Reportase dari Sabah

Lahad Datu, kota setengah hari di batas medan perang

Reporter : Hery H Winarno | Sabtu, 9 Maret 2013 14:02




Lahad Datu, kota setengah hari di batas medan perang
Kota Lahad Datu yang sepi. Hery H Winarno ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Lahad Datu akhir-akhir ini menjadi wilayah yang paling banyak diperbincangkan di Malaysia. Maklum, perang antara militer Malaysia dengan pasukan kerajaan Sulu, Filipina terjadi di perbatasan kota ini.

Lahad Datu sendiri dikenal sebagai kota kecil di pinggir pantai, orang Melayu menyebutnya bandar. Lahad selama ini dikenal karena merupakan wilayah perkebunan kelapa sawit. Ribuan hektar perkebunan sawit mengelilingi kota kecil ini.

Seperti dilaporkan reporter merdeka.com Hery H Winarno dari Lahad Datu, Malaysia, jarak antara kota Lahad Datu dengan lokasi perang di wilayah Tandou kurang lebih 130 Km. Meski jauh, perang juga membawa dampak bagi warga Lahad.

"Tanggal 5 dan 6 kemarin, banyak sembako habis di toko. Banyak warga yang membeli karena takut kehabisan," ujar Samhid, warga Lahad Datu keturunan Bugis kepada merdeka.com, Sabtu (9/3).

Warga melayu kerap menyebut Lahad Datu sebagai kampung setengah hari. Hal ini disebabkan ketika pukul 17.00 WIB maka sudah tutup. Aktivitas perbelajaan, pertokoan, dan segala aktivitas kota lainnya berakhir di jam itu.

"Hanya supermarket besar saja yang buka. Toko-toko kecil ndak ada yang buka," terangnya.

Itu dalam kondisi normal, bagaimana jika dalam kondisi sekarang. Ternyata perang membuat kondisi di Lahad semakin sepi.

Tanggal 9 ini biasanya Kota Lahad ramai. Hal ini karena tanggal 9 di Sabah merupakan tanggal muda. Di sini rata-rata gajian setiap tanggal 7.

"Tengok saja, sepi, tidak seramai biasanya. Tetapi masih ada yang keluar, jalan-jalan dan makan," terang pria yang bekerja di perkebunan kelapa sawit ini.

Pada akhir pekan, Lahad akan semakin ramai. Para pekerja di perkebunan biasanya datang ke kota ini untuk berlibur dan membeli persediaan makanan untuk satu minggu atau satu bulan di estat (sebutan untuk pemukiman para pekerja perkebunan).

Para pekerja biasanya datang dengan menempuh perjalanan dari satu hingga tiga jam dari estat untuk ke kota Lahad Datu. Sabtu-Minggu pun dimanfaatkan benar-benar oleh mereka selama di Lahad.

"Kadang kita laundry baju kalau di sana tak ada sempat mencuci. Beli air minum berkardus-kardus dan makanan juga. Sampai potong rambut pun kita ke Lahad," terangnya.

Namun Sabtu ini Lahad cenderung sepi. Meski tetap ada aktivitas warga tapi tak seperti biasanya.

Di beberapa sudut kota terlihat polisi bersenjata laras panjang mondar-mandir. Terkadang mereka menghentikan kendaraan yang melintas sekadar memastikan bahwa penumpangnya bukan orang Sulu.

Perang di Tandou juga menyebabkan banyak hotel dan rumah singgah tutup. Mereka takut jika para pengganas- sebutan orang Malaysia kepada para penyusup dari Sulu-menyerang Kota.

"Hotel di sini sudah tutup sejak hari lalu. Di sini banyak hotel dan rumah singgah tutup karena takut," ujar Marawan di sekitar Pasar Rakyat Lahad Datu.

[war]

KUMPULAN BERITA
# Konflik Sabah# Malaysia

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Demo di KPK, puluhan mahasiswa minta Setya Novanto ditangkap
  • 'Ice Cream Sandwich' akan mejeng di Honda Civic terbaru
  • HUT ke 69, TNI gelar pengobatan gratis 30 ribu warga miskin
  • Skor kubu Prabowo Vs Jokowi: 4-1
  • [Video] trailer terakhir 'INTERSTELLAR', penuh ketegangan!
  • Jokowi sudah duga Koalisi Merah Putih bakal kuasai pimpinan DPR
  • Indonesia berambisi jadi basis ekspor Asia Pasifik
  • 5 Alasan untuk mengunjungi Korea Selatan di musim gugur
  • Shireen Sungkar bisa bedakan tangis bayinya, lapar atau pipis
  • Soal uang terkuras di Vietnam,BCA sudah selesaikan dengan korban
  • SHOW MORE