Menantunya diduga buka jalur rahasia dengan Rusia, Trump menyangkal
Merdeka.com - Dugaan keterlibatan Jared Kushner, penasihat sekaligus menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kasus kolusi dengan pihak Rusia perlahan terkuak. Menurut beberapa sumber, Jared dikabarkan tiga kali berkomunikasi diam-diam dengan pihak Negeri Beruang Merah saat dan setelah kampanye Trump.
Seperti dilansir dari laman Reuters, Senin (29/5), pembicaraan rahasia antar Jared dan pihak Rusia terjadi pada April hingga November tahun lalu. Dia dikabarkan menjalin kontak dengan perwakilan Rusia, Sergei Kisylak, tanpa sepengetahuan Gedung Putih.
Biro Penyelidik Federal (FBI) enggan memberi tanggapan soal kabar ini. Begitu juga dengan Gedung Putih. Namun, Rusia menyatakan hal itu adalah urusan pribadi antara Jared dan Sergei.
Kuasa hukum Jared, Jamie Gorelick, menyatakan sebagai eksekutif dan kini masuk dalam pemerintahan, kliennya mengaku tidak ingat soal kapan pembicaraan dengan Sergei saking banyaknya komunikasi melalui telepon.
"Klien saya menerima ribuan telepon saat itu. Dia tidak ingat lagi soal pembicaraan (dengan Sergei) itu. Kami sudah meminta kalau ada catatan waktu tentang telepon yang dimaksud, tetapi belum menerima," kata Jamie.
Pada Maret lalu, Gedung Putih mengakui kalau Jared dan mantan penasihat keamanan Trump, Robert Flynn, bertemu dengan Sergei di Menara Trump pada Desember tahun lalu. Tujuannya membuka 'jalur komunikasi'. Sergei dan Jared juga hadir saat Trump berpidato di Washington pada April 2016.
Menurut sumber, 'main mata' antara Jared, Flynn, dan Sergei sudah terjadi jauh sebelum kampanye Trump digelar. Mulanya mereka membicarakan tentang rencana bersekutu memerangi terorisme dan memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara. Sebab, Presiden Barack obama menjatuhkan sanksi atas Rusia karena menduduki Semenanjung Krim dan mendukung pemberontak di timur Ukraina pada 2014.
Kemudian selepas pemilihan presiden pada 8 November 2016, Kushner dan Flynn bertemu kembali di tempat yang dirahasiakan dengan Sergei buat membicarakan bagaimana caranya mereka bisa membuka 'jalur khusus' buat komunikasi antara Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal itu buat menghindari protokol diplomasi dan lembaga intelijen di masing-masing negara.
Pembicaraan kedua pihak itu dibuktikan dengan 18 kali percakapan telepon dan surel antara orang-orang dekat Trump dan pelobi Kremlin. Dialog itu terjadi tujuh bulan sebelum pemilihan presiden.
Nama Jared muncul setelah laporan penyelidikan terhadap Flynn menyebutkan ada orang AS lain dalam dugaan persekongkolan itu. Dia juga dikabarkan bertemu dengan kepala Vnesheconombank yang juga intelijen Rusia, Sergei Nikolaevich Gorkov, di Menara Trump pada Desember lalu. Namun, mereka berdalih isi dialog cuma soal bisnis dan mempersiapkan strategi bisnis baru. Sebenarnya bank itu dijatuhi hukuman pada 2015 karena memata-matai. Petinggi mereka di New York mengakuinya dan dipenjara.
Menurut penyelidikan lembaga telik sandi AS, diduga Rusia membantu kampanye dan kemenangan Trump melalui peretasan komputer, propaganda dan pembuatan berita palsu buat mengalahkan lawannya, Hillary Clinton.
Setelah pulang dari lawatan dunianya, Trump buru-buru menyanggah seluruh kabar itu hanya lewat akun Twitter-nya. Dia menyatakan menantunya tidak mungkin melakukan percakapan rahasia dengan Rusia.
"Pendapat saya soal bocoran yang katanya dari Gedung Putih itu semua hanya kebohongan yang dibuat-buat oleh media massa yang membikin berita palsu," tulis Trump.
Menurut Trump, berita-berita soal dia dan menantunya yang hanya mencantumkan sumber an tidak menyebut nama, maka kemungkinan besar sumber-sumber itu hanya khayalan para jurnalis yang menulisnya. Bahkan, Trump sudah bersiap menemui para kuasa hukumnya terkait hal itu.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya