Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah sulitnya SAR TNI temukan 6 WNI hilang di Nepal

Kisah sulitnya SAR TNI temukan 6 WNI hilang di Nepal Tim Evakuasi WNI di Nepal. ©merdeka.com/ardyan

Merdeka.com - Pemerintah Indonesia terus berupaya mencari warga negara Indonesia di Nepal. Mulai dari Jakarta saja sudah repot, begitu tiba di Nepal, lebih sulit lagi mencari para WNI yang belum dapat dihubungi.

Pemerintah Indonesia berusaha sekuat tenaga mencari para WNI yang hilang. Dari 96 WNI di Nepal, baik yang menetap maupun yang berkunjung atau sekedar mendaki menikmati keindahan alam Pegunungan Everest, masih ada enam WNI yang hilang.

Enam WNI yang masih hilang tersebut adalah Parsiah Majudi, WNI yang sudah menetap lama di Nepal, sementara lima lainnya merupakan pelancong. Mereka adalah Alma Parahita, Kadek Andana, Jeroen Hehuwat, Dewi Pancaringtyas Asih, dan Meliana Tamo Ina.

Pemerintah Indonesia memulai pencarian WNI dari operator seluler mereka, seperti yang dilakukan pada tiga pendaki asal Bandung, Alam, Kadek, dan Jeroen, untuk mengetahui letak koordinat ketiganya sehingga mudah ditemukan.

Tiba di Nepal Kamis pekan lalu, tim pencari dibagi jadi tiga. Tim pertama yang terdiri dari pemimpin tim TNI, Letnan Kolonel (Pnb) Indan Gilang, didampingi Komandan Paskhas dan satu perwakilan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Tim udara ini sempat kesulitan menyewa helikopter militer dan swasta Nepal. Pasalnya, banyak negara lain yang menyewa helikopter tersebut untuk melakukan evakuasi warga mereka juga sehingga pencarian WNI sempat terhambat 24 jam dari jadwal seharusnya.

"Kita akan konfirmasi lagi pakai helikopter ke Kianjin Gompa dan Langtang. Kita upayakan pencarian visual," ujar Kolonel Indan saat ditemui di Kathmandu, Jumat (1/5).

Walaupun begitu, Indan optimis akan ada kemajuan pencarian, karena helikopter fokus menyisir tiga koordinat yang diduga menjadi tempat tiga pendaki asal Bandung.

Tim kedua adalah tiga orang pasukan khusus TNI yang diminta menempuh jalur darat menyisir wilayah Dhunce, Nepal. Kabarnya, mayoritas korban longsoran salju Everest di rujuk ke sana.

Selain tiga anggota pasukan khusus itu, satu pejabat Kemlu dan satu perwakilan Taruna Hiking Club (THC), klub pendaki yang diikuti ketiga orang asal Bandung itu, juga turut dalam tim kedua.

Sementara tim ketiga akan menyisir setiap rumah sakit rujukan di Ibu Kota Kathmandu, terdiri atas TNI dan Kemlu, termasuk Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal Iwan Winata Atmadja.

Kemarin, tim darat mulai melakukan penyisiran di jalur pendakian Everest, dan menemukan jejak tiga pendaki asal Bandung tersebut. Tim yang berangkat dari Kathmandu pada pukul 4 subuh waktu setempat, Sabtu pekan lalu ini tiba di Dhunce pukul 06.47.

Dalam perjalanan itu, ada operator hotel yang mengaku tahu rute tiga pendaki asal Bandung tersebut. Si pengelola penginapan juga memiliki foto terakhir Kadek dan kawan-kawan yang diambil pada 21 April 2015.

"Mereka melihat dan tahu rombongan Kadek menuju ke Dhunce. Foto itu sangat meyakinkan, oleh karena itu kita hire sebagai guide untuk menunjukkan jalan ke tempat itu," kata Iwan.

Lantaran pencarian lewat darat sudah mulai menemukan titik terang, maka pencarian lewat udara dihentikan. Lokasi tiga WNI itu sudah jelas berada di sekitar penginapan Everest, Taman Nasional Langtang, Nepal. Pada saat gempa berkekuatan 7,8 skala richter terjadi, kawasan wisata itu hancur tersapu longsoran salju dan batu.

"Daerahnya sudah diidentifikasi, situasinya sudah diidentifikasi, kita tidak mungkin melakukan lebih dari itu," kata Iwan saat dihubungi di Kathmandu.

Walau menghentikan pencarian udara, Iwan menampik pemerintah menyerah. Tim evakuasi darat masih berada di Dhunce, dekat Langtang, untuk mencari informasi, apakah tiga anggota Taruna Hiking Club itu menjadi korban.

Upaya pencarian darat hingga waktu tak terbatas pun juga dibantu militer Nepal. "Kita akan koordinasi dengan Army Nepal, untuk menitipkan nama-nama WNI yang kita masih cari."

Rumah sakit maupun tempat penampungan korban longsor di seantero Nepal sekaligus terus dihubungi. "Kita akan ke semua kemungkinan tempat yang jadi penampungan, Di tempat koordinasi juga kita titipkan nama-nama itu," kata Iwan.

Letkol (Pnb) Indan Gilang yang ikut tim pencari di helikopter menyatakan kawasan Langtang hancur lebur akibat longsoran batu dan salju. Kawasan Hotel Everest, tempat tiga WNI itu menginap, sulit dijangkau dengan jalan kaki. Helikopter pun mustahil mendarat karena seluruh bangunannya rusak berat.

"Memang kita belum bisa memastikan posisi clear. Tapi yang bisa dikonfirmasi pada tanggal 24 April pagi mereka ada di Hotel Everest, dan berencana menginap semalam lagi," ungkap Indan.

Memasuki hari kelima misi penyelamatan WNI di Nepal, pemerintah berencana mengubah strategi. Pemerintah akan memulangan WNI yang sudah berada di posko WNI di Nepal sejak tiga hari lalu, sementara enam WNI yang belum bisa dihubungi akan terus dicari keberadaannya.

"Yang enam (hilang) harus ditangani dengan setting lain, bukan lagi perlindungan dan evakuasi, tapi harus dalam konteks SAR," tuturnya.

Iwan menjamin pemerintah tidak akan melupakan enam WNI itu. Walau tim gelombang pertama kembali ke Indonesia, dia akan tetap berada di Nepal. Apalagi tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga masih berada di beberapa lokasi terdampak gempa hingga 21 Mei.

Soal apakah nanti enam WNI yang hilang, termasuk di Langtang, harus mendapat bantuan SAR, Iwan menunggu instruksi pemerintah pusat.

"Oleh karena itu pada waktunya kita umumkan what to do next setelah kami mendapat instruksi dari Jakarta."

Susahnya mencari WNI yang hilang di Nepal tentunya membuat keluarga dan masyarakat Indonesia lainnya terus berharap. Semua hanya bisa mendoakan agar mereka dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. (mdk/ard)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP