Ribuan muslim Rohingya dan warga Bangladesh terlunta-lunta di laut setelah kapal mereka ditolak oleh otoritas Malaysia dan Thailand.Malaysia kemarin menghalau dua kapal berisi sekitar 800 warga Rohingya dan Thailand membiarkan satu kapal lagi berisi ratusan penumpang di perairan mereka."Apa yang kalian harapkan dari kami? tanya Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Wan Junaidi Jafaar, seperti dilansir surat kabar the Guardian, Kamis (14/5)."Kami sudah bersikap baik kepada orang-orang yang masuk ke wilayah kami. Kami perlakukan mereka secara manusiawi tapi mereka tidak bisa berbondong-bondong memasuki perairan kami semacam ini," lanjut Jafaar."Kami harus menyampaikan pesan yang tepat bahwa mereka tidak diterima di sini," kata dia setelah sekitar seribu pengungsi Rohingya mendarat di pesisir Langkawi.Senada dengan Malaysia. Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha mengatakan pemerintahnya tidak punya sumber daya buat menangani para pengungsi Rohingya."Jika kami membiarkan mereka semua masuk, maka orang lain juga akan masuk dengan bebas. Saya mempertanyakan apakah Thailand mampu memelihara mereka semua. Dari mana biayanya?" tanya Prayuth."Tak ada yang mau menerima mereka. Orang lain meminta kami sebagai negara transit untuk bertanggung jawab. Apakah itu adil?"Negara di Asia Tenggara selama bertahun-tahun diam-diam mengabaikan warga Rohingya yang berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa. Dalam tiga tahun terakhir,
Advertisement
lebih dari 120 ribu warga muslim Rohingya tewas di Myanmar, negara mayoritas beragama Buddha. Mereka yang merasa tertekan di Myanmar, akhirnya memilih mengungsi menggunakan kapal setelah membayar sejumlah uang kepada para penyelundup. Namun karena diserang oleh pasukan keamanan di beberapa negara, para penyelundup itu meninggalkan kapal dan membiarkan sekitar 6.000 warga rohingya terlunta-lunta di lautan."Krisis kemanusiaan ini mendesak untuk segera ditangani," ujar Matthew Smith, direktur eksekutif lembaga nirlaba pembela hak asasi Fortify Right.Awal pekan ini sekitar 800 warga Rohingya dan Bangladesh terdampar di Aceh. Mereka ditemukan nelayan dan kini masih ditampung di Aceh. Warga menuturkan kondisi mereka mengenaskan, kelaparan dan badan mereka kurus-kurus karena sudah beberapa pekan terapung di lautan.