Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

"Memakai Jilbab Bukan Berarti Perempuan Muslim Tertindas"

Perempuan muslim protes larangan hijab di India. ©REUTERS/Anushree Fadnavis

Merdeka.com - Nabeela Shaikh berusia 30 tahun ketika dia mulai memakai jilbab. Dari ketiga saudara perempuannya, dia yang terakhir memutuskan menutup auratnya.

Kakak tertuanya, Muzna, pertama kali memakai jilbab saat berusia delapan tahun, terinspirasi oleh seorang sepupunya. Dia kemudian memakai jilbab tergantung siapa yang ada di sekitarnya - sampai, katanya, dia menyadari bahwa dia tidak bisa "menyenangkan semua orang".

Saudara paling kecil, Sarah, mencapai titik paling menyedihkan dalam hidupnya ketika mimpinya menjadi dokter bedah terhalang nilai ujian yang rendah.

"Dimulai dengan hal-hal seperti salat tepat waktu," ujarnya.

"(Keinginan memakai) jilbab muncul belakangan dan muncul secara alamiah," lanjutnya, dikutip dari BBC, Rabu (23/2).

Lahir dari orang tua dokter, kakak beradik ini dibesarkan di kota metropolitan pesisir India, Mumbai. Ibu mereka belum memakai jilbab. Tetapi ketika mereka melakukannya, orang menganggap itu karena paksaan.

Jilbab dipakai secara luas di India, di mana menampilkan ciri khas agama merupakan hal biasa tapi bulan lalu, siswa perempuan di negara bagian Karnataka melakukan protes setelah dilarang masuk kelas karena memakai jilbab dan kemudian persoalan jilbab menjadi sorotan tidak seperti sebelumnya.

Pertanyaannya - apakah anak perempuan Muslim memiliki hak memakai jilbab ke sekolah - sekarang sedang dibahas di pengadilan. Persoalan ini menuai kemarahan, membuat kampus-kampus terbelah dan menghentikan sejumlah siswa Muslim yang memakai jilbab di Karnataka untuk masuk kelas.

BBC mewawancarai sejumlah perempuan Muslim di seluruh India yang mengatakan mereka merasa marah dengan perdebatan yang mengganggu ini.

"Kami tak henti-hentinya diingatkan bahwa untuk diterima, kami harus mengorbankan agama kami," kata salah seorang perempuan dari Delhi.

Apa yang ditenggelamkan oleh kemarahan publik, kata mereka, adalah sifat pilihan mereka yang sangat pribadi.

Mereka yang memilih memakai jilbab mengatakan itu bukan semata-mata keputusan religius, tapi juga muncul karena perenungan atau refleksi. Dan mereka yang memilih tidak memakainya mengatakan rambut mereka bukan ukuran atas keimanan mereka.

Saya tidak tertindas

"Orang-orang tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merasa berdaya dengan memakai sebuah penutup kepala," kata Nabeela.

"Itu membingungkan mereka lalu mereka menghakimi kami."

Tertindas adalah sebuah kata yang biasanya ditujukan bagi perempuan yang memakai jilbab.

"Perempuan Muslim keluar di jalan-jalan untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan Anda masih mengatakan pada saya bahwa perempuan-perempuan ini tidak bisa memikirkan dirinya?" kata Naq (27) dari kota Bangalore.

Ketika Naq memutuskan memakai jilbab lima tahun lalu, dia menghadapi reaksi "yang sangat aneh".

"Kerudungku mengungkap banyak pola pikir orang," ujarnya.

"Orang-orang akan mendesis padaku: Apakah kamu tertindas? Kamu enggak kepanasan? Sampo apa yang kamu pakai? Beberapa orang bahkan menanyakan apakah aku punya rambut - mereka pikir saya sakit kanker."

Baginya, jilbab juga sebuah eksperimen fashion. Ada kemewahan dalam setiap untaian dan padanan warna.

"Orang-orang berpikir jilbabku tampak aneh dengan baju-baju trendi dan make up-ku. Tapi enggak kok," ujarnya.

"Jika saya masuk ke sebuah ruangan, saya ingin orang-orang melihatku dan berpikir, itu seorang perempuan Muslim yang mencapai tujuannya, keliling dunia, dan berkembang."

Perempuan Muslim lainnya - seperti Wafa Khatheeja Rahman, seorang pengacara di kota Mangalore, mengatakan tidak memakai jilbab tidak membuat mereka kurang Muslimah.

"Saya tidak memakainya karena tidak sesuai dengan diri saya - dan tidak ada orang yang bisa suruh saya memakainya," ujarnya.

"Tapi sama juga seperti itu, tidak ada orang yang bisa suruh saya jangan memakainya."

Ibu Wafa juga tidak pernah memakai jilbab - tapi dia mengatakan dia tumbuh dengan iman di sekelilingnya, mendengarkan cerita tidak hanya Nabi tetapi juga perempuan dalam Islam.

"Istri pertama Nabi adalah seorang pengusaha, sedangkan yang kedua menunggang unta menuju pertempuran. Jadi, apakah kami benar-benar tertindas seperti yang dunia ingin kami percayai?"

Terinspirasi Malala

Ada masa ketika Falak Abbas tak suka menutup rambutnya, pilihan yang tidak biasa di Varanasi, kota konservatif di India utara.

Tapi dia saat itu berusia 16 tahun ketika melihat Malala Yousafzai, pemenang Nobel Perdamaian asal Pakistan, dan itu mengubah pikirannya.

"Kepalanya tertutup, tapi dia terdengar sangat kuat. Saya terinspirasi dan memutuskan untuk menutup kepala saya juga," kisahnya.

Sekolahnya keberatan, mengatakan jilbab tidak sesuai dengan seragam sekolah, yang terdiri dari tunik panjang dan celana.

Falak mengaku tiga hari dilarang masuk kelas - bahkan dia tidak bisa mengikuti ujian biologi. Ketika dia protes, sekolah memanggil orang tuanya dan dia dituduh tidak sopan.

"Mereka mengatakan, jika saya memakai jilnan, itu akan menimbulkan masalah tidak hanya untukku tapi juga sekolah ketika setiap orang mengetahui kalau saya Muslim," ujarnya.

"Apa salahnya menjadi seorang Muslim?"

Tapi dia mengalah setelah orang tuanya mengatakan jangan "membahayakan pendidikannya karena jilbab".

Delapan tahun kemudian, melihat kejadian di Karnataka, dia merasakan "kemarahan mendalam".

Menanti putusan sidang

Sementara sidang pengadilan seolah-olah terfokus pada soal memakai jilbab di dalam kelas, perempuan Muslim cemas tentang bagaimana putusan itu akan dimainkan di India yang sangat terpolarisasi di bawah pemerintahan nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi.

Simeen Ansar, dari Hyderabad, mengatakan jilbab sedang diubah menjadi simbol subversif demi "keuntungan politik".

"Saya tumbuh dengan gadis-gadis Hindu yang menutupi kaki mereka di bawah rok sekolah mereka, sebuah fakta yang tampak tidak lebih luar biasa bagi saya pada saat itu daripada melihat anak laki-laki Sikh mengenakan sorban," jelasnya.

"Tetapi ketika berbicara tentang jilbab, perempuan Muslim direduksi menjadi biner. Saya tradisional dan tertindas jika saya memakainya, modern dan terbebaskan jika tidak."

Simeen mengatakan dia dan saudara perempuannya pernah mulai memakai jilbab tapi kemudian melepasnya karena pilihan mereka tidak pernah benar-benar diterima.

Saat kakaknya mendapat perlakuan diskriminatif di tempat kerjanya, Simeen mengatakan orang-orang melongo menatapnya di tempat-tempat di mana mereka tidak pernah mengira akan melihat perempuan berjilbab seperti di pusat kebugaran, bar, atau di sebuah pesta.

"Cara orang melihatmu bisa sangat melelahkan," ujarnya.

Dan ini adalah ketakutan yang disuarakan banyak perempuan Muslim - jilbab yang akan diperhatikan semua orang lebih dari sebelumnya.

Kegelisahan itulah yang membuat Wafa yang tak berjilbab pun mengikuti sidang di pengadilan Karnataka dengan seksama.

"Bahkan saat saya sedang bekerja, saya memakai earphone dan mengikuti proses (persidangan)," katanya.

Dia khawatir bagaimana ini akan mempengaruhi teman dan keluarganya yang mengenakan jilbab.

"Kalian copot jilbabku, lalu apa? Namaku masih bahasa Arab. Apakah saya harus mengubahnya juga untuk mendapatkan rasa hormat dari kalian?"

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP