Malala Yousafzai Minta Negara Lain Buka Perbatasannya untuk Pengungsi Afghanistan
Merdeka.com - Peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai, meminta negara-negara lain membuka perbatasannya untuk pengungsi Afghanistan, menyusul jatuhnya pemerintahan negara tersebut ke tangan Taliban. Seruan itu disampaikan Malala dalam wawancara ekslusifnya dengan BBC.
Pada Minggu (15/8), Taliban berhasil merebut ibu kota negara, Kabul dan menduduki istana presiden. Sementara itu, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani dilaporkan melarikan diri dari negaranya dengan dalih untuk mencegah pertumpahan darah.
Taliban berhasil merebut Kabul setelah sebelumnya berhasil menguasai sejumlah distrik dan kota-kota besar di Afghanistan. Taliban melancarkan serangan menjelang rampungnya penarikan pasukan Amerika Serikat setelah perang 20 tahun.
Malala, aktivis asal Pakistan ini pernah ditembak di kepala oleh anggota Taliban pada 2012 karena kegiatan kampanyenya untuk pendidikan anak perempuan.
“Kita melihat gambar-gambar mengejutkan di layar kita saat ini. Orang-orang melarikan diri, berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan diri,” ujarnya, dikutip dari laman BBC, Selasa (17/8).
Malala mengatakan apa yang terjadi saat ini merupakan krisis kemanusiaan yang sangat mendesak. Di tengah dunia yang telah mencapai berbagai kemajuan, termasuk kesetaraan, Afghanistan tidak bisa dibiarkan kembali ke puluhan tahun lalu.
“Kita harus mengambil sikap tegas untuk melindungi perempuan dan anak perempuan, perlindungan kelompok minoritas, dan untuk perdamaian dan stabilitas di wilayah itu. Menurut saya setiap negara punya tanggung jawab saat ini. Negara-negara harus membuka perbatasannya untuk pengungi Afghanistan, untuk orang-orang telantar,” jelasnya.
Lulusan Universitas Oxford ini juga mengatakan telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, memintanya agar mengizinkan para pengungsi dan memastikan pengungsi anak-anak dan anak perempuan memiliki akses pendidikan, keamanan, dan perlindungan.
“Mereka bisa mendapatkan pendidikan di kamp-kamp pengungsi,” ujarnya.
“Saya belum menghubungi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Tapi siapapun yang bisa mendengar saya saat ini, saya pikir penting bagi mereka untuk mengingat bahwa mereka memiliki peran strategi kepemimpinan yang penting untuk bertindak saat ini. Dan mereka harus mengambil sikap tegas untuk perlindungan HAM saat ini. Ini penting tidak hanya untuk perdamaian Afghanistan tapi untuk perdamaian dunia,” pungkasnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya