberadaan mereka tetap akan sama di mata dunia tanpa ada pihak yang memaksakan untuk mendominasi atau memberikan syarat kepada satu sama lain. Sebab, negara-negara tersebut tetap akan dikenal sebagai negara yang kaya akan sejarah, bahasa, dan budaya.
Selain itu, pelajaran lain bisa diambil adalah melakukan dialog untuk menyelesaikan perbedaan dan perselisihan yang terjadi. Tanpa dialog yang damai, maka konflik yang ada akan semakin menjadi rumit, hingga akhirnya perang menjadi solusi satu satunya.
Pelajaran ketiga adalah para pemangku kepentingan dari negara-negara Teluk harus memikirkan siapa yang terkena dampak dari konflik dan bentrokan yang terus terjadi saat ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hak untuk memilih dan bukan politisi pembuat keputusan.
Dalam krisis di Teluk yang terjadi saat, pihak-pihak yang berkepentingan hanya memanipulasi hubungan sejarah dan sosial anata negara-negara Teluk. Hal itu menyebabkan banyaknya keluarga, pemilik suku, dan hubungan sosial terpecah belah lantaran perbedaan pandangan politik.

Anak dan perempuan Yaman dukung Houthi ©REUTERS/Khaled Abdullah
Pelajaran keempat yang bisa diambil adalah bahwa negara-negara yang terlibat pertikaian harus memiliki niat baik dan kehendak yang sama. Selanjutnya, harus ada langkah-langkah awal yang harus diambil mulai dari mengakhiri wacana penuh kebencian, permusuhan, penghasutan, dan tindakan lain yang bisa membuat hubungan antar-negara semakin tegang dan rumit.
Pelajaran terakhir adalah membuat konsesi politik yang bermanfaat bagi rakyat. Seperti yang dilakukan Korut, negara tersebut bersedia menghentikan program uji coba nuklir dan rudalnya di Semenanjung Korea. Sebelumnya, tidak ada yang menyangka negara tersebut akan menghentikan ambisi yang selalu dibangga-banggakan itu.
Meski demikian, perjalanan masih panjang untuk Korea mencapai proses perdamaian. Namun setidaknya kedua negara sudah melakukan langkah-langkah konkret menuju perdamaian. Akankah para pemimpin Arab belajar dari pengalaman Korea?
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya