Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi terancam dihukum mati
Merdeka.com - Mantan Presiden Mesir, Muhammad Mursi, dari Partai Ikhwanul Muslimin dituntut hukuman mati oleh Pengadilan Ibu Kota Kairo kemarin. Vonis berat itu dia terima karena dianggap jaksa bertanggung jawab atas pelarian ratusan massa dari penjara pada 2011.
Sebelumnya, Mursi dinilai terbukti memerintahkan tentara untuk menewaskan puluhan pengunjuk rasa saat pecah kerusuhan antipemerintah pada 2012.
Stasiun Televisi Aljazeera melaporkan, Minggu (17/5), tuntutan hukuman mati ini diterima Mursi bersama 105 anggota Ikhwanul Muslimin lainnya. Pembacaan vonis hakim akan digelar pada 2 Juni mendatang.
Anggota Dewan Syura Ikhwanul Muslimin Muhammad Soudan menganggap pengadilan Mesir sudah bertindak zalim. Banyak dari terdakwa tidak dipanggil ke hadapan majelis hakim. "Semua tuntutan tidak sesuai standar penegakan hukum internasional," ujarnya.
Lembaga hak asasi Amnesty International yang menolak hukuman mati mengecam tuntutan jaksa. Menurut mereka, kasus-kasus yang ditimpakan pada Mursi tidak punya dasar kuat, apalagi sampai dijadikan alasan menghukum mati politikus. "Proses pengadilan dalam kasus Mursi hanya sandiwara dan tidak sah," tulis pernyataan pers Amnesty International kemarin.

Mursi, terpilih menjadi presiden demokratis Mesir pertama pada 2011, tersingkir setelah militer menggelar kudeta merangkak bersama aliansi sipil non-Islamis. Partainya, Ikhwanul Muslimin, r yang masih satu garis ideologi dengan Partai Keadilan Sejahtera di Indonesia ini dianggap penguasa Mesir saat ini sebagai penyebab kekacauan.
Tokoh yang paling krusial dalam penggulingan Mursi adalah Jenderal Abdul Fattah al-Sisi, kini menjadi presiden Mesir. Sebelum Mursi dituntut hukuman paling berat itu, Pengadilan Negeri Piramida sudah menjatuhkan vonis mati kepada , Ketua Dewan Syura Ikhwanul Muslimin Mesir Muhamad Badii dan 13 anggota lainnya.
Saking takutnya Ikhwanul Muslimin bangkit lagi, jaksa mendakwa mati 684 anggota partai Islamis itu yang tersebar di seluruh negeri. Semuanya dengan tuduhan sengaja mengobarkan kekacauan pada kekacauan pada 2011 atau 2012. Padahal di periode pelengseran mantan diktator Husni Mubarak itu, semua elemen politik - termasuk Ikhwanul Muslimin - aktif menggelar aksi di jalanan Mesir.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya