Kota Lahirnya Revolusi, Wuhan kini Terasing di Negeri Sendiri
Merdeka.com - Wuhan dulu dikenal sebagai kota bunga sakura, menjadi jantung ekonomi, dan tempat lahirnya revolusi yang menjatuhkan dinasti kekaisaran terakhir di China.
Sayangnya, kota metropolitan di provinsi Hubei yang memiliki penduduk sekitar 11 juta orang ini, kini telah menjadi sarang wabah virus corona baru yang mematikan. Sebuah stigma baru masyarakat dunia yang semakin sulit dibantah oleh warga Wuhan.
Angka kematian di China kini melonjak melewati 300 dan 14.300 kasus yang dikonfirmasi menyebar di seantero negeri. Otoritas lokal di seluruh China telah mengaktifkan respon darurat terhadap kesehatan masyarakat, serta memperketat pemeriksaan kedatangan orang dari Wuhan.
Namun, kekhawatiran akan merebaknya wabah ini, telah memicu kebencian dan diskriminasi terhadap orang-orang dari Wuhan. Beberapa dari mereka merasa seperti orang buangan di negaranya sendiri, beberapa tidak di terima di hotel, diasingkan tetangga dan di beberapa daerah, bahkan mereka dikarantina dalam tempat yang kontroversial. Semua ini sebelumnya tidak pernah terjadi.
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebelum pemerintah membatalkan semua penerbangan, kereta api, dan bus keluar Wuhan, pejabat Wuhan memperkirakan ada sekitar 5 juta orang telah meninggalkan kota sebelum bencana itu terjadi untuk liburan Tahun Baru Imlek.
Laman CNN melaporkan, Senin (3/2), banyak dari mereka adalah pekerja migran atau mahasiswa yang kembali ke kota asalnya untuk reuni keluarga selama tahun baru. Sementara sisanya adalah wisatawan yang memanfaatkan liburan panjang.
Pada 20 Januari, China hanya menyatakan bahwa virus corona dapat ditularkan dari orang ke orang, namun lonjakan tiba-tiba terjadi dalam kasus yang dikonfirmasi. Sampai saat itu, pihak berwenang mengatakan wabah itu dapat dicegah dan dikendalikan.
April Pin, seorang penduduk Wuhan, menulis sebuah surat terbuka dan memohon agar warga negaranya memaafkan mereka yang pergi tanpa mengetahui situasi yang terjadi. "Banyak teman saya yang meninggalkan Wuhan tidak menyadari (seberapa parah) situasinya," tulis surat itu.
Pin mengatakan dia menulis surat itu karena ada terlalu banyak komentar daring yang melemparkan cacian dan kecaman pada orang-orang Wuhan.
"Aku merasa bersalah," ucap Pin.
Orang yang Tidak Diinginkan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSetelah Wuhan terisolasi, penduduk Wuhan yang sejak awal kejadian memang sudah berada di berbagai daerah di luar Wuhan, tidak lagi diterima oleh hotel dan wisma setempat. Meski ingin kembali, namun tidak bisa, mengingat Wuhan baru memberlakukan pembatasan perjalanan ke wilayah tersebut.
Mereka seolah terdampar di negaranya sendiri.
Di media sosial, pos-pos turis Wuhan mencari bantuan untuk diberikan tempat tinggal bermunculan. Salah satu pengguna Weibo (platform mirip Twitter di China), mengatakan dalam unggahannya, dia dikeluarkan dari losmennya yang berada di Changsha, Provinsi Hunan, karena tamu dari Provinsi Hubei tidak lagi diizinkan tinggal.
"Saya hanya meminta bantuan di sini karena saya benar-benar sudah kepepet," tulis Ludougao, warga Wuhan yang mengatakan dia meninggalkan kotanya pada 20 Januari, tiga hari sebelum Wuhan diisolasi.
Ludougao pergi ke stasiun kereta hanya untuk memastikan tidak ada kereta yang akan berhenti di Wuhan lagi. Dia menelepon polisi, tetapi disuruh pergi ke posko bantuan, yang menjadi tempat perlindungan bagi para tunawisma. Dia menelepon hotline wali kota Wuhan, namun tidak berhasil. Bahkan, dia pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan, namun masih saja tidak ada hotel yang mau menerimanya. Pada saat itu, dia juga sudah menghubungi lebih dari 10 hotel dan losmen, namun mereka semua menolaknya.
"Aku tidak mengerti. Bahkan jika kita semua orang Wuhan 'mati berjalan' untuk menahan penyebaran wabah, bukankah seharusnya aku diizinkan untuk tetap tinggal di dalam rumah? Sekarang aku terpaksa keluar, dan aku sudah tidak punya tempat untuk pergi, "tulis Ludougao.
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comUnggahan yang kemudian dihapus tersebut menjadi viral, sehingga menarik perhatian polisi internet Changsha, dan memberitahu pihak berwenang tentang kasusnya. Akhirnya, dia berhasil check-in ke hotel malam itu.
Ketika dihubungi, Ludougao mengatakan dia tengah terdiam di unggahannya yang dihapus. Dia menolak berkomentar lebih lanjut, dia mengatakan telah dihubungi oleh pemerintah.
Nasib Ludougao bergema oleh banyak orang lain di seluruh negeri. Di Provinsi Yunnan selatan, yang populer dengan cuaca dan alamnya yang nyaman, ada begitu banyak turis Hubei yang tidak dapat menelepon pihak berwenang untuk meminta bantuan. Karena hal tersebut, biro budaya dan pariwisata provinsi mengeluarkan pemberitahuan yang memerintahkan setiap kota untuk menunjuk setidaknya satu hotel agar dapat mengakomodasi mereka.
Menurut informasi dari media pemerintah, provinsi-provinsi lain dan kota-kota di China, seperti Provinsi Guangdong dan Guangxi selatan, juga memesan hotel untuk wisatawan dari Wuhan dan daerah lainnya dari Provinsi Hubei. Biro Pariwisata dan Kebudayaan Wuhan juga memenuhi daftar hotel yang diperuntukkan bagi wisatawan Wuhan di seluruh negeri. Meski begitu, belum dapat dipastikan apakah mereka semua mengetahui informasi ini.
Terdampar Di Negara Lain
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDengan semakin banyaknya maskapai penerbangan internasional yang membatalkan penerbangan mereka ke Wuhan, banyak wisatawan dari kota itu juga terdampar di luar China. Menurut Biro Kebudayaan dan Pariwisata Wuhan, hingga 27 Januari 2020, masih ada lebih dari 4.000 turis Wuhan berada di luar negeri.
Kementerian luar negeri China mengumumkan pada hari Jumat bahwa penerbangan charter akan diatur untuk membawa mereka pulang.
"Mengingat kesulitan praktis yang dihadapi warga China dari Provinsi Hubei, terutama Wuhan. Pemerintah China telah memutuskan mengirim penerbangan charter untuk membawa mereka kembali ke Wuhan sesegera mungkin," kata Hua Chunying, juru bicara kementerian luar negeri.
Menurut kementerian, dua penerbangan yang disewa oleh pemerintah China mendarat di bandara internasional Wuhan pada Jumat malam, membawa para wisatawan Hubei pulang dari Asia Tenggara.
Menurut kementerian, satu penerbangan dari Bangkok, Thailand, mengangkut 76 penumpang. Sementara tidak jelas berapa banyak orang yang naik pesawat lain dari Kota Kinabalu, Malaysia. Pihak berwenang sebelumnya mengatakan bahwa kedua penerbangan itu diperkirakan akan membawa lebih dari 200 warga Hubei.
Jalan-jalan diblokir, rumah-rumah dibarikade
Selain turis, pemerintah setempat juga waspada terhadap orang-orang yang telah kembali dari Wuhan ke kota asal mereka untuk Tahun Baru Imlek.
Menurut media pemerintah, di beberapa kota, seperti Shanghai dan Guangzhou, komite lingkungan telah ditugaskan untuk mencari warga Wuhan yang kembali, dilakukan dari pintu ke pintu, dan melaporkan informasi mereka kepada pihak berwenang.
Eric Chen(33), dari Jingzhou, Hubei, tinggal dan bekerja di provinsi pesisir Zhejiang, mengatakan bahwa ada yang begitu waspada terhadap orang-orang Wuhan sehingga seorang tetangga memanggil polisi ketika melihat sebuah mobil berplat nomor dari Wuhan berada dekat rumah mereka.
"Ternyata pemilik mobil sama sekali belum ke Wuhan. Dia mendapat plat nomor Wuhan karena plat nomor di Hangzhou terlalu sulit didapat, harus melalui lotre," kata Chen kepada CNN.
Di daerah pedesaan, beberapa desa telah mengerahkan penduduk desa untuk menjaga pintu masuk, menghalangi siapa pun yang kembali dari Wuhan untuk masuk. Gambar yang beredar di media sosial menunjukkan kalau jalan menuju desa-desa diblokir oleh truk, excavator, batu, pohon yang ditebang, bahkan ada yang menggali jalan untuk mencegah orang masuk.
Penghadang jalan begitu lazim sehingga kementerian transportasi negara itu harus mengeluarkan pemberitahuan untuk memperingatkan orang-orang terhadap penyumbatan jalan yang tidak sah, terutama menggali jalan untuk memblokir lalu lintas pedesaan.
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDi beberapa tempat, pengungsi yang kembali dari Wuhan ditempatkan di dalam karantina yang kontroversial dan berpotensi berbahaya. Banyak video yang beredar dan menjadi viral di sosial media, menunjukkan rumah-rumah dari para pengungsi Wuhan yang ditutup dengan spanduk dan dalam beberapa kasus, ada yang dibarikade oleh papan kayu atau batangan logam.
Dalam satu video, terpampang tulisan pemberitahuan di sebelah pintu depan sebuah apartemen. Pemberitahuan itu bertuliskan, "Di rumah ini ada orang Wuhan yang kembali, tolong jangan melakukan kontak dengan mereka". Pintunya masih dihiasi dengan kuplet merah tradisional untuk Tahun Baru Imlek dan beberapa pria dengan masker medis membarikadenya dengan beberapa batang logam.
CNN tidak dapat memverifikasi video tersebut, atau di mana video itu diambil.Kebencian dan diskriminasi yang dihadapi oleh orang-orang Wuhan bahkan telah menarik perhatian People's Daily, media juru bicara resmi Partai Komunis yang berkuasa.
Dalam sebuah opini yang dipublikasikan di aplikasi selulernya, People's Daily mengakui penyalahgunaan daring yang menargetkan orang-orang dari Wuhan dan provinsi Hubei menjadi lebih luas, serta diadopsi langkah-langkah kontrol oleh otoritas lokal yang telah melarang mereka masuk ke hotel bahkan kota asal mereka.
"Mayoritas dari 5 juta orang (yang meninggalkan Wuhan) tidak pergi dengan sengaja, meskipun begitu tidak berarti bahwa mereka semua terinfeksi virus," tulis artikel itu.
"Ke mana pun mereka pergi, kita tidak boleh berprasangka terhadap mereka, atau memperlakukan mereka dengan hati yang dingin. Dalam menghadapi wabah, mereka adalah korban dan mereka berharap lebih dari siapa pun agar wabah ini dibasmi, mereka menginginkan keselamatan, kepastian, dan kepedulian lebih daripada orang lain. Saat ini, yang mereka butuhkan adalah pemahaman, bukan kesalahpahaman," lanjut isi artikel tersebut.
Reporter Magang : Roy Ridho
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya