Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mereka Berduka Sekaligus Tak Percaya akan Kekejaman Rusia di Ukraina

Mereka Berduka Sekaligus Tak Percaya akan Kekejaman Rusia di Ukraina Pembongkaran kuburan massal korban pembantaian di Bucha Ukraina. ©REUTERS/Valentyn Ogirenko

Merdeka.com - Di pemakaman Stavropol, ada barisan kuburan baru. Tanah yang masih basah itu dihiasi bunga-bunga. Di atas gundukan tanah sebuah bendera militer berkibar tertiup angin. Bendera itu menunjukkan simbol sebuah pasukan elit Rusia.

Di kayu salib yang tertancap di tanah sebuah foto terpasang, sosok si tentara, nama dan kapan dia gugur.

Mereka yang dimakamkan di pemakaman ini gugur setelah 24 Februari, hari ketika Presiden Putin memutuskan Rusia melancarkan operasi militer di Ukraina.

Seorang pemuda bernama Dmitry sedang menaruh bunga anyelir merah di gundukan tanah dari makam sesama rekannya, Sergei Tysyachny.

"Dia seperti ayah kedua bagi saya dan pasukan kami," kenang Dmitry, seperti dilansir laman BBC, Selasa (12/4). "Kami menyayanginya, kami menghormatinya, dan kami berduka untuknya."

Itu sebuah bentuk pujian bagi tentara Rusia yang telah mengalami pertempuran di Ukraina. Kremlin boleh saja berkeras operasi militer itu diperlukan dan bisa dibenarkan. Tapi Sekjen PBB menyebut operasi militer itu "invasi menyeluruh yang melanggar Piagam PBB."

Dunia internasional juga marah dengan kekejaman militer Rusia dan muncul tuduhan mereka melakukan kejahatan perang.

"Saya tidak percaya kebohongan itu," kata Dmitry soal tuduhan kejahatan perang terhadap sejumlah tentara Rusia. "Saya tidak akan pernah mempercayainya."

"Saya kenal komandan saya, Sergei, dia mengajari kami bagaimana bertindak. Saya percaya teman seperjuangan dan pasukan kami. Mereka tidak akan melakukan hal seperti itu."

Namun penyelidikan akan dilakukan di Ukraina.

"Saya yakin tidak akan ada bukti," kata dia. "Saya yakin."

Bentuk keyakinan bahwa Rusia adalah benar dan Barat salah sudah mengakar mendarah daging di media pemerintah Rusia.

Kremlin memakai kekuasaannya untuk mengendalikan televisi buat meyakinkan warga Rusia bahwa mereka dikelilingi oleh banyak musuh: NATO, Amerika, Inggris, Uni Eropa yang dikatakan ingin membuat kacau di dalam negeri.

Presiden Putin juga memonopoli narasi media dengan mengatakan Rusia di Ukraina ini memerangi "Nazi", "neo-Nazi", "ultra-nasionalis" dan "membebaskan Ukraina dari fasisme".

Sejak seluruh media independen Rusia dibredel atau ditutup, sumber informasi alternatif di Rusia sulit didapat.

Janda Sergei Tysyachny, Lada, juga mengatakan dia tidak percaya tentara Rusia melakukan kekejaman di Ukraina.

"Saya tahu seluruh dunia memusuhi kami sekarang," kata Lada. "Mereka menuduh Rusia macam-macam."

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP