Muslim Sri Lanka: Kebencian Jangan Sampai Melahirkan Kebencian
Merdeka.com - Muhammad Hasan hampir tak pernah keluar rumahnya di Colombo sejak serangkaian bom mengguncang Sri Lanka Minggu lalu. Dia tidak ingin keluar rumah karena takut diserang sebab dia muslim.
Hasan bekerja di perusahaan percetakan tapi pria 41 tahun itu memilih tetap tinggal di dalam rumah.
"Keluarga khawatir kalau saya keluar rumah apakah saya bisa kembali dalam keadaan hidup?" kata dia kepada kantor berita AFP di luar masjid Jumma di Dematagoda, tempat dia biasa salat.
Lebih dari 350 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri saat Minggu Paskah di tiga gereja dan empat hotel di Colombo. Kelompok militan ISIS mengklaim serangan itu.
Berbagai organisasi muslim mengutuk serangan bom itu tapi sebagian komunitas muslim lainnya merasa hidup mereka terancam.
Zareena Begim, 60 tahun, mengaku hampir tidak bisa tidur sejak kejadian itu.
"Saya tahu orang-orang marah kepada muslim. Bayi-bayi yang sedang dalam dekapan ibunya tewas karena serangan bom itu," kata dia, seperti dilansir laman the Straits Times, Rabu (24/4).
"Saya tidak pernah membayangkan kebencian bisa bersemayam di lubuk hati orang-orang ini (pelaku serangan bom). Kebencian jangan sampai melahirkan kebencian."
"Kami cuma bisa meringkuk di dalam rumah. Takut keluar," kata Begum yang mengenakan baju panjang hitam dan kerudung putih.
Populasi Sri Lanka kini mencapai 21 juta jiwa, terdiri dari beragam etnis dan agama, didominasi mayoritas Buddha Sinhalese.
Warga muslim ada sekitar 10 persen dan minoritas kedua terbesar setelah Hindu. Sekitar tujuh persen warga Sri Lanka adalah Kristiani.
Ketegangan etnis dan agama sudah berlangsung sejak lama dari sejak pemberontak Macan Tamil beberapa dekade lalu. Warga muslim mengalami kekerasan sejak perang saudara berakhir pada 2009.
Biksu-biksu garis keras Buddha menjadi pemicu kekerasan terhadap muslim pada 2013 dan 2018.
Sejumlah pemimpin Sri Lanka termasuk Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe menyerukan warga tetap tenang dan bersolidaritas.
"Sebagian besar warga muslim mengutuk serangan ini dan mereka juga marah seperti halnya orang Tamil dan Buddha Sinhalese," kata Wickremesinghe.
Tapi di komunitas jemaah masjid Jumma ada suasana mencekam dan kecemasan. Mereka berharap polisi bisa melindungi semua warga di saat genting ini.
Hilmi Ahamad, wakil presiden organisasi Islam berpengaruh, Dewan Muslim Sri Lanka mengatakan komunitas mereka kini khawatir dengan adanya serangan balasan.
"Ratusan orang dimakamkan, jadi orang-orang akan sangat emosional," kata Ahamad.
Bahkan Ahamad dan pemimpin muslim lainnya sudah memperingatkan aparat berwenang tentang kelompok Jemaah Tauhid Nasional, organisasi yang dituding pemerintah sebagai dalang serangan.
Pemimpin kelompok itu, Zahran hashim, dikenal sebagai sosok esktremis.
"Orang ini penyendiri dan dia meradikalisasi anak muda dengan dalih mengajarkan Alquran," ujar Ahamad.
Pemimpin komunitas muslim lainnya, R.F Amir, menuturkan mereka hanya ingin semuanya aman damai.
"Kita terus-terusan hidup dalam ketakutan karena jika orang melihat kita memakai peci, mereka akan menganggap kita musuh. Kami ingin mengatakan kepada semua orang, kami bukan musuh kalian. Ini rumah kita bersama. Negara ini dikenal sebagai mutiara Asia dan kita ingin tetap seperti itu." (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya