Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mantan PM Israel digugat atas serangan kapal bantuan ke Palestina

Mantan PM Israel digugat atas serangan kapal bantuan ke Palestina Mantan PM Israel Ehud Barak (melambaikan tangan) digugat keluarga aktivis Mavi Marmara. (c) REUTERS

Merdeka.com - Insiden pada 2010, ketika kapal kemanusiaan MV Mavi Marmara yang hendak memberi bantuan buat warga Jalur Gaza diserbu tentara Israel, kini menempuh babak baru. Keluarga korban para aktivis yang tewas pada penyerangan Zionis itu menuntut mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak.

Ehud dianggap paling bertanggung jawab dalam memerintahkan operasi militer dan blokade laut di sekitar Jalur Gaza. Motor gugatan hukum ini adalah keluarga mendiang Furkan Dogan, warga negara Amerika Serikat keturunan Turki, yang ditembak mati karena merekam serangan tentara Israel di atas kapal.

Pengacara keluarga korban Mavi Marmara, Dan Stormer, mengatakan gugatan ini telah didaftarkan ke Pengadilan California, AS. Dasar hukumnya adalah pembunuhan warga AS di luar negeri, menggunakan UU Anti-Terorisme AS, Anti-Penyiksaan, dan UU Perlindungan Warga Negara.

Stormer mengatakan gugatan ini telah disampaikan langsung kepada Ehud lewat surat. "Potensi ganti rugi yang bisa diberikan (Israel) mencapai puluhan juta dolar," ujarnya, seperti dilansir the Jerusalem Post, Kamis (22/10).

Dalam insiden Mavi Marmara, Ehud menjabat Menteri Pertahanan yang bertanggung jawab atas setiap tindakan Tentara Israel. Sebelumnya, Ehud adalah PM Israel masa bakti 1999-2001.

pasukan israel serang kapal mavi marmara 001

Ehud dan pemerintah Israel pernah diseret belasan pengacara HAM ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Namun gugatan itu ditolak tahun lalu, dengan alasan terjadi sebelum lembaga superbody ini resmi terbentuk.

Sekadar mengingatkan, serangan Israel ke Mavi Marmara menewaskan 8 relawan Turki, satu relawan AS, serta melukai 60 pegiat lainnya.

Kapal berbendara Inggris itu adalah bagian dari gabungan kapal yang dikirim aktivis 32 negara untuk membantu rakyat Gaza. Di dalam kapal ada obat-obatan, bahan makanan, dan banyak lagi sembako. Namun, di tengah perjalanan, kapal militer Israel memaksa Mavi Marmara berputar haluan ke pelabuhan Kota Ashdod.

Karena para aktivis menolak putar haluan, pasukan Israel menyerbu ke atas kapal menembak para pegiat. Sebagian aktivis melawan dengan pisau, melukai 10 tentara Zionis.

Insiden Mavi Marmara ini memicu kutukan dunia internasional. Selain itu, serangan tersebut berbuntut atas perselisihan diplomatik Israel dan Turki. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP