Mengungkap peran Amaq, media propaganda ISIS
Merdeka.com - Sejumlah serangan teror di Eropa sudah berulang kali diklaim oleh kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Bahkan ISIS juga mengklaim serangan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, bulan lalu. Klaim itu biasanya muncul dari media propaganda mereka yang bernama Amaq.
Jika pemimpin Al Qaidah, Usamah Bin Laden, menggunakan rekaman video atau suara tersembunyi yang dikirim ke jaringan televisi internasional untuk mengklaim satu kejadian teror, maka kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) punya cara lain untuk menunjukkan eksistensinya: lewat Amaq.
Serangan teror seperti bom Brussel, Belgia, contohnya, diklaim ISIS lewat kantor berita Amaq menggunakan dua bahasa berbeda yakni Arab dan Inggris.
Menurut peneliti senior dari asosiasi Universitas Negeri Georgia, Atlanta, Charlue Winter, Amaq digunakan oleh ISIS sebagai upaya untuk menebar ancaman serta mendapatkan dominasi informasi tentang musuh-musuhnya.
"Agen berita tersebut merupakan bagian dari strategi propaganda ISIS yang lebih luas karena kelompok tersebut ingin pesan yang disampaikan hanya berpusat kepada satu sumber," ujar Winter, seperti dilansir dari laman Asharq Al Aswat, Kamis (15/6).
Sebelum berkembang seperti sekarang, Amaq pertama kali muncul pada akhir 2014 lalu dengan platform seperti blog WordPress yang berisi berbagai siaran pers hingga laporan. Namun kini, Amaq sudah menerapkan teknologi terenkripsi untuk menghindari pemantauan sosial media yang semakin ketat.

Para militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) alarabiya.net
Dapat dikatakan, agen berita ini telah memainkan peran cukup besar dan bergerak sangat cepat sebagai mesin propaganda ISIS di luar rentetan komentar yang diberikan oleh pendukung di media sosial.
Peneliti Forum Timur Tengah berbasis di Philadelphia, Aymenn Jawad Al-Tamimi, menyebut kantor berita Amaq sebagai unit media tambahan dari administrasi ISIS.
"Mereka adalah bagian dari ISIS, tetapi khusus menangani strategi media. Namun tidak jelas siapa yang mengepalai operasi tersebut dan dari mana asalnya," katanya.
Kendati demikian, keabsahan Amaq sebagai pengantar informasi dari ISIS kepada dunia sempat dipertanyakan. Sebab, setiap kali terjadi serangan teror di berbagai belahan dunia, ISIS selalu mengklaim segalanya lewat Amaq.
"Yang ditunjukkan Amaq seolah-olah mereka berbicara dengan seseorang di lapangan untuk memastikan bahwa "si penyerang" melakukan teror atas nama ISIS, sebagaimana cara kerja seorang wartawan," tulis jurnalis New York Times, Rukmini Callimachi, dalam akun Twitternya seperti dilansir dari New Indian Express.
"Jika anggota ISIS banyak yang tinggal di Suriah dan Irak, bagaimana bisa mereka mendapat informasi dari orang lapangan? Lagipula mereka tidak memiliki akses internet yang baik, lalu bagaimana bisa mereka mengirim video dan foto secara daring?" tambahnya.
Hal tersebut kemudian menimbulkan spekulasi dari para pengamat. Banyak yang menduga bahwa beberapa anggota ISIS yang bekerja untuk Amaq tinggal di Eropa, tempat dengan akses internet tercepat. Kecurigaan tersebut bertambah kuat saat ada seorang pria yang ditangkap di Jerman karena dicurigai bekerja untuk Amaq.
Kantor kejaksaan Jerman menyatakan bahwa tersangka bernama Mohammad G pernah berbicara dengan seorang pria yang mendirikan pusat komunitas Syiah di Swedia untuk memastikan apakah dia melakukan serangan atas nama ISIS.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya