Lari ke Malaysia, bocah Rohingya dipaksa jadi pengantin cilik
Merdeka.com - Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, nasib itu dialami oleh seorang bocah 12 tahun yang berhasil lolos dari kekerasan di Rakhine, dia malah dipaksa menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Alhasil, anak yang beranjak remaja ini hanya bisa menangis dari balik kerudungnya.
Dilansir Reuters, Rabu (15/2), bocah yang namanya dirahasiakan ini sama seperti bocah Rohingya lainnya yang menghindari serangan aparat keamanan di desanya. Setelah berhasil kabur dan mencapai negara yang dituju, dia malah dijual untuk dapat dinikahi dengan pria satu etnis dan lebih tua.
Bocah ini sendiri mengaku dipisahkan dari keluarganya saat menuju Malaysia melalui jalur laut, dia ditangkap oleh kelompok perdagangan manusia dan dibawa ke penampungan kotor di tengah hutan dekat perbatasan antara Thailand dan Malaysia bersama sejumlah orang lainnya. Di situlah dia diberitahu ada pria Rohingya bisa memberinya kebebasan jika mau menikah dengannya.
"Agen itu bilang saya sudah dijual kepada pria dan saya bertanya-tanya, kenapa mereka melakukan itu? Jantung saya terasa berat dan saya sangat ketakutan," aku gadis itu dalam sebuah wawancara di Kuala Lumpur.
Reuters tidak secara independen memverifikasi cerita bocah ini, namun ibunya sendiri dipastikan masih berada di lokasi penampungan beberapa minggu sebelum dilepaskan. Gadis cilik ini sendiri menjadi salah satu dari ratusan Muslim Rohingya, kelompok minoritas Myanmar yang disebut imigran gelap dari Bangladesh dan tidak diberi hak sebagai warga negara.
Di Malaysia sendiri sudah menjadi rahasia umum, di mana setiap wanita Rohingya yang berhasil keluar dari negara itu dipaksa menikah. Beberapa di antaranya diketahui masih di bawah umur. Jumlah korban semakin meningkat dengan munculnya kelompok penyelundup manusia yang menjual wanita atau gadis-gadis kepada pria Rohingya sebagai pengantin.
Sejak 2012, berbagai kekerasan dan bentrokan antar warga membuat ratusan etnis Rohingya terbunuh, sementara 10 ribuan lainnya menjadi pengungsi di Malaysia, Thailand, dan Bangladesh. Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan keamanan dan polisi dituding melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan dan membakar pedesaan di utara Rakhine, sesuai laporan investigasi PBB awal bulan ini.
(mdk/tyo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya