Massa padati Lapangan Tahrir kecam hukuman Mubarak
Merdeka.com - Ribuan massa menamakan diri 'Apel Akbar Jutaan Manusia' menduduki Lapangan Tahrir di Ibu Kota Kairo, Mesir, kemarin. Pelbagai warga dari kelompok reformis ini menganggap hukuman seumur hidup mantan Presiden Husni Mubarak tidak sesuai tuntutan mereka.
Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Rabu (6/6), para pengunjuk rasa merupakan gabungan massa Ikhwanul Muslimin dan koalisi partai-partai liberal serta sosialis. Tiga kandidat presiden yang kalah di pemilihan umum bulan lalu, Hamdin Sabbahi, Abdul Munim Abul Futuh, dan Khaled Ali turut bergabung bersama warga dan berorasi di Alun-alun Tahrir.
Di lapangan pusat kota itu, massa meneriakkan yel-yel anti rezim lama. "Kita kaum revolusioner akan meneruskan perjuangan," seru mereka. Warga menilai Mubarak dan kroni-kroninya harus dihukum mati.
Hukuman rezim lama dianggap tidak sesuai tuntutan mereka, terutama karena dakwaan korupsi disebut pengadilan tidak terbukti.
Pada persidangan akhir pekan lalu, Mubarak dihukum seumur hidup karena terbukti memerintahkan pembunuhan aktivis. Tangan kanan Mubarak, Habib al-Adly juga dihukum seumur hidup.
Anak-anak Mubarak, Alaa dan Gamal, buat sementara dibebaskan dari dakwaan korupsi, tapi masih berada di tahanan karena ada beberapa tuntutan lain belum disidangkan.
Selain kecewa pada hasil pengadilan Mubarak, unjuk rasa kemarin digelar sebagai wujud boikot kelompok reformis pada Junta Militer. Tentara berupaya mengusulkan perubahan undang-undang dasar baru. Seluruh partai diundang membahas tambahan ayat baru di konstitusi dan susunan fraksi parlemen, seperti dilansir surat kabar al-Masry al-Youm.
Kekuatan politik pemenang pemilu seperti Partai Kebebasan dan Keadilan, Aliansi Sosialis, dan Serikat Muda Maspero, memboikot undangan dewan tentara. Kelompok reformis menuding militer masih berhasrat menguasai Mesir. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya