Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Murka tersembunyi di balik Kashmir

Murka tersembunyi di balik Kashmir Ilustrasi Perang. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Istri dari mendiang Subedar Paramjit Singh tidak berhenti meraung. Tangisannya membikin kerabat dan para tetangga bergantian mencoba menenangkan. Dia berkeras ingin melihat jasad suaminya buat terakhir kali sebelum jasadnya dibakar.

Prabhjot Singh, adik ipar mendiang sempat nekat berusaha membongkar peti jenazah. Namun, dia keburu diadang tentara India mengawal pemakaman.

Dia penasaran karena kabarnya jasad sang kakak ipar tidak utuh. Dia sempat bersitegang dengan para tentara. Setelah perundingan yang alot, akhirnya peti itu dipersilakan dibuka sesaat. Dan yang melihat pun terbatas. Setelah itu langsung dikremasi.

"Kami bisa apa?," kata Singh.

Kashmir. Tempat itu selalu menjadi rebutan India dan Pakistan. Kedua pihak sama-sama tidak mau kalah dalam unjuk kekuatan di sana. Garis Kendali sepanjang 450 mil atau 724 kilometer menjadi saksi amarah terselubung mereka.

Para prajurit ditempatkan di sana terkadang berdinas bertahun-tahun. Beberapa pos penjagaan malah terletak cukup dekat, sampai-sampai makian di antara mereka sangat mudah terdengar. Namun, tidak mengenal siang atau malam, gerilya buat melenyapkan musuh terus disusun dan digelar.

Prajurit berseragam, terkadang bersama dengan militan, selalu mengintai pos-pos penjagaan. Begitu terlihat lengah, langsung diserbu. Tujuannya membuat banyak korban dalam serangan singkat. Biasanya, penyerbuan diakhiri dengan ritual pemenggalan musuh.

Tensi tinggi konflik dan aksi saling bunuh selalu menimbulkan dendam. Sejak peristiwa pemenggalan pada 1 Mei lalu, daerah itu menjadi sasaran pemboman kedua belah pihak.

Aksi pemenggalan dan mutilasi itu selalu meningkat sejak dimulai pada 1998. Tercatat sudah lebih dari dua lusin korban jiwa jatuh dari pihak India dan Pakistan. Biasanya mereka saling balas, tetapi selalu menyangkal.

Mantan Panglima Militer India Komando Utara, Letjen H.S. Panag, mengaku juga tidak bisa merunut siapa memulai aksi itu.

"Selalu ada niat buat balas dendam. Atasan selalu meminta kami mengikuti aturan perang, tetapi hal ini terus terjadi. Kami cuma mengikuti insting," kata Panag, seperti dilansir dari laman The New York Times, Selasa (16/5).

Para veteran justru mengatakan aksi keji itu lebih sering terjadi ketimbang yang diketahui masyarakat. Namun, hal itu kerap disembunyikan di masa lalu. Kini, karena kecanggihan teknologi, kabar seperti itu sulit ditutupi.

Sebagai gantinya, negara selalu memperhatikan keluarga para prajurit tewas dipenggal. Namun, ada juga yang merasa frustasi dan memilih mengutarakannya melalui media massa.

Seperti terjadi empat tahun lalu. Dharamwati, seorang janda prajurit India tewas dipenggal melakukan aksi mogok makan. Dia menuntut kepala suaminya dikembalikan. Dia juga sangat marah karena dilarang melihat jasad suaminya sebelum dibakar.

Kembali mundur, tepatnya pada 1999, Pakistan baru menyerahkan jasad Kapten Saurabh Kalia setelah ditahan 22 hari. Menurut sang ayah, N.K. Kalia, kondisi jenazah anaknya sangat menyedihkan. Matanya dan giginya hancur. Lantas bibir dan hidungnya dipotong. Selama satu dekade kemudian, Kalia mencoba meminta pemerintah India membawa kasus itu ke Mahkamah Kejahatan Perang Dunia. Namun selalu mentok. Karena kesal, empat tahun lalu dia melayangkan gugatan kepada Menteri Pertahanan serta Menteri Dalam dan Luar Negeri India di Mahkamah Agung. Kelanjutan perkaranya juga belum jelas.

"Saya selalu cuma dijanjikan. Namun, saya yakin sikap mereka hanya akan memberikan nota protes kepada Pakistan. Buat apa nota protes? Kalau diterima paling langsung disobek dan dibuang," kata Kalia.

Tindakan balas dendam akibat aksi saling serang berujung pemenggalan juga kerap terjadi. Seperti pada 2011 lalu. Ketika pasukan India menggelar Operasi Ginger buat menyerbu pos jaga Pakistan. Akhirnya, enam tentara India tewas, dua di antaranya mati dipancung. Sebulan kemudian, pasukan Pakistan disergap hingga menelan delapan korban jiwa. Tiga di antaranya meninggal digorok.

"Kepala musuh itu seperti piala. Memancung meningkatkan kekuatan emosional kepada prajurit, dan itu sudah berlangsung berabad-abad," kata Jenderal Purnawirawan Prakash Malik, mantan panglima perang India saat konflik Kargil pada 1999.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP