Kekerasan terhadap wartawan meningkat di Sudan
Merdeka.com - Sekitar seratus jurnalis di Ibu Kota Khartum, Sudan, kemarin berunjuk rasa menentang sensor dan pembatasan atas media. "Ini demonstrasi terbesar jurnalis," kata pewarta veteran, Faisal Muhammad Shalih, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (5/7).
Shalih mengatakan berdemonstrasi di depan kantor Komisi Hak Asasi Sudan. Sejumlah agen rahasia pemerintah mengawasi jalannya unjuk rasa dan melarang demonstran mengeluarkan spanduk berisikan keluhan terhadap sensor dan pelecehan kerja jurnalis. "Kami tahu Komisi Hak Asasi Manusia tidak akan melakukan apa-apa. Setidaknya mereka menerima kami dengan baik," ujar Shalih.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengungkapkan masyarakat internasional khawatir meningkatnya sensor dan pembatasan kerja jurnalistik, termasuk penahanan wartawan serta pegiat politik.
Bahkan, sebelum pecah demonstrasi 16 Juni menentang harga tinggi, jurnalis dan pendukung kebebasan pers sudah lebih dulu diintimidasi. Wartawan dilarang menulis, koran disita setelah keluar dari percetakan, dan beberapa kantor media dipaksa menghentikan publikasi.
Kanada dan Inggris membuat pernyataan serupa sejak protes antirezim bergulir. Unjuk rasa ini dipicu kenaikan harga di Sudan dan pasukan keamanan menggerebek kantor berita Prancis AFP serta menahan seorang juru foto lepas. Selain itu, koresponden Bloomberg, Salma El-Wardany, dideportasi ke Mesir setelah menulis berita demonstrasi di negara itu. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya