Kasus Covid-19 Kian Melonjak Usai Ledakan di Beirut, RS Lebanon Kewalahan
Merdeka.com - Peningkatan kasus virua corona Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir membuat rumah sakit di Lebanon kelebihan kapasitas. Apalagi pascaledakan pada 4 Agustus lalu di pelabuhan Beirut, jumlah pasien di rumah sakit mencapai rekor baru dan terancam kekurangan tempat untuk merawat pasien.
Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hassan memperingatkan pada Senin, rumah sakit mencapai kapasitas maksimum untuk merawat pasien virus corona baru setelah ledakan mematikan di Beirut membanjiri klinik dan memicu lonjakan kasus Covid-19.
"Rumah sakit umum dan swasta di ibu kota khususnya memiliki kapasitas yang sangat terbatas, baik dalam hal tempat tidur di unit perawatan intensif atau alat bantu pernapasan," jelas Hassan, dalam konferensi pers, dilansir AFP, Selasa (18/8).
"Kami berada di tepi jurang, kami tidak punya banyak waktu," lanjutnya, sembari mendesak pihak berwenang untuk mengambil "keputusan sulit" untuk kembali memberlakukan lockdown selama dua pekan untuk menghentikan penyebaran virus.
Lebanon mencatat lonjakan kasus virus corona dan kematian dalam beberapa pekan terakhir, dan mereka telah mencapai rekor baru setelah ledakan besar yang melanda sebagian besar Kota Beirut pada 4 Agustus.
Bencana tersebut menewaskan 177 orang dan melukai lebih dari 6.500 orang, banyak yang terkena puing-puing yang berjatuhan dan pecahan kaca yang beterbangan.
Ledakan itu memicu kekacauan di rumah sakit Beirut yang sudah dilanda pandemi.
Lebanon melaporkan rekor tertinggi kasus dalam satu hari yaitu 456 infeksi baru pada Senin, sehingga total infeksi menjadi 9.337, termasuk 105 kematian sejak dimulainya wabah pada Februari lalu.
Lockdown yang direncanakan sebelumnya dibatalkan setelah ledakan, yang membuat kota itu porak poranda dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
"Di ibu kota, unit perawatan intensif dan departemen yang didirikan untuk virus corona di rumah sakit umum penuh," kata Hassa kepada radio Voice of Lebanon.
Di sebagian besar rumah sakit swasta yang menerima pasien virus corona, tempat tidur unit perawatan intensif dipenuhi pasien Covid-19.
Puluhan RS Tak Berfungsi
Hassan mengatakan situasi diperburuk setelah beberapa rumah sakit Beirut dilanda ledakan dan dibiarkan "tidak berfungsi".
Pada 12 Agustus, WHO mengatakan lebih dari separuh dari 55 fasilitas perawatan kesehatan yang dievaluasi oleh badan itu "tidak berfungsi", tiga rumah sakit besar tidak beroperasi dan tiga lainnya beroperasi di bawah kapasitas normal.
Menurutnya, kekacauan di Beirut setelah ledakan itu membuat sulit menegakkan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan dan pengendalian pandemi.
"Kemampuan kami untuk mengontrol perilaku dalam menghadapi virus lebih terbatas," ujarnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya