Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nawal el-Saadawi, Dokter dan Penulis Feminis Mesir Ternama Tutup Usia

Nawal el-Saadawi, Dokter dan Penulis Feminis Mesir Ternama Tutup Usia Nawal el-Saadawi. ©Marina Helli/AFP

Merdeka.com - Penulis dan feminis Mesir ternama, Nawal el-Saadawi, meninggal dunia pada Minggu (21/3) dalam usia 89 tahun. Nawal yang juga seorang dokter dan psikiater ini menghabiskan hidupnya untuk menentang penindasan terhadap perempuan.

Penulis lebih dari 55 buku ini pernah dipenjara sebentar oleh mantan presiden Anwar Sadat dan pernah dikecam Al-Azhar, otoritas Muslim Sunni tertinggi Mesir.

Nawal mengampanyekan perlawanan terhadap pemakaian jilbab, ketidaksetaraan hak waris antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, poligami, dan sunat perempuan (FGM).

Dikutip dari France 24, Senin (22/3), Nawal meninggal di sebuah rumah sakit di Kairo setelah sakit sejak lama.

Pada Sabtu, putri Nawal menyerukan pemerintah membayar biaya pengobatan yang sangat mahal setelah dia menderita patah tulang panggul.

“Saya tidak peduli dengan kritik akademik, atau orang yang menulis ulasan kritik. Saya tidak pernah banyak dikenal oleh mereka atau oleh pemerintah,” jelas Nawal kepada AFP pada 2015.

“Pria dan perempuan muda di seluruh Mesir dan di luar telah mencurahkan cinta yang begitu besar dan pengakuan terhadap saya,” ujar penulis yang buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa, termasuk bukunya yang dilarang sejak lama “Perempuan dan Seks”.

Nawal dikenal karena kecamannya terhadap tindakan sunat perempuan, yang dia alami saat berusia enam tahun.

“Sejak saya kecil luka dalam yang tertinggal di dalam tubuh saya itu tak pernah sembuh,” tulisnya dalam sebuah otobiografi.

Dalam wawancaranya dengan The Guardian pada 2015, dia menyesali konservatisme di negaranya.

“Sesuatu telah terjadi selama lebih dari 45 tahun terakhir. Otak perempuan dan laki-laki telah dirusak, dirusak!” ujarnya.

Nawal, yang menikah dan bercerai tiga kali, juga melawan tabu-tabu agama dan menentang Ikhwanul Muslimin, yang dia tuding membajak revolusi Mesir 2011.

Dia berada di antara puluhan ribu demonstran di Alun-Alun Tahrir, Kairo menuntut penggulingan Hosni Mubarak.

Nawal mengatakan Mesir lebih baik tanpa “fundamentalis agama” dalam kekuasaan.

Seks, agama, dan kekuasaan

Pandangan-pandangan Nawal yang dilontarkan secara jujur dan terbuka membuatnya berhadapan dengan penguasa, dan dia dipenjara selama tiga bulan ketika Sadat menangkap sejumlah intelektual pada 1981.

Nawal ditahan di penjara perempuan Qanatir dan menginspirasinya menulis novel “Perempuan di Titik Nol” yang sangat menggegerkan.

Dia pernah mengatakan kepada AFP, ada tiga hal tabu; seks, agama, dan kekuasaan, yang menghidupkan karya-karya intelektualnya.

Nawal juga menjadi target kelompok Islam militan. Namanya berada dalam daftar kematian kelompok militan bersama peraih Nobel Sastra asal Mesir, Naguib Mahfouz, yang ditusuk dan terluka dalam sebuah upaya pembunuhan pada 1994.

Karena ancaman pembunuhan ini, pada 1993 Nawal pindah ke Universitas Duke, North Carolina, AS, di mana dia menjadi penulis residensi di Departemen Bahasa Asia dan Afrika selama tiga tahun.

Dia kembali ke Mesir dan pada 2005 mencalonkan diri sebagai presiden tetapi membatalkan pencalonannya setelah menuduh pasukan keamanan tidak mengizinkannya menggelar kampanye.

Pada tahun 2007, dia dikecam oleh Al-Azhar karena naskah dramanya "Tuhan Mengundurkan Diri di Pertemuan Puncak", dianggap melecehkan Islam.

Dia kembali meninggalkan Mesir, dan kembali dua tahun kemudian.

Nawal, yang memiliki dua orang anak, pernah mengatakan: “Saya bisa menggambarkan hidup saya sebagai kehidupan yang mengabdikan diri untuk menulis, meskipun saya seorang dokter. Terlepas dari semua rintangan, saya terus menulis.”

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP