Natal baru dirayakan meriah di Jalur Gaza pada 7 Januari
Merdeka.com - Umat Kristen Ortodok di Jalur Gaza, Palestina, baru merayakan Natal pada 7 Januari lalu. Perayaan ini mengikuti tradisi gereja Bizantium berdasarkan kalender Julian, berbeda dari sistem kalender Gregorian yang mematok hari kelahiran Kristus pada 25 Desember.
Stasiun televisi Aljazeera melaporkan, Jumat (8/1), suasana perayaan Natal di wilayah yang diisolasi Israel itu begitu meriah. Gereja Santo Porphyrios, yang terbesar di Gaza, menggelar malam perayaan Natal untuk semua orang. Ada sinterklas, pembagian hadiah, serta pesta bersama antara umat Kristen dan umat muslim.
Kebetulan, Palestina saat ini sedang mengalami musim dingin, sehingga perayaan malam Natal itu juga diiringi turunnya salju. Salah satu warga mengatakan perayaan Natal bersama di wilayah yang diperintah Hamas ini sudah tradisi bertahun-tahun. "Kami satu bangsa, kami bangsa Palestina," ujarnya.
Ada 1.200 umat Nasrani yang hidup di Jalur Gaza saat ini, sebagian besar penganut aliran Kristen Ortodok Yunani. Natal dalam lidah Palestina disebut sebagai 'Milad Sayyidil Masihi', atau hari kelahiran sang juru selamat.

Perayaan natal di Gereja Porphyrios Gaza City (c) 2016 Merdeka.com/Aljazeera
Umat Kristen di Gaza sama menderitanya dengan saudara sebangsa mereka yang muslim. Isolasi total oleh Israel selama 10 tahun terakhir membuat wilayah Gaza sangat tidak layak huni karena kurangnya pasokan air maupun listrik. Kebanyakan umat minoritas Kristen di Gaza bekerja sebagai perawat maupun tenaga pendidik.
Ketika Israel melakukan pemboman massal pada Agustus 2014, Gereja Baptis Gaza yang beruntung tidak rusak sama sekali, menyediakan perlindungan sementara bagi warga muslim.
"Semua masalah dipicu oleh penjajahan Israel atas Gaza, atas Palestina secara keseluruhan. Tidak akan ada solusi, jika penjajahan ini tidak berakhir," kata Pastur Hanna Massad dari Gereja Baptis Gaza. (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya