Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Membandingkan Program Rudal Korea Selatan dan Korea Utara, Siapa Lebih Unggul?

Membandingkan Program Rudal Korea Selatan dan Korea Utara, Siapa Lebih Unggul? Rudal Korea Utara. ©AP

Merdeka.com - Ketegangan meningkat dramatis di Semenanjung Korea dalam beberapa hari terakhir setelah Korea Utara dan Korea Selatan melakukan uji coba serangkaian rudal balistik.

Pada 12 September, Korea Utara mengatakan pihaknya melakukan uji coba sebuah rudal jelajah jarak jauh “strategis” yang berhasil mencapai target 1.500 km sebelum jatuh ke perairan wilayah Korea Utara.

Tiga hari kemudian, kedua negara melakukan uji coba peluncuran rudal balistik - amunisi berpemandu yang dapat membawa hulu ledak nuklir atau konvensional.

Berikut penjelasan terkait program rudal dan kemampuan militer Korea Utara dan Korea Selatan, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/9)/

Sejarah singkat dua Korea

Setelah kekalahan kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet membagi Semenanjung Korea, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Jepang.

Uni Soviet menguasai wilayah utara dan AS di selatan.Pada 1950, pasukan Korea Utara, didukung China dan Uni Soviet, menginvasi Korea Selatan, menjadi pemicu Perang Korea. Bersekutu dengan Korea Selatan, AS mengerahkan 1,78 juta pasukan selama perang tiga tahun itu.

Gencatan senjata disepakat tapi tidak ada perjanjian dama formal yang ditandatangani.

Kekuatan militer Korea Selatan vs Korea Utara

Baik Korea Selatan maupun Korea Utara terus meningkatkan pengeluaran militer mereka dari waktu ke waktu.

Korea Utara memiliki militer terbesar keempat di dunia dengan sekitar 1,28 juta personel aktif, menurut Institut Internasional untuk Studi Strategis.

Menurut Departemen Luar Negeri AS, Korea Utara, negara berpenduduk 25,8 juta orang, menghabiskan hampir seperempat dari produk domestik bruto (PDB) untuk militernya – lebih banyak daripada negara lain mana pun di dunia.

Militer Korea Selatan memiliki kekuatan hampir 600.000, sekitar setengah ukuran Korea Utara. Korea Selatan juga menampung sekitar 26.400 tentara Amerika di setidaknya 73 pangkalan di seluruh negeri.

Kamp Humphreys, pangkalan militer AS terbesar di luar negeri, terletak sekitar 100 km dari Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dijaga ketat yang memisahkan kedua Korea.

Sebagai bagian dari Perjanjian Tindakan Khusus (SMA), pemerintah Korea Selatan membayar USD 1 miliar setiap tahun untuk menerima dukungan militer AS.

Perbandingan program rudal

rudalRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sejak 1984, Korea Utara telah melakukan lebih dari 150 uji coba rudal, menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS).

Ini berkisar dari rudal jarak pendek (SRBM) – yang memiliki jangkauan kurang dari 1.000 km – hingga rudal balistik antarbenua (ICBM) – dengan jangkauan minimum 5.500 km biasanya digunakan untuk membawa senjata nuklir.

Lebih dari setengah uji coba ini berlangsung dalam 10 tahun terakhir di bawah kepemimpinan Kim Jong Un yang mewarisi kekuasaan setelah kematian ayahnya pada tahun 2011.

Pria berusia 37 tahun itu telah mengancam akan terus membangun senjata berteknologi tinggi yang menargetkan AS dan menolak seruan pemerintah Biden untuk berdialog, menuntut agar Washington mengabaikan kebijakan "bermusuhan" terlebih dahulu.

Pada Mei, pemerintahan Biden mengumumkan pendekatan baru ke Korea Utara, dengan mengatakan pihaknya masih mengejar denuklirisasi tetapi tidak siap untuk memberikan "tawaran besar" kepada Pyongyang.

Jangkauan rudal balistik Korea Utara secara bertahap meningkat selama bertahun-tahun. Pada November 2017, Korea Utara melakukan uji coba ICBM Hwasong-15, yang memiliki jangkauan perkiraan 12.874km dan dapat mencapai mana saja di benua AS.

Program nuklir Korea Utara

Pada 2003, Korea Utara menarik diri dari Perjanjian Proliferasi Nuklir – sebuah perjanjian internasional PBB untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan teknologi senjata.

Tiga tahun kemudian, di bawah kepemimpinan Kim Jong Il, negara itu meledakkan senjata nuklir pertamanya di situs uji coba nuklir bawah tanah Punggye-ri jauh di pegunungan di timur laut Korea yang jarang penduduknya.

Totalnya, Pyongyang telah melakukan enam uji coba nuklir.

Pada September 2017, diyakini Korea Utara menguji bom hidrogen 140+ kiloton - jenis bom atom yang jauh lebih kuat.

Pada Agustus 2021, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan pihaknya meyakini Korea Utara telah memulai kembali reaktor nuklir yang digunakan untuk memproduksi plutonium untuk senjata atom. IAEA tidak memiliki akses ke Korea Utara sejak Pyongyang mengusir inspekturnya pada tahun 2009.

Korea Utara berada di bawah berbagai sanksi internasional atas senjata nuklir dan program rudal balistiknya yang dilarang.

Angkatan Darat AS memperkirakan Korea Utara memiliki antara 20 hingga 60 senjata nuklir.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP