Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mujahid sejati, 5 pria muslim ini korbankan nyawa gagalkan terorisme

Mujahid sejati, 5 pria muslim ini korbankan nyawa gagalkan terorisme Adel Termos (foto) jadi martir selamatkan ratusan jiwa saat bom bunuh diri Beirut. ©2015 Merdeka.com/AFP

Merdeka.com - Serangan teror beruntun di Ibu Kota Paris, Prancis, pekan lalu mengundang simpati warga dunia. Banyak pihak menggelar aksi solidaritas mengenang 129 orang yang tewas akibat serangan oleh delapan militan ISIS itu.

Latar belakang para pelaku, yang beragama Islam, menjadi sorotan kelompok sayap kanan di Eropa. Sentimen antimuslim kembali merebak di jejaring sosial maupun dunia nyata. Namun tudingan yang menyudutkan umat Islam segera dikecam oleh Koalisi Lintas Iman yang menggelar aksi di Paris pada Minggu (15/11). Lebih dari 3 ribu orang mendukung umat Islam, mereka berpawai sambil meneriakkan yel 'ISIS bukan Muslim'.

Tak banyak yang tahu, berselang dua hari sebelum tragedi Paris, di Ibu Kota Beirut, Libanon aksi terorisme tak kalah keji dilakukan oleh ISIS. Tapi minim sekali pemberitaan, khususnya di Barat, yang menceritakan aksi heroik Adel Termos. Ayah dua anak ini tewas setelah gagah berani menghentikan satu anggota ISIS hendak meledakkan diri di pasar Bourj al-Barajneh. Pengorbanan Termos menyelamatkan ratusan jiwa.

Tindakan heroik yang mengharukan tak cuma dilakukan Termos. Ada sosok-sosok beragama Islam lainnya yang mempertaruhkan nyawa demi menghindarkan jatuhnya korban akibat bom bunuh diri maupun serangan bersenjata, yang ironisnya dilakukan kelompok militan mengklaim sebagai muslim sejati.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah menyatakan salah satu jihad tertinggi adalah memberantas kezaliman dan kemungkaran. "Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya (kekuatan). Jika tak sanggup, cegahlah dengan lisan. Jika masih tak sanggup, maka cukup dengan hati. Yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman."

Sosok-sosok pria muslim dalam daftar ini merelakan nyawanya demi menggagalkan terorisme. Jelas belaka, bom bunuh diri ataupun serangan bersenjata pada warga sipil adalah aksi pengecut menyasar orang tak berdosa, sehingga lebih pas disebut tindakan zalim.

Berikut profil para pahlawan itu, hasil rangkuman merdeka.com:

Aitzaz Hasan tewas selamatkan ribuan siswa dari bom bunuh diri

tewas selamatkan ribuan siswa dari bom bunuh diri rev2Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sosok pahlawan yang belum banyak dikenal ini berasal dari Distrik Hangu, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Namanya adalah Aitzaz Hasan. Pelajar kelas tiga SMP Ibrahimzai, berusia 15 tahun.

Pada saat kejadian, 6 Januari 2014, Hasan dan sepupunya, Musadiq Ali Bangas berangkat sekolah seperti biasa. Di tengah jalan, keduanya bertemu seorang pemuda usia 20-an tahun yang tidak dikenal, menanyakan alamat sekolah mereka. Ketiganya berjalan beriringan karena searah. Sekolah saat itu sedang menggelar upacara bendera, sehingga nyaris 2.000 pelajar berada di halaman.

Seperti dilaporkan Sydney Morning Herald (11/1/2014), lambat laun, Hasan merasa gelagat pemuda itu semakin aneh. Orang asing itu mengaku ke SMP Ibrahimzai untuk ikut ujian masuk.

Sang sepupu lalu membisikkan bahwa di dada pemuda itu ada rompi yang aneh, kemungkinan bom. Saat ketiganya semakin mendekati gerbang sekolah, Hasan memberanikan diri mengejar pemuda itu. Sadar sudah dicurigai, pelaku bom bunuh diri itu mempercepat langkahnya. Hasan berhasil menghentikan dan menjatuhkan orang mencurigakan ini  tepat di depan gerbang sekolah. Panik, sang pelaku meledakkan dirinya. 

Hasan tewas setelah dilarikan ke rumah sakit, menyelamatkan ribuan nyawa teman-teman sekolahnya. 

Pemerintah Pakistan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Hasan. Jamiat Ulama Pakistan telah memfatwakan bahwa Hasan adalah sosok mujahid sesungguhnya. Kisah perjuangan Hasan diliput oleh media massa Pakistan.

"Dia adalah pahlawan kami, keberanian (Hasan) menginspirasi Pakistan hari ini dan di masa depan," kata Jenderal Angkatan Darat Pakistan, Raheel Sharif.

Abdul Jaleel-Mohammed Bin Isa, martir komunitas Syiah Saudi

mohammed bin isa martir komunitas syiah saudi rev2Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Pada 29 Mei lalu, ISIS menyerang masjid komunitas Syiah di Kota Dammam, Arab Saudi ketika menggelar salat Jumat. Total korban tewas tiga orang, termasuk pelaku. Korban tewas sangat sedikit berkat pengorbanan tiga sosok penjaga masjid. 

Pengebom bunuh diri mendekati masjid itu mengenakan pakaian niqab, sehingga menyerupai perempuan. Abduljaleel Alarbash dan sepupunya Mohammed Bin Isa, keduanya masih berusia 22 tahun, sedang secara sukarela bertugas menjaga keamanan masjid. Mereka segera mencurigai gelagat sosok berbaju kurung itu karena gelisah sebelum memasuki masjid.

Dalam rekaman CCTV, terlihat bahwa keduanya menghalang-halangi sosok memakai niqab itu masuk. Karena memaksa hendak menerobos, keduanya mendorong balik pelaku. Saat itulah bom meledak. Ketiganya tewas di tempat.

Warga Dammam menyebut Alarbash dan sepupunya sebagai pahlawan. "Tanpa keberanian mereka, ratuan nyawa akan melayang hari itu," kata Mohammad Aljady, salah satu warga setempat, seperti dilaporkan Saudi Gazzette.

Ayah Alarbash, Abdul Jalil, mengaku ikhlas anaknya tewas. "Dia melindungi orang yang sedang beribadah," kata sang ayah.

Alarbash baru saja menikah dan melanjutkan studi ke Wichita State University, Kansas Amerika Serikat. Dia pulang ke Saudi dalam rangka liburan. Saat itulah dia menerima tawaran menjaga keamanan masjid bersama sepupunya.

Sekadar membandingkan, ketika tak ada yang menghalangi, aksi ISIS mengirim pembom bunuh diri di Masjid Komunitas Syiah Kota Qudayh, Arab Saudi pada 22 Mei menewaskan 21 orang dan melukai 81 lainnya.

Ahmed Merabet tewas saat halangi serangan Charlie Hebdo

tewas saat halangi serangan charlie hebdo rev2Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Penyerangan bersenjata ke kantor Tabloid Charlie Hebdo awla tahun ini di Ibu Kota Paris, Prancis, menewaskan tidak hanya anggota redaksi tapi juga dua polisi. Salah satu aparat yang tewas beragama Islam.

Dilaporkan oleh Newsweek, Kamis (8/1), Ahmad Merabet (42 tahun), adalah korban pertama serbuan maut itu. Dia polisi yang kebetulan berpatroli saat melihat tiga pria berpakaian hitam-hitam keluar mobil. Dia berusaha menghentikan mereka, tapi kalah persenjataan.

Diduga kuat Ahmed adalah polisi yang terekam di video saksi mata, ditembak dari jarak dekat di bagian kepala. Rekaman ini beredar luas di televisi maupun Internet beberapa jam usai pelaku kabur.

"Almarhum tewas meninggalkan seorang istri," kata Kepala Serikat Polisi Paris (SGP) Rocco Contento.

Di samping Ahmed, Franck D (49 tahun) adalah polisi lain yang tewas dalam insiden tersebut. Dia adalah satuan pengamanan khusus gedung itu. Polisi ditempatkan di kantor ini, lantaran pernah ada serangan molotov pada 2011 selepas Nabi Muhammad dihina di halaman depan.

Abdel Termos halangi ISIS lakukan bom bunuh diri di Beirut

halangi isis lakukan bom bunuh diri di beirut rev2Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sehari sebelum serangan teror di Ibu Kota Paris, Prancis, yang menewaskan 129 orang, Ibu Kota Beirut, Libanon, diguncang dua serangan bom bunuh diri.

Peristiwa itu menewaskan 41 orang. Korban bisa saja lebih banyak seandainya Adel Termos tidak bergegas mengejar pengebom bunuh diri kedua untuk melindungi orang lain dari ledakan. Menurut banyak saksi mata, pelaku bom bunuh diri hendak merangsek ke kerumunan pasar, beruntung keburu disergap oleh Adel.

"Dia mencegat kaki pria itu (pelaku bom bunuh diri) hingga jatuh ke tanah sehingga bom kedua meledak," ujar seorang narablog bernama Elie Fares kepada PRI, seperti dilansir ATTN.com, Sabtu (14/11).  

"Banyak keluarga berutang jasa atas pengorbanannya," imbuh Fares. Adel tewas di tempat.

Basima Atat istri median Adel, seperti dilaporkan the Guardian, mengatakan suaminya itu baru saja menunaikan salat Maghrib berjamaah di Bour al-Barajneh. Kemudian terdengar ledakan pertama. 

Adel segera menelepon istrinya. Pria 32 tahun itu mengatakan akan membantu korban luka. "Setelah telepon itu, ponselnya tidak bisa dihubungi lagi. Saya saat itu langsung yakin dia menjadi martir," kata Basima. Pemakaman Adel akhir pekan lalu dihadiri ribuan warga Beirut. Dia dielu-elukan sebagai pahlawan.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP