Menikah di Korea Selatan bikin kantong \'kempes\'?
Merdeka.com - Jika salah satu lirik The Beatles mengatakan "Semua yang kau butuhkan hanya cinta," maka tidak demikian faktanya di Korea Selatan. Pasangan di Korea Selatan yang ingin menikah juga memerlukan uang, dalam jumlah yang banyak. Pengeluaran untuk menikah di Korea Selatan bisa mencapai USD 200.000 ( atau sekitar Rp 1.8 milyar), hampir empat kali gaji rata-rata di Korea Selatan.
Biaya yang melangit ini dikarenakan adanya tradisi untuk membawa hadiah pra-pernikahan untuk mempelai wanita, seperti mantel bulu dan cincin berlian. Ditambah lagi kebiasaan lain yang mengharuskan mempelai pria bekerja keras untuk membeli rumah sendiri.
Ini membuat para mempelai yang ingin segera menikah harus meminjam uang pada orang tua terlebih dahulu, atau meminjam pada bank. Meskipun begitu, pembicaraan mengenai biaya pernikahan yang tinggi masih dianggap tabu.
"Masyarakat di sini sangat erat, dan peduli pada pendapat orang lain tentang diri mereka," kata Harris H Kim, seorang asisten profesor sosiologi di Ewha Womans University.
"Pernikahan merupakan simbol, sebuah penanda kedudukan Anda di masyarakat," tambahnya.
Seorang wanita yang tak ingin disebut namanya mengaku bahwa dia mendapatkan 90% uang untuk pernikahannya dari orang tua.
"Kami harus menggunakan uang orang tua, yang kemungkinan besar mereka korbankan dari dana pensiun mereka," katanya.
Seorang guru TK bernama Kim juga mengatakan bahwa suaminya, yang memiliki pemasukan sekitar KRW 40 juta, harus meminjam uang pada orang tuanya sebanyak KRW 45 juta untuk menutupi pengeluaran pernikahan yang mengundang 600 orang. Padahal mereka hampir tidak mengenal siapa saja tamu yang mereka undang.
Pemberian hadiah sebelum pernikahan juga menjadi beban tersendiri. Secara tradisional, kedua belah pihak keluarga akan saling memberi hadiah. Sutra yang baik untuk pakaian dan perhiasan sederhana. Namun saat ini, pakaian sutra telah berubah bentuk menjadi pakaian yang mahal, dan perhiasan sederhana segera berubah menjadi satu set perhiasan mewah.
Berdasarkan data dari Couple.net, sebuah perusahaan biro perjodohan, yang paling memberatkan adalah pengeluaran untuk membangun rumah. Pengeluaran untuk rumah mengambil porsi sebanyak 70% dari total pengeluaran pernikahan.
"Bahkan ada seorang pelanggan yang mencari pasangan yang setidaknya bisa menyewa rumah sendiri," kata Sungmi Lee, manajer Couple.net.
Walaupun beberapa pasangan memilih untuk menghabiskan uangnya, banyak yang kurang senang dengan hal itu.
"Perhiasan mahal tidak begitu berguna setelah menikah. Anda akan menyesal telah membelinya karena saat Anda sudah menikah, maka Anda membutuhkan lebih banyak untuk mengurus kehidupan pernikahan Anda," kata Kisun Lee, seorang konsultan, seperti dilansir oleh Reuters. (mdk/kun)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya