Mengapa Sebagian Orang Indonesia Dukung Invasi Rusia ke Ukraina?
Merdeka.com - Sewaktu Majelis Umum PBB menggelar Sidang Darurat bulan ini, Indonesia bersama 140 negara lainnya sepakat mengecam invasi Rusia ke Ukraina. Namun keputusan pemerintah Indonesia ini tidak didukung oleh semua warga di Tanah Air.
Mako Setiawati, warga di Situbondo, Jawa Timur, salah satu di antaranya. Perempuan 75 tahun dari etnis Tionghoa ini mendapat banyak informasi soal perang dari media sosial, termasuk pesan yang dikirimkan kerabat dan kontaknya lewat aplikasi WhatsApp.
Ada salah satu pesan yang dibagikan berulang kali yang asalnya dari situs Weibo, China, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pesan itu memakai analogi untuk menjelaskan mengapa Rusia menginvasi Ukraina. Analoginya adalah menganggap Moskow seperti layaknya seorang suami yang menderita karena istrinya (Ukraina) tidak tahu terima kasih dan ingin mengambil anak mereka setelah sang istri mengajukan cerai.
Sang suami bahkan membayari utang-utangnya. Tapi si istri malah bersenang-senang dengan teman-temannya (Amerika Serikat) dan membuat kelompok (AS dan sekutunya) serta menjelekkan nama suaminya.
Si suami kemudian kehilangan kesabaran dan meminta mantan istrinya untuk mengembalikan salah satu anak mereka (Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada 2014), tapi si istri mulai memperlakukan anak mereka yang lain dengan buruk dan membuat si suami harus menghukumnya.
"Saya tidak bisa bersimpati dengan Ukraina karena mereka memperlakukan Rusia dengan buruk dan kini mereka sedang menuai apa yang sudah mereka tabur," kata Mako seraya mengatakan Moskow bertindak karena alasan keamanan karena Ukraina ingin bergabung dengan Uni Eropa dan NATO.
Benci terhadap AS
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comChina juga tidak mengecam Rusia atau menyebut aksi negara itu sebagai invasi. Beijing mengatakan mereka menghormati kedaulatan Ukraina dan ingin mengambil peran konstrktif dalam menengahi konflik di Ukraina.
Mako mengaku dia banyak melihat pesan berbahasa China dan video yang mendukung Rusia di ponselnya. Dia juga mengandaikan keputusan Presiden Rusia Valdimir Putin terhadap Ukraina adalah seperti ketika AS memutuskan menginvasi Irak pada 2003 untuk menghancurkan senjata pemusnah massal dan menggulingkan diktator Saddam Hussein.
"Saya tidak melihat apa yang dilakukan Rusia itu salah," kata dia, seperti dilansir laman South China Morning Post, Rabu (8/3).
Kezia Dewi, mahasiswa doktoral asal Indonesia di Universitas KU Leuven, Belgia, mengatakan dia mengetahui banyak pesan pro-Putin yang beredar di media sosial yang digunakan banyak orang China Indonesia.
"Meski masih butuh penelitian empiris, tampaknya ada pergeseran cara pandang orang China Indonesia terhadap AS dan sekutunya sejak pandemi dimulai. Terlebih ada narasi kuat yang disebarkan China untuk menolak anggapan sebagai negara asal-usul virus corona," kata Kezia yang sedang mengerjakan tesisnya soal komunitas China Indonesia di perkotaan.
Dia mengatakan banyak orang China Indonesia saat ini cenderung defensif terhadap apa yang mereka nilai bentuk kecaman AS terhadap China atau orang China.
Dalam konteks invasi Rusia ke Ukraina, sentimen anti-Amerika di tengah masyarakat Indonesia dan empati dengan China membuat orang mendukung Rusia sebagai musuh AS, kata Kezia.
Tapi sikap benci terhadap AS tidak ekslusif terjadi pada orang China Indonesia saja.
Muslim Indonesia juga tidak suka dengan kebijakan AS di Afghanistan, Irak, Suriah. Reputasi Rusia di mata orang muslim Indonesia masih lebih baik ketimbang AS.
Kandidat doktor ilmu politik di Johan Sytte Institute of Political Studies, Universitas Tartu, Estonia, mengatakan Rusia sudah mencoba memperbaiki citra mereka di dunia muslim setelah era Perang Chechen Kedua pada 2000.
Radityo mengatakan Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov, seorang loyalis Kremlin, banyak disukai muslim Indonesia. Komentar Kadyrov bahkan tampil di media berbahasa Indonesia dan dia dipandang sebagai sosok muslim.
"Ada persepsi Putin itu lebih pro-Islam ketimbang AS, meski generasi lebih tua masih ingat bagaimana Rusia menyerang Chechnya dan Uni Soviet di Afghanistan," kata Radityo.
Sosok Putin
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSejumlah sarjana, termasuk mereka yang lulusan Rusia, kini menjadi terkenal di media sosial Indonesia karena komentar-komentarnya di dunia maya.
Termasuk dosen hubungan internasional Dina Yulianti Sulaeman yang mengajar di Universitas Padjajaran, Bandung. Dia juga adalah direktur Pusat Kajian Timur Tengah.
Dalam sebuah unggahan di media sosial Dina menyebut Ukraina adalah "Suriah Versi Lain" seraya mengatakan konflik pada 2014 di Ukraina didalangi oleh Barat untuk menciptakan kondisi seperti di Suriah dengan memecah belah kelompok-kelompok di Ukraina.
Dina menuturkan apa yang disampaikan Putin tentang kelompok neo-Nazi dan supremasi kulit putih yang merongrong warga Ukraina berbahasa Rusia di Donetsk dan Luhansk.
Dina mengungkapkan kepada This Week In Asia bahwa Putin mendapat pujian dari orang Indonesia karena dia berani melawan hegemoni AS.
"Ketika para pemimpin negara bungkam atas campur tangan Amerika di berbagai belahan dunia, Putin dengan tegas berani melawan. Banyak dari kita bersyukur masih ada ada orang seperti dia."
Dina juga mengatakan masih ada alasan lain mengapa muslim Indonesia mendukung Rusia.
"Banyak yang percaya dengan hadits Nabi yang mengatakan di akhir zaman nanti bangsa Rum, yang kemudian diartikan sebagai Rusia, akan bergabung dengan muslim melawan musuh besar," kata dia.
Duta besar Ukraina untuk Indonesia sudah menemui organisasi muslim moderat terbesar Nahdlatul Ulama (NU) pada Ahad lalu dan Duta besar Rusia juga melakukan hal yang sama pada Selasa.
Media melaporkan dubes Ukraina meminta dukungan dari NU agar menekan Rusia untuk mengakhiri invasi ke negaranya.
Bagi banyak orang Indonesia, Putin dipandang sebagai sosok yang tegas dan disegani.
Dharmaputra mengatakan sosok Putin mengingatkan orang tentang pemimpin ideal yang dibayangkan banyak orang Indonesia yaitu yang tegas dan semi-otoritarian.
"Ini juga mengapa banyak orang Indonesia yang mengejek Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dulunya adalah komedian dan selebritas TV. Kontras dengan latar belakang Putin yaitu mantan intelijen KGB."
Sosok Putin juga mengingatkan orang Indonesia pada presiden pertama, Soekarno, yang dikenal sangat anti-politik Barat pada 1960-an dan pernah mengatakan kepada AS, "go to hell with your aid."
Rahino Sudjojono, blogger dari Yogyakarta, mengatakan sejarah Indonesia juga memberi perspektif terhadap perang di Ukraina ini.
"Saya bisa paham mengapa Putin memutuskan menyerang. Inilah kenapa Bung Karno menolak pembentukan negara boneka, yaitu Malaysia. Jadi Putin pasti berpikir hal yang sama dengan Soekarno."
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya