Kritik keras Duterte, anggota dewan Filipina ditangkap
Merdeka.com - Anggota dewan Filipina, Leila de Lima, ditangkap karena kerap kali memberikan kritik tajam tentang cara Presiden Rodrigo Duterte memerangi narkoba di negaranya.
Pihak otoritas Filipina mensinyalir kritikan tersebut diungkapkan oleh Lima untuk menutupi jejak bahwa dirinya mengambil keuntungan atas perdagangan narkoba di negara saat masih menjabat sebagai Sekretaris Kehakiman Negara. Lima ditangkap atas tuduhan tersebut.
Namun, dalam sebuah pernyataan, Lima membantah keras tuduhan dilayangkan kepadanya. Dia menyebut tuduhan tersebut sebagai cerita dibuat-buat yang tujuannya mengintimidasi, membungkam, dan menghancurkan hidup siapa saja yang berani menentang Duterte.
"Penangkapan saya merupakan bukti kembalinya pemerintah yang bobrok secara moral dan haus kekuasaan. Semua orang tahu bagaimana Anda, Pak Presiden. Anda mencoba menguasai hukum di tangan Anda dan siapapun yang mencoba mengkritik atau melawan Anda maka Anda akan menghancurkannya," kata Lima, seperti dilansir dari laman Time, Jumat (24/2).
Lima yang resmi terpilih sebagai anggota senat tahun lalu telah berjanji untuk melanjutkan perjuangan hak asasi manusia di negaranya. Dia mengatakan akan melakukan cara berbeda dengan Duterte dalam membasmi narkoba, yakni dengan menawarkan resolusi senat dan menginvestigasi pembunuhan masal karena narkoba.
Menanggapi hal tersebut, Duterte langsung membeberkan bahwa Lima telah memberi izin penjualan dan penggunaan obat-obatan terlarang di Penjara New Bilibid, Manila, dan menukarnya dengan uang suap untuk digunakan sebagai dana kampanye.
Lima resmi didakwa Oktober lalu atas tuduhan perdagangan narkoba dan kemungkinan akan mendapatkan hukuman penjara dua puluh tahun. Namun, Lima baru ditahan Jumat (17/2) lalu.
"Saya sudah lama mempersiapkan diri untuk menjadi tahanan politik di rezim ini. Saya yakin akan membuktikan semua tuduhan saya dalam waktu dan tempat yang tepat. Saya akan selalu memberikan kemampuan terbaik saya dan memenuhi tugas saya sebagai Senator Republik. Bahkan di penjara sekalipun, saat saya terus dianiaya oleh pemerintah ini. Selama saya hidup, saya akan terus berjuang melawan hingga napas terakhir saya," ungkapnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya