Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Masa depan Amerika di tangan Donald Trump

Masa depan Amerika di tangan Donald Trump Kegembiraan pendukung Donald Trump. ©REUTERS

Merdeka.com - Donald Trump akhirnya memastikan kemenangan dalam pemilu Amerika Serikat yang digelar kemarin. Setelah perolehan electoral votenya melebihi 270, pria 70 tahun itu akhirnya akan menjadi presiden ke-45 Amerika usai mengalahkan Hillary Clinton yang diusung Partai Demokrat.

Trump selama masa kampanye dikenal sebagai sosok yang temperamental, rasis, dan bahkan cabul. Masa depan seperti apa yang bisa diharapkan dari sosok seperti itu? Apa yang akan dialami warga Amerika di bawah kepemimpinan Trump? Simak ulasan di bawah ini:

Warga muslim akan merasa tertekan

akan merasa tertekan rev3Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Yang paling orang ingat, di masa kampanyenya Sang Raja Properti itu pernah mengatakan akan melarang warga muslim masuk ke Amerika. Muslim yang dilarang masuk itu mencakup mahasiswa, turis, sampai pengusaha yang sedang ada urusan di AS. Gagasan ini adalah respon Trump terhadap penembakan massal di California, yang dilakukan pasangan suami istri muslim.Sejak lama, sosok Trump dituding anti-Islam. Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali pernah menjabarkan tendensi Islamofobia itu ketika mengkritik pertemuan Setya Novanto dengan Trump pada September lalu.Pernyataan Trump soal larangan masuk umat muslim mengundang kecaman. Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan Trump tidak pantas menjadi bakal capres setelah melontarkan gagasan diskriminatif tersebut.Sesama bakal capres dari Partai Republik ikut menyerang Trump. Salah satunya Mantan Gubernur Florida, Jeb Bush, lewat akun Twitternya. "Rencana kebijakan (Trump) tidak serius. Beliau memiliki persoalan mental," tulis Jeb.

Warga imigran Latin akan makin sulit bekerja di AS

latin akan makin sulit bekerja di as rev3Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Trump mengungkapkan dia ingin membangun "tembok raksasa" antara Amerika dan Meksiko agar imigran gelap tak masuk termasuk migran Suriah. Trump mengatakan warga Meksiko yang masuk ke Amerika sebagian besar adalah penjahat."Mereka membawa obat bius, penjahat dan mereka adalah pemerkosa," katanya. Ia mengatakan Meksiko harus membayar tembok raksasa itu dan menurut analisa BBC bernilai antara USD 2,2 miliar sampai USD 13 miliar.Tak kurang koresponden senior stasiun televisi Fox News Geraldo Rivera mengatakan, para pendukung partai Republik hanya mau mendukung 'orang gila' macam Trump bagi capres mereka.

Kelompok militan akan lebih mudah meneror AS

akan lebih mudah meneror as rev3Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Pada Agustus lalu Para perekrut kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendoakan kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump agar memenangkan pemilihan umum dan menjadi presiden Negeri Paman Sam.Menurut laporan majalah Foreign Affairs yang diperoleh dari pesan berantai dalam aplikasi Telegram, diketahui para anggota kelompok militan itu lebih suka Trump jadi presiden AS. Alasannya kalau Trump jadi presiden maka mereka akan lebih mudah merekrut orang untuk bergabung menjadi jihadis."Saya berdoa kepada Allah agar menyerahkan Amerika kepada Trump. Keuntungan yang diperoleh jika Trump berhasil ke Gedung Putih adalah prioritas bagi para jihadis apa pun alasannya," demikian bunyi salah satu komentar anggota ISIS dalam aplikasi pesan berantai itu.Para perekrut ISIS memandang, pendapat Trump yang ingin memaksa seluruh muslim agar datanya terdaftar dan mengawasi seluruh masjid akan membuat perekrutan menjadi lebih mudah dan lebih gampang meradikalisasi calon korban.Mereka meyakini Trump adalah tipe pemimpin irasional dan meledak-ledak yang akan membuat dia lebih mudah diprovokasi dan dengan demikian akan melemahkan AS.

Trump ditakutkan akan menjadi diktator

akan menjadi diktator rev3Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Pengamat politik dan penulis New York Magazine Andrew Sullivan menilai kemenangan Trump akan membuat AS menjadi negara yang dipimpin seorang diktator.Dalam majalah New York edisi awal bulan ini, Sullivan menulis, 'Ketika demokrasi sudah mencapai tahap terjauhnya, seperti yang dibilang Plato, 'sosok seorang yang akan menjadi tiran akan merebut kesempatannya'. Dan kesempatan itu, kata Sullivan, yang terjadi di Amerika Serikat sekarang."Dia sangat-sangat tertarik dengan kekuasaan. Dan itu bukanlah cara Amerika. Bukan watak demokrasi. Itu adalah watak anti-demokrasi. Dan menurut saya, ada unsur dalam budaya Amerika yang menurut Washington sudah rusak. Maka dari itu mereka ingin menghancurkannya sekalian dan menggunakan Trump untuk melakukannya," ujar Sullivan.Penulis asal Inggris itu mengatakan Trump bukan saja politikus yang berbahaya tapi dia juga mengancam keberlangsungan demokrasi ala Amerika."Pemahaman dia (Trump) tentang bagaimana meraih kekuasaan bertentangan dengan cara Amerika. Rakyat Amerika meyakini kekuasaan seharusnya tersebar dan maka dari itu tidak boleh ada raja. Sedangkan Trump, menurut dia, berbagi kekuasaan, atau diawasi, diperiksa oleh lembaga lain, atau bahkan oleh pers, adalah sebuah kutukan."Jika, orang macam Trump naik jadi presiden, ujar Sullivan, maka sama saja rakyat Amerika sedang menciptakan krisis konstitusi. Dia akan menjadi diktator.

 

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP