Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kekuasaan Erdogan tak terbatas, bagaimana masa depan Turki?

Kekuasaan Erdogan tak terbatas, bagaimana masa depan Turki? Kemenangan Erdogan di Referendum Turki. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendulang kemenangan dari hasil referendum yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Dengan suara sebesar 51,4 persen, Erdogan semakin menguatkan cengkramannya di ranah politik Turki.

Kemenangan Erdogan ini kemudian memuluskan langkahnya mengganti sistem pemerintahan negara dari yang tadinya parlementer menjadi presidensial. Tentunya masyarakat di kota besar Turki semakin sadar kalau sistem pemerintahan ini malah membuat sang presiden semakin otoriter.

Lalu, bagaimana masa depan Turki di era baru kepemimpinan Erdogan ini?

Dikutip dari tulisan Steven A Cook, yang dilansir pada laman foreignpolicy.com, Senin (17/4) menuliskan, sebelum terbentuk menjadi Turki, negara ini merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman, namun hal tersebut diubah Mustafa Kemal, yang dikenal sebagai Ataturk atau pendiri Turki.

Kemal memberikan kekuatan eksekutif dan legislatif kepada wakil-wakil terpilih dari parlemen. Dari otoritas sultan, pemerintahan kemudian serahkan sebagian ke tangan legislator yang mewakili kedaulatan rakyat.

Apa yang sudah dibangun sejak 1921 oleh Kemal, akan kembali dipertaruhkan dalam referendum selama akhir pekan kemarin. Steven menyebutkan sejarah yang dimiliki Turki sangat rumit.

"Republik Turki memiliki sejarah yang bisa disebut rumit," ujarnya dalam tulisan bertajuk 'RIP Turki 1921-2017'.

Meski demikian, Yavuz Baydar seorang blogger menyebutkan referendum ini merupakan prestasi besar yang dicapai masyarakat Turki hampir seabad lamanya.

"Ini merupakan prestasi besar. Dalam waktu hampir satu abad, masyarakat agraris yang hancur karena perang berubah memiliki kekuatan yang mempunyai pengaruh di wilayah sendiri. Pada saat yang sama, sejarah modern Turki juga sudah non-demokratis, represif dan terkadang cenderung berpihak pada kekerasan. Dengan demikian, masuk akal Erdogan ingin membuat politik sempurna untuk mencari transformasi Turki dengan memberdayakan presiden dan menutup kemungkinan orang-orang menjadi korban republik, seperti dirinya," ungkap Baydar, seperti dikutip dari The Guardian.

Di periode Ottoman, Turki Islam sangat dihormati. Mereka berambisi untuk menjadi pemimpin Muslim dunia, berpasangan dengan Pakistan, Malaysia, Iran, Mesir dan Indonesia.

Namun, lepas dari kekuasaan Ottoman, republik malah mewakili pengorbanan budaya dan sekularisme represif dalam pelayanan. Para pemimpin Turki selanjutnya ini mengklaim adalah ide Ataturk untuk menjadikan Turki sebagai bagian dari negara Barat dan Barat akan menerimanya.

Akankah Turki kembali ke masa kejayaan era Ottoman di tangan Erdogan? Hal tersebut bisa dilihat lagi setelah dia benar-benar menjalankan perannya sebagai presiden yang paling berkuasa dan tidak bisa diganggu gugat.

Perdana Menteri Binali Yildrim mengatakan dengan keberhasilan referendum ini, Erdogan akan bisa meningkatkan perekonomian, mempercepat pembangunan dan melawan musuh asing serta domestik. Sayangnya, sekitar 48,6 persen dari 47,5 juta suara yang masuk memilih tidak setuju dengan perubahan sistem pemerintahan tersebut.

Mereka menganggap adanya suatu kecurangan dari perhitungan suara tersebut. Akhirnya, protes merebak di sebagian wilayah di kota besar Turki, seperti Istanbul, Ankara dan Izmir. Di ketiga kota ini, suara 'tidak setuju' menang.

Dalam protesnya, oposisi anti-Erdogan di Istanbul menunjukkan ketidakpuasan mereka dengan memukul panci dan wajan, serta peralatan dapur lain sebagai aksi protes. Ratusan pendukung oposisi ini juga menyerbu wilayah Besiktas dan Kadikoy.

AFP melaporkan Kepala Badan Pemilihan Umum Turki, Sadi Guven menegaskan bahwa hasil referendum tersebut sudah sah. Tetapi, pihak oposisi tetap meminta agar suara dihitung ulang.

Referendum tentang perubahan konstitusi akan sama sekali menghapuskan jabatan perdana menteri, yang memungkinkan Erdogan menggenggam semua birokrasi negara di bawah kekuasaannya.

Dalam pidato kemenangannya, Erdogan mengatakan hasil referendum ini menjadi awal era baru di Turki.

"Insya Allah, hasil ini akan menjadi awal dari sebuah era baru di negara kita," ujar Erdogan dalam konferensi pers kemenangannya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP