Kehati-hatian dalam setiap keputusan
Merdeka.com - Jika Amerika Serikat menahan diri lain halnya dengan sekutu mereka di Timur Tengah, Israel. Sejak Mei Negeri Bintang Daud mengaku sudah mempersiapkan diri menyerbu Suriah.
Perang ini sebenarnya bukan ingin menyerbu Suriah namun atas nama penolakan terhadap beberapa kelompok ikut andil dan terjun dalam konflik dua tahun labih itu. Hal ini seperti dilansir stasiun televisi Iran Press TV (23/5), Israel hendak membombardir Hizbullah mendukung pasukan Presiden Basyar al-Assad dan pasukan Al-Qaidah membantu pemberontak.
Hal ini disampaikan langsung komandan militer Israel Mayor Jenderal Amir Eshel. Bahkan rencana pertempuran ini dalam dua skenario besar, menumbangkan Assad dan menguasai Ibu Kota Damaskus sebelum diambil alih pihak Al-Qaidah.
Intervensi barat dan semua sekutunya mendapat dukungan dari banyak negara Timur Tengah lainnya seperti Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Mereka berharap barat dapat menyudahi perang saudara menyebabkan angka korban mendekati 300 ribu orang dan 2,5 juta mengungsi.
Israel tentunya berkoordinasi sangat baik dengan Amerika dalam masalah ini. Itu juga membuat mereka menahan diri. Namun apa lacur, ternyata rakyat Amerika tidak mendukung pemerintahannya ikut campur dalam konflik Suriah terlalu jauh.
Sebuah jajak pendapat dikeluarkan lembaga survei Ipsos bersama Reuters menyatakan penduduk Negara Adidaya itu menentang campur tangan negerinya dalam konflik Suriah, dan percaya Ibu Kota Washington D.C seharusnya tidak perlu terlibat walau ada laporan menyebutkan pemerintah Suriah terbukti menggunakan senjata kimia mematikan demi membunuh warga sipil.
Sekitar 60 persen warga disurvei mengatakan pemerintah tidak perlu ikut campur dalam perang sipil di Suriah. Sementara hanya sembilan persen berpikir bahwa Presiden Barack Hussein Obama harus bertindak.
Beberapa pejabat asing dan Amerika, terutama senator dari Partai Republik, John McCain, menyebut Obama ragu-ragu dalam memutuskan apakah akan bertindak di Suriah. Tetapi beberapa warga Amerika yang disurvei dalam jajak pendapat ini, termasuk Charles Kohls (68 tahun), mantan pejabat militer Amerika dari Maryland, memuji sikap kehati-hatian Obama.
"Amerika seakan menjadi polisi dunia dan kami sudah terlalu banyak terlibat di tempat-tempat yang harusnya menjadi bidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bukan kita," kata Kohs dalam sebuah wawancara. "Saya berpikir kita tidak harus ikut campur di Suriah." (mdk/din)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya