Konflik Suriah tidak mereda, Menlu AS mengaku frustasi
Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, mengaku sangat frustasi mengatasi konflik di Suriah yang tidak mereda. Dengan gamblang Kerry mengatakan, selama ada Rusia di belakang Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Pernyataan tersebut disampaikan Kerry dalam pertemuan dengan warga sipil Suriah di sela Sidang Umum PBB pekan lalu.
Dilaporkan CNN, Selasa (4/10), Amerika Serikat seperti kehabisan alasan untuk melakukan agresi militer pada Assad. Dia juga menyayangkan keputusan Kongres AS yang menolak penyerangan ke Suriah kala Assad melancarkan serangan kimia ke wilayah Ghouta dan menewaskan sedikitnya 1.500 orang.
"Intinya Kongres menolak, bahkan untuk mengambil suara yang mengizinkan serangan itu," ucapnya.
Diskusi Kerry dan beberapa warga Suriah ini terjadi usai Rusia dan AS mengumumkan gencatan senjata di Jenewa. Gencatan senjata itu banyak dilanggar Rusia.
Kerry mengumumkan, Assad bahkan telah menempatkan 10 ribu tentara ke wilayah tersebut untuk menyerbu Aleppo.
"Masalahnya Rusia tidak peduli hukum internasional. Kami tidak punya dasar kuat untuk menegakkan gencatan senjata. Hal ini berdasarkan nasihat pengacara kami, kecuali kami memiliki resolusi Dewan Keamanan," sambungnya.
Resolusi DK PBB soal Suriah selalu menuai veto oleh Rusia dan China. November tahun lalu, Rusia memulai intervensi di Suriah atas permintaan Assad.
"Satu-satunya alasan mereka membiarkan kami terbang adalah karena kami mengincar ISIS," kata Kerry.
Menurut Kerry, AS telah melakukan semampunya untuk menghentikan kekerasan di Suriah.
"Kalian boleh marah kepada kami, tapi kami telah mencoba untuk membantu warga Suriah memperjuangkan negara mereka, dan kami telah mengeluarkan banyak uang, banyak sekali upaya," tuturnya.
(mdk/ard)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya