Kemelut menuju pembaringan terakhir sang Kanselir
Merdeka.com - Sejak wafat pada 16 Juni lalu, jasad mendiang Kanselir Jerman, Helmut Kohl, masih menunggu pembaringan terakhir. Konon rencana pemakamannya justru kusut karena pertikaian keluarga, konflik pribadi, dan drama politik.
Bara pertentangan antar keluarga mencuat ke hadapan ketika ramai orang hendak melayat ke kediaman mendiang Helmut di wilayah Oggersheim. Saat itu, anak lelaki tertuanya, Walter, dari istri pertama, Hannelore, dilarang masuk oleh polisi buat melihat jenazah ayahnya. Padahal dia saat itu ditemani kedua putra-putrinya yang juga cucu Helmut.
Walter sempat cekcok dengan polisi karena dia memaksa masuk. Dia kecewa berat karena tak juga dibolehkan menengok jasad sang ayah, hingga dia bersumpah jenazah Helmut tidak bakal dikubur di samping makam ibunya, di pemakaman keluarga di daerah Ludwigshafen. Ibunya tutup usia karena bunuh diri pada 2001.
Kedua anak Helmut, Walter dan Peter, menginginkan jasad sang ayah bisa diarak terlebih dulu ke Gerbang Brandenburg di Berlin, dengan maksud supaya orang-orang bisa menyampaikan salam perpisahan.
Sepertinya harapan keduanya tidak bakal terkabul, karena istri keduanya, Maike Kohl-Richter, memilih cara lain. Dia menyatakan upacara pemakaman jenazah mendiang suaminya bakal digelar di Parlemen Eropa di Kota Strasbourg, Prancis. Kemudian petinya akan dibawa melalui Sungai Rhine menuju Kota Speyer, di sebelah barat daya Jerman lantas dimakamkan di sebuah kompleks katedral tua.
Alasan Maike adalah hal itu sebagai simbol kecintaan Helmut atas persatuan Eropa, sekaligus penanda akan jalinan persahabatan antara Prancis dan Jerman, yang digagas bersama sohibnya yang juga Presiden Prancis, Francois Mitterand, seperti dilansir dari laman The Guardian, Sabtu (1/7).
Maike yang mendampingi Helmut di sisa hidupnya. Usia keduanya terpaut 34 tahun. Mereka pertama muncul ketika ulang tahun Helmut ke-75 pada 2005, empat tahun setelah istri pertamanya wafat.
Tiga tahun kemudian Maike dan Helmut menikah di musim gugur. Sayang, Helmut tak pernah mengundang kedua anaknya.
Sayangnya, tak lama setelah hubungan keduanya terungkap, hubungan antara Helmut dan kedua anaknya memburuk. Entah apa yang terjadi tetapi nampaknya hal itu melebar. Satu persatu teman dekatnya menjauh. Antara lain manajer kantor Juliane Weber, serta dua sahabat karib sekaligus mantan menterinya, Norbert Blum dan Heiner Geissler. Mereka mengaku tidak lagi dibolehkan datang mengunjungi.
Pengakuan dari mantan sopir pribadi Helmut selama puluhan tahun, Eckhard 'Ecki' Seeber, juga menyedihkan. Suatu hari Maike memanggilnya dan meminta kedua kunci mobil Helmut dan memberi tahu kalau dia dipecat. Padahal Seeber dianggap sebagai orang paling dekat Helmut. Namanya juga tidak ada di dalam daftar tamu acara pemakaman.
Pelbagai perkiraan muncul tentang alasan pengubahan rencana pemakaman Helmut. Konon hal itu juga buat menghindari seteru politiknya hadir. Semasa hidup selepas menjabat sebagai Kanselir, Helmut nampaknya menyimpan dendam terhadap beberapa orang, seperti Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, bahkan sejawat separtai, Angela Merkel.
Setelah lengser, Helmut mengeluh dia merasa tidak dihargai atas jasa-jasanya. Termasuk ketika mengungkapkan kekecewaannya dengan julukan 'Si Buah Pir', diberikan buat menggambarkan bentuk pipi dan wajahnya.
Terhadap Steinmeier, Helmut punya masalah pribadi. Steinmeier adalah orang yang memimpin penyelidikan terhadap Helmut tentang dugaan penyimpangan sumber dana Partai Uni Demokrat Kristen (CDU), tempat dia bernaung, di masa penerusnya, Gerhard Schroder.
Selain Steinmeier, sosok yang dibenci oleh Helmut adalah sejawat separtai kini menjabat Kanselir Jerman, Angela Merkel. Helmut pernah menjadi mentor politik Merkel pada 1990-an. Dia menganggap Merkel sebagai anak kesayangannya di partai itu dan membantunya meraih posisi. Bahkan dia menjulukinya 'Madchen' (Si Perempuan). Namun, ketika akhir masa jabatannya pada 1998, Helmut terbelit skandal keuangan partai dan Merkel menurut dia memilih menjauh lalu mendepaknya dari pucuk pimpinan partai.
Sejak itu hubungan keduanya tak pernah pulih. Helmut lantas menyebut Merkel sebagai 'Jenderal Pengkhianat'. Bahkan Helmut menganggap Merkel sebagai 'Penghancur Eropa-nya' ketika menangani krisis Uni Eropa. Ide Uni Eropa memang digagas oleh Helmut sejak lama. Maka dari itu tidak heran kalau beberapa lawan politik Helmut tak masuk dalam daftar undangan pemakaman.
Kemelut lain setelah wafatnya Helmut adalah soal warisan arsip. Sebab tujuh tahun lalu, dia pernah meminta tolong kepada sebuah yayasan yang juga organisasi sayap CDU supaya bisa membawa pulang sekitar 400 bundel dokumen surat-menyuratnya semasa dia memerintah selama 16 tahun. Alasannya buat penulisan buku.
Kini setelah Helmut wafat, pemerintah Jerman mencoba mendapatkan kembali dokumen itu. Kepala Arsip Nasional Jerman, Michael Hollmann, sudah meminta supaya Maike menyerahkan seluruh dokumen. Sebab, hal itu adalah bagian dari sejarah Jerman dan Eropa dan penting bagi sejarawan. Sebab memang terdapat dokumen yang tidak diketahui nasibnya, yakni di era Helmut termasuk korespondensi dia dan para menterinya pada 1989 yang merupakan masa-masa genting penyatuan Jerman dan keruntuhan Tembok Berlin.
Meski demikian, permintaan itu tidak langsung diluluskan dan berkelok-kelok. Pengacara Helmut, Stephan Holthoff-Pfortner, menyatakan urusan arsip itu bakal diserahkan kepada lembaga perwalian khusus. Sebab, Helmut mengaku tidak pernah menyimpan arsip korespondensinya.
Soal sulitnya memperoleh kembali arsip Helmut juga disampaikan mantan sobat dan eks Menteri Kebudayaan, Bernd Neumann. Dia pernah mengunjungi Helmut beberapa kali sebelum wafat. Sayang kondisinya sudah sulit diajak bicara. Menurut dia dalam pertemuan itu, Helmut cuma mengangguk menuruti saran Maike soal pengurusan arsip.
Meski kini diterpa kemelut, banyak orang yakin jasa-jasa Helmut sudah sangat banyak. Supaya jalannya lancar di akhirat, pihak-pihak yang bertikai harus mengikhlaskan dan mengubur semua perselisihan.
"Bagi banyak orang yang mengalami sulitnya berhubungan dengan dia, semoga Tuhan membuat kita akur dengannya, jika kita tidak sempat rukun semasa dia masih hidup," begitu doa yang terlantun buat Helmut dalam misa di Katedral St. Hedwig.
(mdk/ary)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya