Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah WNI di Zurich 'Terisolasi' Karena Lockdown Corona

Kisah WNI di Zurich 'Terisolasi' Karena Lockdown Corona Ilustrasi virus. ©Shutterstock.com/rosedesigns

Merdeka.com - Kemunculan Virus Corona atau Covid-19 tidak hanya memusingkan pemerintahan Indonesia. Banyak negara di berbagai belahan dunia juga merasakan kondisi yang sama.

Sejak kasus positif diumumkan pertama kali, mayoritas di hari-hari berikutnya temuan terus bertambah. Sayangnya obat penawar virus menyerang sistem pernapasan ini belum juga ditemukan.

Dalam kondisi tak menentu, sejumlah negara memutuskan melakukan lockdown atau karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus tersebut. Semua aktivitas di luar rumah seperti sekolah, bekerja dialihkan dengan sistem online.

Hesti Aryani, warga negara Indonesia (WNI), yang kini tinggal di Kota Zurich, Swiss, menceritakan kondisi negaranya setelah penerapan lockdown. Dia menyebut, masyarakat di Kota Zurich sangat patuh dengan segala imbauan pemerintah dalam rangka mencegah virus Corona.

Dia mencontohkan ketika berada di swalayan untuk mencari kebutuhan sehari-hari. Pembeli benar-benar dikondisikan berjarak minimal 2 meter dengan pembeli lainnya.

"Karena dibatasi tidak boleh lebih dari 50 orang di dalam gedung swalayan dalam satu waktu. Jadi kami harus antre untuk membersihkan tangan dahulu menggunakan sanitizer, baru boleh masuk," kata Hesti. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (1/4).

Di Zurich, katanya, hanya apotek, kantor pos, pom bensin, pasar swalayan yang boleh buka. Pasar swalayan pun hanya melayani penjualan bahan makanan serta kebutuhan sehari-hari seperti sabun.

"Stok barang-barang penting seperti sabun dan hand sanitizer yang dua minggu lalu sempat habis karena orang-orang panic buying, sekarang sudah normal. Stok sudah tersedia kembali," ujar Hesti.

Saat akan membayar barang-barang belanjaan di kasir, pengunjung juga wajib menjaga jarak 2 meter dengan pengunjung lainnya. Sebelum meninggalkan swalayan, pengunjung juga harus membersihkan kembali tangannya menggunakan sanitizer.

Sejak pemerintah Swiss menetapkan pembatasan sosial awal Maret lalu, katanya, kegiatan di ruang-ruang publik terhenti. Warga dianjurkan bekerja dari rumah, kegiatan sekolah dan perkuliahan dilanjutkan secara daring.

Transportasi umum seperti bus dan trem masih beroperasi, namun terlihat sedikit penumpang.

Imbauan agar warga Swiss mempraktikkan gaya hidup bersih dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun, tidak batuk atau bersin sembarangan, dan menjaga jarak fisik dengan orang lain gencar disuarakan pemerintah---termasuk melalui poster-poster yang ditempelkan di apartemen penduduk.

Umumnya, kata Hesti, masyarakat Zurich sangat mematuhi imbauan tersebut untuk mencegah semakin meluasnya penularan Covid-19.

"Di sini orang-orangnya patuh sekali. Karena meskipun muda, sehat, dan imunitasnya kuat, tetapi kita bisa menjadi carrier yang bisa menularkan virus ke orang lain di sekitar kita yang lebih rentan terinfeksi," ujar pengajar Bahasa Indonesia di Universitas Zurich itu.

Pemerintah setempat melalui situs resminya secara rutin menginformasikan perkembangan situasi dan penanganan wabah tersebut. Sehingga masyarakat dapat merespons dengan tepat.

"Overall kami merasa aman karena pemerintah rutin memberikan informasi, dan informasinya pun tidak membuat panik. Langkah-langkah yang harus kami lakukan juga diinformasikan di situ," kata Hesti, yang tinggal di Zurich bersama suami dan putrinya.

Rindu Keceriaan di Taman

Sementara itu di Jenewa, Swiss, warga sudah tidak bisa lagi berjemur atau sekadar menikmati suasana di taman-taman.

"Warga tidak boleh keluar rumah kalau tidak perlu. Berkumpul lebih dari lima orang di luar rumah juga tidak boleh," ujar Sonya Michaella, seorang WNI yang tinggal di Jenewa.

Untuk mencegah agar tidak tertular COVID-19, Sonya dan suaminya sangat disiplin menerapkan perlindungan dan pembersihan diri.

Setelah keluar rumah, ia akan langsung mandi dan mengganti pakaian. Tidak lupa, dia akan mengelap bagian bawah sepatu sesudah dipakai keluar rumah.

"Sejauh ini kami hanya keluar untuk membeli bahan pangan. Itu pun tidak sampai satu jam, paling lama hanya 30 menit," kata Sonya.

Swiss menjadi salah satu negara yang paling terdampak COVID-19. Situs www.worldometers.info/coronavirus/ mencatat jumlah kasus COVID-19 di negara itu per 1 April 2020 mencapai 16.605 kasus positif dengan 433 kematian dan 1.823 sembuh.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP