Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

“Kami Semua Tertipu. Mereka Dikirim ke Ukraina Sebagai Umpan Meriam"

“Kami Semua Tertipu. Mereka Dikirim ke Ukraina Sebagai Umpan Meriam Deretan tank Rusia hancur di Sumy Ukraina. ©Irina Rybakova/Press service of the Ukrainian Ground Forces/Handout via REUTER

Merdeka.com - Percakapan telepon yang mengharukan terekam kamera pada hari kedelapan perang Rusia-Ukraina.

"Jangan khawatir, Natasha, dia masih hidup dan sehat. Nanti Anda akan mendapat telepon."

Perempuan Ukraina berusaha meyakinkan seorang perempuan Rusia bahwa putranya yang menangis dengan seragam berlumuran lumpur berada di tangan yang aman.

Laki-laki muda itu tampaknya bukan sasaran penyiksaan dan sepertinya berbicara atas kemauannya sendiri, tetapi secara resmi dia adalah seorang tawanan perang. Kenyataannya, dia adalah anak seorang ibu yang ketakutan.

Dan ketika seorang perempuan menunjukkan solidaritas, itu memberi seluruh dunia pandangan sekilas tentang apa yang mungkin paling ditakuti Ibu Pertiwi Rusia: ibu-ibu Rusia.

Dalam Perang Dunia Kedua, poster propaganda Rusia yang terkenal, dengan slogannya "Tanah Air memanggil!", dirancang untuk menggembleng keluarga agar mendukung perang.

Dalam perang ini, tumbuh harapan bahwa mobilisasi ibu-ibu Rusia yang tidak mau melihat putra-putra mereka dikirim ke jurang kematian dapat mengubah jalannya perang yang mengerikan ini.

Karena dalam konflik yang mengerikan ini, suara para ibu yang dilontarkan dalam ketakutan dan kemarahan membuat Vladimir Putin berhenti sejenak. Mengapa? Karena di bawah pemerintahannya, mereka sendiri yang memiliki otoritas moral untuk secara terbuka meminta pertanggungjawaban Putin.

Pada Hari Perempuan Internasional, Putin langsung berbicara kepada ibu-ibu para tentara.

Pada Senin, ibu-ibu Rusia yang diliputi amarah menuduh Putin mengerahkan putra-putra mereka sebagai "umpan meriam" dalam invasinya ke Ukraina.

"Kami semua tertipu, semua tertipu. Mereka dikirim ke sana sebagai umpan meriam,” teriak seorang ibu di sebuah pertemuan di wilayah Kuzbass di Siberia.

"Mereka masih muda. Mereka tidak siap," lanjutnya, dikutip dari The Telegraph, Rabu (9/3).

Komite Ibu Tentara, kelompok advokasi hak-hak prajurit, dalam beberapa pekan terakhir mengungkap soal "lautan airmata" hasil dari invasi Ukraina.

Ini tidak akan luput dari perhatian di eselon tertinggi jajaran Putin.

"Ibu-ibu tentara adalah salah satu dari sedikit benteng masyarakat sipil di Rusia, dan mereka cenderung berhenti muncul dan kemudian bangkit kembali setiap kali ada perang, membuat mereka sangat efektif di belakang kolektif Kremlin," jeas Profesor Mark Galeotti, seorang ahli dalam urusan keamanan Rusia di Universitas College London.

"Mereka tidak memiliki kekuatan politik, tetapi mereka memiliki banyak otoritas moral dan, seperti yang telah kita lihat di Ukraina, ibu dan nenek membawa banyak pengaruh dan dihormati," lanjutnya.

"Ibu tentara tidak bisa mengakhiri perang, tetapi mereka membantu membentuk opini. Mereka juga merupakan gerakan akar rumput yang bonafid yang berfungsi sebagai pengingat bahwa ini adalah perang Putin, bukan perang Rusia."

Seruan untuk perempuan Rusia

Ketika ribuan perempuan berunjuk rasa di kedutaan Rusia di ibu kota Lithuania, Vilnius, mereka menyerukan perempuan Rusia bangkit dan menghentikan perang di Ukraina.

"Kalian bisa menghentikan perang ini, hanya jika kalian turun ke jalan dan mengatakan, 'Kami tidak ingin perang ini karena kami tidak ingin anak-anak kami mati'," kata penyelenggara unjuk rasa, Daiva Zeimyte kepada massa.

Ketika obrolan mengharukan perempuan Ukraina kepada perempuan Rusia itu viral, banyak orang terharu dan menyerukan di media sosial bahwa semua ibu harus muncul dan menjemput anak-anaknya. Lalu, Kementerian Pertahanan Ukraina mengonfirmasi bahwa saran dari netizen itu menjadi kebijakan pemerintah saat ini.

"Keputusan telah dibuat untuk menyerahkan pasukan Rusia yang tertangkap kepada ibu mereka jika mereka (para ibu) datang menjemput mereka di Ukraina, di Kiev," jelas istri presiden Ukraina, Olena Zelenska.

Ibu-ibu tentara yang tampaknya telah dikirim ke Ukraina mengunggah pesan di media sosial pada hari-hari pertama perang, mencari suami dan anak-anak mereka. Akun Komite Ibu Tentara di situs media sosial VK juga dibanjiri komentar terkait informasi rinci tentang keluarga mereka, bertanya kepada siapapun apakah mereka mendengar tentang keberadaan unit militer mereka.

Rekaman ponsel muncul di media sosial pekan ini di mana Gubernur Kuzbass di Siberia, Sergey Tsivilev, tak sengaja mengatakan kepada sekumpulan perempuan bahwa putra-putra mereka dikirim ke garda depan pertempuran untuk mengorbankan nyawanya.

Tsivilev menjelaskan kepada massa bahwa putra-putra mereka bertempur di Ukraina ketika dia menyisipkan kalimat: "Mereka dimanfaatkan..."

Setelah beberapa saat senyap, para ibu itu mulai berteriak: "Dimanfaatkan?! Mereka memanfaatkan anak-anak kami?"

Lalu Tsivilev berusaha menjelaskan, ketika para ibu-ibu meneriakinya.

"Ada tindakan keras terhadap militer Rusia yang menggunakan ponsel mereka untuk mencegah bocornya berita bagaimana perang berlangsung kepada penduduk di dalam negeri," jelas peneliti dari lembaga pemikir RUSI (Rusia Eurasia), Emily Ferris.

"Itu mempengaruhi moral para prajurit dan keluarga mereka. Para ibu panik jika mereka tidak dapat menghubungi putra-putra mereka, anak-anak itu merasa terputus dan kehilangan semangat, terutama ketika mereka hidup dalam kondisi yang buruk."

Permohonan Ukraina

Pertanyaannya masih sama: ketika kebenaran mengerikan dari rumah sakit yang digempur dan warga sipil yang tak berdaya berhamburan kembali ke rumah, akankah ibu-ibu Rusia turun ke jalan?

"Sangat sulit membayangkan demonstrasi massal, karena Putin telah memberlakukan pembatasan ketat pada kebebasan berkumpul," kata Ferris.

"Polisi anti huru hara terlihat melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang hanya berdiri di sekitar. Tetapi pemerintah akan menyadari bahwa menangkap ibu-ibu tentara tidak akan menghasilkan penilaian yang baik," lanjutnya.

“Unjuk rasa damai skala besar dapat dibayangkan selama mereka tidak menyerang Putin secara langsung, tetapi situasinya berubah dari jam ke jam. Tidak ada yang tahu bagaimana situasinya akan berkembang."

Ada pepatah Rusia kuno yang muncul di benak: "Jika seorang anak tidak menangis, ibunya tidak akan tahu apa yang diinginkannya."

Ukraina, bersama dengan seluruh Eropa, memohon kepada ibu-ibu Rusia untuk membuat diri mereka didengar di Tanah Air mereka.

(mdk/pan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP