Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mantan istri pembajak EgyptAir meyakini Mustafa berbahaya

Mantan istri pembajak EgyptAir meyakini Mustafa berbahaya Mantan istri pelaku pembajakan EgyptAir. ©2016 Merdeka.com/Dok.Pribadi/Phileleftheros

Merdeka.com - Seusai drama pembajakan EgyptAir berakhir, muncul spekulasi bahwa tujuan utama Seif Eldin Mustafa (59) berbuat nekat adalah keinginan bertemu mantan pasangannya yang menetap di Siprus. Sempat bungkam beberapa hari, Marina Praschou, sosok mantan istri pria Mesir nekat itu, akhirnya angkat bicara.

Dia mengatakan tak percaya cinta merupakan motif pembajakan pesawat mengangkut 55 orang tempo hari. Mustafa semasa menikah selalu mabuk-mabukan, menganggur, serta kerap memukuli dia dan empat anak mereka.

"Banyak media menulis seakan-akan dia adalah lelaki yang ingin bertemu kembali dengan pasangannya memakai segala cara. Bagi saya, jelas tujuannya bukan itu," kata Praschou yang diwawancara surat kabar Siprus, Phileleftheros.

Praschou dan Mustafa berkenalan pada 1983. Mereka memutuskan menikah dua tahun kemudian. Saat itu Praschou yang berkebangsaan Siprus belum genap 20 tahun. Lambat laun, perangai Mustafa berubah, semakin kasar saban hari.

pria pembajak egyptair

Seif Mustafa (tengah), sang pembajak EgyptAir (c) REUTERS/Yiannis Kourtoglou

Pada tahun ketujuh pernikahan, Praschou akhirnya memilih bercerai. "Itu adalah masa-masa tergelap dalam hidup saya."

The Daily Mail melaporkan, Kamis (31/3), Praschou punya data yang menunjukkan mantan suaminya memang biang onar.Setelah bercerai, Mustafa dipenjara pada 1994 karena terlibat pencurian. Berselang dua tahun, Mustafa dideportasi oleh pemerintah Siprus. Dia tetap rutin keluar masuk penjara di Mesir, sampai kemudian ikut kabur dari penjara pada 2011 karena terjadi kerusuhan dalam demonstrasi besar menggulingkan mantan Presiden Husni Mubarak.

"Pria ini tak pernah peduli dengan anak-anaknya semenitpun, saat dia tinggal di sini atau ketika pulang ke Mesir. Dan, kini saat dia ditahan polisi, saya dan anak-anak tetap merasa takut," ujar Praschou.

Mustafa memaksa pesawat rute Alexandria-Kairo itu berputar arah pada Selasa (29/3), sampai akhirnya mendarat ke Bandara Lacarna, Siprus. Dia mengaku membawa sabuk bom. Setibanya di Lacarna, dia membebaskan beberapa sandera sambil menitipkan surat untuk mantan istrinya kepada tim negosiator.Marina akhirnya dijemput aparat Siprus ke Bandara untuk ikut membujuk Mustafa menghentikan aksinya. Selepas lebih dari tujuh jam penyanderaan, Mustafa menyerah lalu segera dibekuk polisi. Pria yang tak terlibat jaringan terorisme manapun itu akan disidang dua pekan lagi.

(mdk/ard)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP