Kontroversi Trump buat muluskan Clinton jadi kandidat presiden?
Merdeka.com - Di dunia politik memang sudah bukan barang baru lagi jika seorang politikus menjadi kutu loncat berpindah dari satu partai ke partai lainnya. Begitu pula yang terjadi di Amerika Serikat.
Perpindahan antar partai itu bahkan merupakan bagian dari kepentingan yang bersangkutan. Politikus A bersekongkol dengan politikus B, diwarnai dengan sejumlah uang dan kekuasaan, untuk memuluskan kemenangan si politikus A. Itu sudah bukan barang aneh di dunia politik.
Bakal calon presiden dari Partai Republik Donald Trump yang belakangan ini menuai banyak kecaman karena komentarnya soal pelarangan imigran muslim, dituding sebagai berbuat itu untuk membantu kemenangan bakal calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton.
Tuduhan itu datang dari rival Trump di Partai Republik, Jeb Bush.
Dalam akun Twitternya, Bush menuding Donald bernegosiasi dengan Clinton untuk memuluskan langkah duduk di Gedung Putih.
Tudingan Bush itu muncul sebagai tanggapan atas cuitan Donald Trump yang mengatakan survei teranyar menyebut dia masih mendapat dukungan 68 persen suara jika dia keluar dari Partai Republik dan maju sebagai calon independen.
Menurut Bush, pernyataan kontroversial Trump selama ini, misalnya soal imigran muslim, perempuan, dan lainnya adalah bagian strategi untuk menjelekkan Partai Republik dan membuat para pemilih beralih menyokong Partai Demokrat dalam pemilu presiden tahun depan.
Bush membeberkan sejumlah bukti untuk memperkuat tudingannya, seperti dilansir koran the Washington Post, Rabu (9/12).
Pertama, kata dia, Trump dulunya adalah anggota Partai Demokrat. Politikus, kata dia, sudah biasa jadi kutu loncat berpindah partai berkali-kali.
Bahkan menurut laporan Gawker Agustus lalu, Trump sudah tiga kali pindah partai selama (mdk/pan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya